HLMN, Pengusung Rock Aroma Punk dari Perbatasan Bogor

HLMN kolektif musik punk rock Bogor yang lahir dari jalur perbatasan. Kini tengah mempersiapkan debut album “Bangkit Bersinar”. Foto : dok.HLMN

Artikel : Anggitanee

HujanMusik!, Bogor – Video musik itu masih menyisakan distorsi belum tuntas berhenti, lengkingan gitar-pun belum genap menyelesaikan fase fade out. Sementara getaran simbal penutup lagu masih terngiang-ngiang tipis. Sejurus kemudian saya merasa perlu buru-buru mengulangnya dari awal. Menikmati atraksi lincah tiga punggawa pengusung rock dengan aroma punk dari perbatasan. Mereka adalah punk rock bernama HLMN.

Sebagai sesama warga kota pinggiran, menemukan kolektif kreatif se-humble HLMN bak berjumpa santapan siang menggoda dengan bekal sambal gandaria. Antusias dan begitu menarik minat. Gerilya gerakan yang mereka kobarkan di jalur selatan Bogor telah tumbuh sejak mereka berbaju anak SMA. Hiruk pikuk truk tangki air yang melintas menjadi keseharian mereka mengenal kerasnya hidup. Menggerung dan bergemuruh sebagaimana musik mereka.

Mendung sedikit menutup pencerahan langit, seorang Reiza Jovie Pahlevi terlihat sibuk dengan perangkat komputer pesanan customer-nya. Sementara Calvar terdeteksi tengah terjebak kemacetan kota disekitar Kebun Raya. Berdua bersama 2 kolega lainnya, saya dan mereka memang berencana berjumpa di Taman Kencana. Sebuah taman yang sarat cerita aksi-aksi skena kota, sebelum venue acara menjadi serba terbatas.

Calvar membuka kesaksian bagaimana HLMN berjuang ditengah keterbatasan, memilih memainkan Rock Alternatif dengan warna Punk sebagai jatidiri. Kesukaannya mendengar Ramones, Noise for A Name, Nirvana, Iwan Fals dan The Clash menjadi perekat menuju musik mereka saat ini. Pun demikian halnya Jovie, menambahkan Rufio, Topi Jerami, Blink 182, Foo Fighter dan The Used dalam list band kesukaannya. Sementara Kabow selain hal-hal yang sudah disebutkan koleganya memilih SID dan Green Day sebagai sound keseharian.

Awalnya adalah kawanan Calvar (gitas/vokal), Dogol (gitar), Kabow (bass/vokal) dan Jovi (drum) yang memilih berontak dan memiliki ambisi serta tujuan yang sama.

Barangkali kerasnya lintas Cigombong, jalur selatan perbatasan Bogor-Sukabumi mendidik meraka untuk tidak mudah menyerah. Lantas terpilihlah jalur Punk Rock / Alternative sebagai kekuatan, hingga pada 2013 mereka mendirikan HEROES OF OVER.

Sayangnya pintasan mereka terkendala pada tahun kedua. Yaitu dengan keluarnya Dogol dari formasi, sesaat setelah dirilisnya Extended Play (EP) perdana. Sedikit terkendala tapi tak menurunkan kadar cita-cita untuk bertahan. Lantas 2015 dipilihlah HALIMUN sebagai identitas baru.

Sebuah identitas yang merepresentasikan asal-usul mereka yang tumbuh dan berkembang dari kaki gunung Halimun-Salak. Meski terkesan lebih layak menyandang nama Halimun, toh lagi-lagi mereka harus mengalah untuk sebuah sebutan, memilih menyandang HLMN yang lekat hingga kini. Pilihan logis yang bukan tanpa sebab, sebutan Halimun memang telah beredar untuk unit pop asal Yogyakarta.

Jika identitas punk ditandai dengan pergerakan D.I.Y, proses kreatif yang dilakukan HLMN bisa jadi masuk salah satu kriteria. Tak mudah menemukan panggung disekitar pergaulan mereka, pada akhirnya menumbuhkan semangat untuk menciptakannya. Rentang 2009 hingga 2018 kemarin bisa jadi usaha keras mereka bertahan dengan segala keterbatasan.

Munculnya karya dalam bentuk EP saat menggunakan nama lama menjadi pembuktian bahwa mereka telah menempuh berbagai macam cara untuk menemukan jalannya. Termasuk rekaman rumahan yang mereka selesaikan di sebuah warung kelontong. Jalan terjal yang akhirnya membimbing mereka menyebar ke lingkaran yang lebih luas. Terhubung dan akan betrus berusaha saling menguatkan antar skena.

Nomor “Lawan” menjadi daya pikat pertama, aroma punk rock yang menghentak dengan sajian crowd mendominasi.

Menyisakan 3 personil membuat HLMN tetap solid dan konsisten bermusik. Lembaran baru perubahan dan secara konstan menyerap kerisauan-kerisauan dalam berbagai aspek kehidupan personal maupun isu sosial dan lingkungan untuk materi dalam berkarya.

Saat ini HLMN tengah serius mempersiapkan debut album “Bangkit Bersinar”. Keseriusan yang ditandai dengan rilisan nomor andalan ‘Escape’ dalam format video klip per 12 Januari 2019 silam.

Melalui ‘Escape’ HLMN ingin menyapa dunia bahwa mereka tetap bersuara. Suara tentang kenyataan hidup manusia yang tidak akan pernah bisa lepas dari sejuta masalah. Makna Escape diartikan sebagai tindakan yang pada umumnya dilakukan oleh setiap insan ketika menyadari terlahir dari keadaan serba kekurangan.

“Escape” membawa semangat dan keyakinan bahwa masalah bukan hal yang harus dihindari namun untuk dihadapi. HLMN mencoba merangkum salah satu sisi kehidupan ini dengan cara sederhana namun penuh energi.

Video klip berdurasi 4 menit 1 detik ini menampilkan profil HLMN sebagai kolektif musik dengan setting lokasi Taman Corat-Coret Bogor dan Parking Hall Bens Stadium. Perekaman dilakukan oleh Ilham Andreas dan Agunglyn. Sementara publishing dikomandoi IMAHLUHUR Production.

Sungguh beruntung. HLMN memiliki deretan anggota tim yang secara baik mendukung pergerakan mereka yang tak hanya dalam konteks band dan musik. Secara bersama-sama mereka juga menggagas aksi-aksi simpatik anak muda positif, meningkahi kerisauan pembangunan urban yang berdampak pada kehidupan sosial kemasyarakatan. Membangun skena lokal apapun kondisinya, memilih tetap dikenal sebagai anak Cigombong Bogor, dimanapun mereka berkarya nantinya.

Tak ada tanda kata yang tepat untuk melukiskan pergerakan meraka. Saya memilih merangkum dalam kalimat “teruslah berkembang dan tetap mengakar”.

Maju terus HLMN.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *