“Pride And Power” Waktu Tempuh untuk Karya Penuh SPRM

Penampilan enerjik SPRM pada peluncuran album “Pride And Power di Bogor. Foto : dok. SPRM

Artikel : Anggitanee

HujanMusik!, Bogor – Siang beranjak menuju petang di Sabtu, 8 Desember 2018. Sementara langit Bogor masih seperti sediakala, penuh gemuruh air tercurah menuju daratan bak menarik arsiran garis lurus vertikal. Satu tarikan yang sama dengan frekuansi gemuruh pesta peluncuran album “Pride And Power” milik Spread Positive Rage Movement a.k.a SPRM, unit Nu Metal gahar yang saya kenal di kota Bogor.

Secara khusus saya dan rekan Graditio sengaja memberi tanda tebal agenda minggu kedua Desember 2018 guna menyambangi arena lantai empat Tajur Trade Mall, lokasi ZOOM yang menjadi venue kawanan Sandy (vokal), Etet (Gitar), Buyung (Gitar+Sampling), Shihab (Bass) dan Ade (drum), menggelar pesta peluncuran album “Pride And Power”. Album perdana yang menjadi penanda eksistensi karya mereka sejak single “Year of Down” dirilis tahun lalu.

Tak sulit menemukan hingar bingar acara yang turut diramaikan kolega satu kota itu. Jalan Tajur Bogor yang rawan tersendat sukses kami tembus dengan segala cara. Titik temu parkiran kendaraan cukup mudah ditemukan. Backdrop acara yang menghadang dari depan lift lantai bawah, seolah mewakili rona kebanggaan. Pun demikian crowd dan musisi yang hilir mudik menunggu giliran tampil.

Sebagai band ‘keras’ yang keluar dari cangkang komunitas, SPRM menjadi satu dari sekian unit musik indie yang bangga dengan identitas karyanya. Barangkali kata kunci karya juga yang menjadi ikatan perkawanan musisi yang tampil saling dukung. Sebut saja Rockerkasarunk, Rasvala, Angel of Death, My Beloved Enemy, BRTWB, Daldeldolrock, Topi Jerami, Predator, Superiots dan Infamy.

Sedikit menyesal terlambat dari waktu penuh, MC Vikri Rasta sudah menyebut 3 nama penampil sebelum SPRM keluar kandang. Berbeda dengan suasana parkir bawah, venue cenderung pelit pencahayaan kecuali bilik panggung tentunya. Gemelitik gelas beradu sentuh dengan botol meningkahi raungan distorsi penuh.

Graditio memberi kode untuk sejenak menepi, mengikuti arah langkah menyelinap ke arah belakang panggung. Sandy adalah personil SPRM yang pertama menyapa, diikuti setelahnya Buyung dan Etet yang bertanya kabar Husni Mubabrock, salah satu official team HujanMusik! lainnya. Sementara Shihab dan Ade cenderung datar, namun berusaha keras untuk ramah.

Lantas mengalirlah cerita tentang “Pride And Power”, album perdana yang menjadi juru kunci atraksi rock malam itu.

“Pride bermakna kebanggaan, kebangaan kita sebagai musisi. Kita punya karya dan kita punya album. Sedangkan Power-nya ada pada sound dan materi musik yang power full sebagai curahan energi, kemarahan, keresahan sosial yang kita suarakan melalui musik dan lirik dengan cara yang positif” jelas Sandy diplomatis.

Dalam “Pride And Power” SPRM menggulirkan 9 track yang terdiri dari 1 intro dan 8 lagu. Semua materi liriknya ditulis dalam bahasa Inggris, bukti bahwa mereka siap mengudara lebih tinggi. Buah perjuangan setelah menempuh waktu penggarapan album perdana yang lumayan ketat dan menguras energi, utamanya waktu produksi mixing dan mastering. Proses panjang sejak Februari hingga Oktober 2018.

Jika musisi mapan kebanyakan sempat ramai menggulirkan album di gerai cepat saji, SPRM memilih kolaborasi dengan Strong Brave Attitude, brand Pomade lokal Bogor yang memiliki distribusi hingga Eropa dan Amerika.

“Mudah-mudahan kita bisa tour ke luar negeri seperti band-band senior kita. Karena itulah impian anak band setelah bikin album. Karya kita didengar dan bisa mendatangi langsung pendengar kita,” tambah Sandy.

Waktu sementara menunjuk angka lewat 21.00 WIB. Sembari menunggu tampilan utama, saya cukup terhibur dengan polah MC Vikri yang terlihat sibuk mengisi jeda sesaat sebelum SPRM tampil. Siapa saja yang dikenalnya sudah pasti kena daulat naik keatas panggung.

Kode panggung telah tersedia, sesaat hening, semua mata menatap tampilan visual yang digarap @bengkeltigadanempat. Seperti memburu ufuk, 4 personil SPRM telah bersiap dengan gear masing-masing, lantas mengalirlah “Intro” sebagai repertoar pembuka.

Belum usai raungan gitar Etet memungkasi intro, vokalis Sandy muncul dari sisi panggung, lantas menancap bersama “Wall of Silence” dan “Under Attack”.

Dialog sekenanya menyisip hangat meski taburan rock dan metal ramai menggema sejak acara dibuka. Sejurus kemudian nomor andalan “Pride And Power” diluncurkan. Menyusul “Edge of Life”, “Nobody Knows”, “Wake Up”, “Fight” dan digenapi oleh “Year of A Down”.

Penahbisan “Pride And Power” sebagai jejak karya penuh pertama SPRM memang usai malam itu. Setelahnya ada rangkaian roadshow padat yang harus mereka tempuh. Semuanya demi karya yang bersuara lebih jauh.

Selamat mengudara SPRM !!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *