Layung Temaram, Kolektif folk asal Surabaya merilis video single penghantar debut album. Foto : dok.Layung Temaram

Artikel Aggitanee

HujanMusik!, Surabaya – Tak ada folk yang tak retak, barangkali idiom tersebut diawal berkesan dipaksakan. Tapi mau bagaimana lagi, saya sedang miskin diksi untuk menggambarkan dinamika Surabaya yang lekat dengan legenda rock kini mulai rajin mengirimkan talenta folk penuh gizi. Bisa jadi pengetahuan minimalis saya hanya berkutat pada Silampukau yang fenomenal dengan Dosa, Kota & Kenangan. Toh dari sana juga saya mengikuti sekelebat skena folk kota Pahlawan yang berkembang dan mengenal Layung Temaram.

Layung Temaram dengan karakter pop-folk yang enerjik dan menyentuh balutan elektronik bertenaga itu pertama meluncur ke permukaan pada 2016 silam. Kolektif musik yang diperkuat Galang, Riris, Danu, Verin dan Fazar memilih mendefinisikan musik mereka sebagai gelora warna suka-suka. Meski terbenam bersama folk, Layung Temaram mengaku tak membatasi pada satu genre. Pilihan khas band-band era milenia yang gemar membebaskan diri dari kungkungan warna.

Demikianlah, lantas “Pulang Kerumah”, “Bunga Kertas” meluncur menjadi dua karya dengan lirik kuat dan puitis, berbicara mengenai berbagai hal yang terbungkus dibungkus dengan diksi sekedarnya, tak berlebihan bermain-main metafora. Pesan yang mudah untuk langsung dipahami.

Satu tahun, jeda yang terhitung cukup lama dari dirilisnya single pertama oleh band ini yang berjudul “Pulang Rumah”. Dalam rentang waktu yang lama tersebut tampaknya Layung Temaram tidak membuang masa-masa tersebut, terlihat bahwa mereka mengalamibanyak perubahan jika dibandingkan dari single mereka yang pertama, seperti munculnya unsur ambience yang sangat kental, alur musik yang lebih kompleks, serta campur aduk emosi yang kali ini lebih mereka mainkan.

Menggenapi rilisan single “Bunga Kertas” yang meluncur pada 9 Maret 2018 silam, Layung Temaram juga merilis video klip dari single tersebut per 20 Januari 2019. “Bunga Kertas”  adalah track penghantar bagi band finalis Levi’s Band Hunt 2018 itu sebelum menuju perilisan debut album.

Ada kisah duka mengharu biru dibalik perilisan “Bunga Kertas”. Single metafora yang menggambarkan pergulatan seorang gadis kecil bernama Virielda Renanda Widya Prakasita (Elda) yang mengidap penyakit kanker. Tentang ciptaan Tuhan yang begitu cantik dan indah namun juga rapuh pada saat yang bersamaan.

“Bunga Kertas” terasa kental perjuangan emosional yang dirasakan oleh orang-orang di sekelilingnya. Beberapa bulan setelah rilisnya single “Bunga Kertas” Elda menutup usia.

“Bunga Kertas” pada akhirnya menjadi semacam penerus semangat perjuangan Elda, menyesap dan meresap diantara semua penikmat.

(Visited 21 times, 1 visits today)