Fiersa Besari, vokalis asal Bandung yang dielu-elukan massa muda. Foto : Graditio

Artikel : Rizza Hujan

HujanMusik!, Bogor – Saat ini saya ingin menjadi manusia angkuh nan jumawa layaknya warganet budiman yang tengah mengomentari satu unggahan menggelitik di media sosial. Menduplikasi mentalitas generasi Z yang merasa paling banyak tahu tentang apapun. Tapi bukankah selama ini kru HujanMusik! memang seperti itu? awam tapi sok tahu, dermawan tapi angkuh, rendah hati tapi dibenci banyak orang. Ah betapa menyenangkan hidup kami.

Dan dengan rasa congkak yang melewati takaran saya memulai menulis artikel ini.

Hari minggu lalu (06/01/2019), sebuah kolektif mahasiswa Universitas Telkom, Bandung yang menamakan dirinya Family of Raincity atau Forcy menggelar ajang tahunan mereka yaitu “Try Out SMB Telkom University” di GOR Pajajaran, gelanggang olahraga paling hits se-kota Bogor. Sebuah gerakan kekinian yang bertujuan untuk mempromosikan kampus dan merekrut peminat sebanyak-banyaknya. Dan faktanya memang sangat banyak peserta uji coba di hari itu.

Jam 08:30 uji coba yang diikuti kurang lebih 1600 siswa tingkat SMA dari berbagai sekolah ini dimulai. Syukur tidak terjadi kekacauan apapun seperti mencontek atau kecurangan lainnya. Semuanya tampak khusyu mengerjakan soal dan menikmati hamparan masa depan yang tergeletak di depan muka.

Uji coba selesai, kegiatan dilanjutkan dengan penampilan beberapa pengisi acara. Band, perkusi, dan tarian menghiasi siang yang panas. Sayang, saat mereka tampil saya dan Graditio tengah belajar melempar pisau bersama komunitas Bogor Flying Blade. Setelah makan siang, kami masuk kembali ke hall basket yang menjadi venue acara dan sekitar pukul 13:00, rundown kembali dibuka, kegiatan dilanjutkan.

Kemarin itu saya ingin melepas rindu dengan Pidi Baiq. Kenalan lama, panutan, sekaligus Haji terfavorit se-Buah Batu, Bandung, yang jadi pembicara dalam sesi sharing. Namun keinginan itu menemui jalan buntu karena permintaan saya untuk mewawancara pidi ditolak oleh panitia dengan alasan manusia yang akrab dipanggil Ayah itu ingin buru-buru pulang. Untungnya strategi gerilya temuan Syahrir tengah merasuki diri. Saya terobos barikade guna menemui pidi di samping panggung dan akhirnya bisa berbincang dengannya walau sekejap.

Tidak lama, pidi pun merangsek ke depan guna menemui penggemarnya yang saat itu duduk rapi di lantai. Seperti biasa, pidi bicara kesana-sini seolah tanpa arah. Namun jika dikaji secara mendalam sebetulnya celotehan pidi memiliki makna lebih dari sekedar yang terdengar. Baru sekitar lima belas menit pidi meracau, Bima Arya, walikota bogor datang dan ikut menjadi narasumber. Saya pribadi sedikit menyesalkan kejadian ini karena setelah bima bergabung, pidi lebih banyak diam. Lalu tiba-tiba sesi tersebut berakhir. Hujan pun turun dengan deras, seolah mendukung suasana hati pidi yang terasa sunyi, sikapnya pun tidak ceria dan bersemangat seperti biasanya.

Setelah sesi sharing yang ‘kentang’ itu, Fiersa Besari bersama Kerabat Kerja memenuhi panggilan penonton yang mulai kepanasan kembali. Saya terkejut dengan antusiasme para penonton muda yang ada disana. Mereka berteriak secara konstan, memanggil-manggil nama fiersa. Vokalis asal bandung itu pun segera memulai ceramah di hadapan jamaahnya. Ya, fiersa ini ibarat seorang pemimpin sebuah sekte yang terus dieluk-elukan dan wajib diikuti segala perintahnya.

Lagu pertama, fiersa out of tune, takkuasa mengontrol suara agar selaras dengan musik. Mungkin pemanasan. Dan memang terbukti di lagu selanjutnya dia bisa bernyanyi dengan baik. Walau menurut saya penampilan musisi yang juga penulis ini tidak terlalu istimewa. Sayang, saya tidak begitu tahu karya-karyanya hingga tidak bisa bergabung dengan koor penonton yang fasih mengucap semua lirik lagu fiersa.

Buat saya, Fiersa Besari X Kerabat Kerja adalah foreplay manis sebelum mencapai klimaks, jalan setapak menuju puncak. Tidak terlalu indah namun lumayan menyejukkan.

Kepuasan duniawi calon-calon mahasiswa yang mendominasi kerumunan penonton mencapai puncaknya saat Naif memainkan lagu-lagu yang begitu familiar di telinga. Saya sendiri merasa dekat dengan karya mereka, hingga secara tidak sadar saya ikut bernyanyi.

Kolektif Naif dari orde sebelum reformasi meramaikan hiburan Grab It Fast 2019. Foto : Graditio

Naif yang saya kenal punya frontman jenaka dan liar. Tapi kemarin, David Bayu, tampak tenang dan tidak terlalu banyak mengeluarkan candaan nakal yang menjadi ciri khasnya. Mungkin karena penontonnya mayoritas pelajar, pikir saya. Piknik72, Air dan Api, Posessif dan sederet lagu jagoan milik band jebolan IKJ ini membuat penonton tidak berhenti bernyanyi. Terutama saat mereka membawakan Benci Untuk Mencinta dan Karena Kamu Cuma Satu. Tidak ada satu pun penonton yang diam, semua mengikuti david bersenandung. Tambahan cahaya telepon seluler di sekeliling hal basket ikut meromantiskan konser Naif.

David selalu bernyanyi dengan hati. Soal suara jangan ditanya, selalu merdu. Dia sangat dominan dan memang seorang entertainer sejati. Tapi semua kelakuannya diatas panggung tidak membuat personel yang lain terlupakan. Kebutuhan sebuah band besar memang sampai se-detail itu. Naif adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

Secara keseluruhan Grab It Fast 2019 dipersiapkan dengan cukup baik. Panitia bekerja sesuai dengan tugasnya masing-masing. Dan panggung ini bisa saya bilang yang terbaik selama saya di HujanMusik!.

Lalu dimana letak sombongnya saya kali ini? Ah bukankah sarkasme juga merupakan bagian takterpisahkan dari warganet yang budiman?!.

(Visited 8 times, 1 visits today)