Tanah, Pacul Pusaka, dan Black Metal

Bvrtan, satu dari sedikit black metal yang memilih berpihak pada buruh dan kaum tani. Gambar Illustrasi : @Graditio

Artikel : Indri Guli

HujanMusik!, Bogor – Tiba-tiba saya diingatkan pada sebuah video klip band black metal bernama Bvrtan dengan judul “Pacul Pusaka dari Pak Kades”. Sungguh judul yang menggelitik. Jujur, saya tidak pernah tertarik dengan genre musik yang satu itu. Terlalu rumit dan sulit diterima oleh telinga yang referensi musiknya terbatas seperti saya. Bagi saya, musik itu yang penting saya bisa ikut menyanyikannya.

Tapi saya menyukai karya apa pun yang memiliki nilai atau pesan yang kuat di dalamnya. Bvrtan ini salah satunya. Pertama kali saya diperkenalkan pada lagu mereka beberapa tahun lalu, kemudian saya mulai mencari dan mendengarkan beberapa lagu dari mereka yang judulnya kurang lebih sama ajaibnya. Tapi sayang, saya tidak bisa menangkap dengan baik lirik yang mereka nyanyikan, jadi saya harus mencari juga liriknya.

Dari 3 album (yang saya temukan), ternyata beberapa lagu mereka dekat dengan kehidupan petani, terutama petani miskin. Selain Pacul Pusaka dari Pak Kades, ada juga Sawah Tebu Terlarang, Musnahlah Panen Raya Tahun Ini Yang Membuat Kami Tidak Bahagia, Koperasi Kegelapan Yang Memonopoli Ekonomi Pedesaan, dan lain-lain. Bahkan, nama mereka Bvrtan pun adalah akronim dari Buruh Tani (mereka konsisten mengganti huruf “u” dengan “v”).

Meskipun (sepertinya) kebanyakan lagu mereka bercerita tentang masa-masa orde baru (bisa dilihat dari tema-tema yang diangkat seperti kelompencapir, repelita, KUD, dan lain sebagainya), namun beberapa kisah dalam lagu mereka rasanya juga relevan dengan kondisi para petani saat ini. Bagaimana mereka ditipu tengkulak, gagal panen, harga pupuk dan bibit yang mahal. Masih begitu kan?
Dua tahun lalu saya masih melihat para petani yang kehidupan ekonominya sulit karena tidak berdaya menguasai pasar. Hidup mereka dikendalikan oleh tengkulak yang tak segan mencekik. Akhir-akhir ini pun masih banyak mendengar kabar dari kawan-kawan di desa yang belum selesai perjuangannya untuk membuat petani berdaya atas ruang hidupnya.

Saya jadi teringat tentang sebuah foto yang pernah saya unggah beberapa tahun lalu di akun facebook saya. Foto sebuah artikel koran dengan judul besar “7.000 HEKTARE PADI KEKERINGAN” dan saya menambahkan caption seperti ini: “Kehidupan semakin berkembang, manusia semakin jauh dengan alam, tidak melihat alam sebagai rumah yang perlu kita pelihara dengan penuh kasih sayang, padahal semua kebutuhan manusia disediakan oleh alam. Kalau sudah begini, bagaimana coba?”

Ada seorang teman yang berkomentar di foto tersebut bahwa kondisi itu tidak perlu dipikirkan terlalu mendalam, malah saya disarankan untuk menikmati saja kondisi sekarang ini. Karena menurutnya, manusia adalah makhluk yang cerdas dan mampu menemukan jalan keluar. Teman saya mencontohkan bahwa dulu petani hanya bisa panen setahun sekali, tapi sekarang bisa berkali-kali dalam setahun, bahkan mungkin saja nanti bisa setiap minggu. Dia menutup dengan kalimat “enjoy aja, nikmati alam selagi masih tersisa”. Saya tidak tahu apakah dia mengatakan itu sebagai sebuah sindiran dan bentuk kekecewaan dan kekhawatiran yang sama dengan saya, atau memang dia menganggapnya persis seperti yang disampaikan melalui tulisan. Tapi saya cukup “terganggu” karena dua orang teman lain mendukung pernyataannya.

Kecerdasan manusia dan apa-apa yang dihasilkannya lah yang saya maksud dalam caption foto di atas. Memang benar bahwa teknologi memudahkan kehidupan manusia, termasuk meningkatkan produktivitas pertanian. Tetapi ada yang luput dari kemajuan tersebut; bahwa alam memiliki cara sendiri untuk berproduksi, bahwa alam sudah “diatur” untuk hidup dan tumbuh secara alamiah. Dengan begitu, ia bisa hidup lebih lama, sehingga bisa menyediakan sumber kehidupan bagi manusia lebih lama dan manusia bisa bertahan lebih lama. Banyak yang tidak menyadari (atau sadar tapi tidak peduli) bahwa peningkatan produktivitas itu mempercepat kematian alam. Belum lagi laju pembangunan di sana-sini yang menggusur lahan dan tanah -yang katanya- demi peningkatan ekonomi.

Dalam proses bertani padi, misalnya, mengapa petani zaman dahulu hanya panen setahun sekali? Karena setelah panen, mereka mengembalikan jerami ke sawah untuk memulihkan tanah dan mengembalikan zat hara pada tanah. Sehingga tanah kembali subur dan siap untuk ditanami kembali dan bisa menghasilkan kualitas padi yang baik. Petani memperlakukan tanah seperti anak mereka yang harus dirawat  dengan segenap hati. Hasilnya? Padi hasil panen mereka bahkan bisa tahan disimpan di dalam lumbung sampai 30 tahun. Tetapi demi tuanku percepatan pendapatan, tanah “dipaksa” untuk terus berproduksi tanpa istirahat, tanpa diberi makan. Pupuk? Tahukah kamu dampak pupuk -yang sangat gencar disarankan kepada petani sejak revolusi hijau pada masa orde baru- terhadap tanah?

Tanah, untuk dapat menumbuhkan tanaman di atasnya, membutuhkan berbagai nutrisi. Sayangnya, pupuk kimia itu miskin nutrisi. Memang benar pupuk tersebut akan mempercepat produksi pertanian, tetapi penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus tidak dapat memulihkan tanah setelah nutrisinya terambil oleh tanaman yang dipanen. Perlahan tapi pasti, tanah akan kering karena kemampuan untuk menyerap air pun berkurang. Jerami yang dahulu dikembalikan lagi ke tanah oleh petani, juga pupuk kompos (yang seharusnya mudah dibuat sendiri), memiliki kemampuan seperti spons yang menyerap air, sehingga ketika tanaman kekurangan air, spons tersebut akan melepaskan air untuk tanaman. Risiko kekeringan lebih kecil daripada penggunaan pupuk kimia.

Dalam lagunya berjudul “Sawah Tebu Terlarang”, Bvrtan membuka dengan kalimat “Wahai hama musuhku, wahai tikus musuhku, betapa mahalnya harga pupuk, tak kuasa membeli bibit”. Kondisi ini menimpa banyak sekali petani di Indonesia. Mengapa? Karena berpuluh-puluh tahun lamanya petani didoktrin untuk membeli benih dan pupuk atas nama teknologi; bahwa teknologi mampu menghasilkan benih lebih baik. Petani dijauhkan dari hubungan intimnya dengan tanah. Petani dibuat lupa untuk memelihara berbagai kehidupan yang ada di alam. Prinsip pertanian yang tadinya “menghidupkan”, diubah menjadi “pembunuhan”, bahwa hama harus dimatikan. Padahal benih yang harus dibeli itu, sepaket pula harus dibeli dengan pupuk, pestisida, fungisida, dan lain sebagainya yang sebenarnya secara alamiah sudah tersedia di alam. Perlahan tapi pasti, petani dibuat percaya bahwa mereka tidak mampu untuk menghasilkan benih sendiri, bahwa mereka tidak bisa hidup tanpa pupuk, pestisida, dan fungisida kimia, bahwa mereka bisa mendapat penghasilan yang cepat (kemudian ditipu tengkulak). Apa yang terjadi? Miskin.

Lalu pemerintah bergurau soal kedaulatan pangan. Kedaulatan pangan yang seharusnya menjadi wilayah paling lokal dimana petani dibuat berdaya untuk menghasilkan berbagai jenis pangan yang tumbuh di tanahnya, justru semakin menjauhkan petani dari tanahnya. Pertanian lagi-lagi dikapitalisasi dan menguntungkan pihak-pihak tertentu. Petani? Tetap miskin.

Begitulah, kecerdasan (segelintir) manusia itu berhasil membodohi manusia lainnya. Dan kecerdasan (segelintir) manusia itu berhasil membuat (segerombolan) manusia lainnya jadi pemalas. Lihatlah bagaimana kita menjadi manusia yang menuhankan kepraktisan demi efektivitas dan efisiensi. Dan kita sudah terlatih untuk tidak peduli terhadap kondisi sekitar.

Tahun 2018 lalu, Bvrtan kembali menelurkan album setelah 6 tahun sejak album kedua mereka. Album berjudul Gagak Panchakrisna ini berisi lima lagu yang masih menyuarakan nasib para petani. Meskipun musisi black metal asal Sukatani, Depok, ini juga menyelipkan sedikit kegelisahan sebagai anak band yang sulit punya masa depan, bahkan bisa dibuang ibu mertua.

Jika biasanya black metal identik dengan tema kegelapan seperti kematian, satanisme, dan sebagainya, Bvrtan justru konsisten mengangkat isu sosial di dalam karyanya. Satu yang saya bisa lihat dari Bvrtan; tetaplah gelisah, tetaplah berkarya. Apa pun bentuknya, sebaik-baiknya karya adalah yang berpengaruh terhadap kehidupan. Serumit black metal sekalipun.

[Penulis adalah Penyintas Rindu, Penikmat Sore dan Pengagum Kehidupan]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *