Alternative Rock-Grunge Bias dalam 24 Karat

Bias, alternative rock-grunge dari Jogja. Selepas EP Basabasi rilis Demo Tracks, dan Live Studio Session. Foto : Wildan Hadi Fernando.

Artikel : Anggitane

HujanMusik!, Jogjakarta – Suhu lokal tengah genap menuju lebih dari 37 derajat celcius, hujan tampaknya tak efektif meredam gerah udara yang melanda. Sepertinya pancaran sinar matahari berikut radiasinya sedang puncak-puncaknya menuju optimum. Sementara tingkat derajat suhu tubuh kian tak menentu dengan monitor menyala yang menampakkan video musik “24 Karat”, nomor alternative rock-grunge milik Bias yang masuk redaksi beberapa waktu lalu.

Tak ada hubungan memang, antara kanal musik dengan suhu udara, selain memutar musik berisik dikala gerah adalah sebuah anomali aksi. Pun sama halnya dengan jagat grunge lokal yang menebar kemana-mana. Posisi mereka pada skena lokal memang tak pernah mau senyap, kecil namun menginfeksi.

“24 Karat” dan “Koboi” adalah segelintir tawaran konten audio visual yang dirilis kawanan Bias dari Jogjakarta. Bias yang bermakna ketidak jelasan dan cenderung berbelok arah, dipilih Agung Gabres, Bili Bilay dan Rudi Anduk sebagai capaian visinya. Pilihan Alternative Rock-Grunge barangkali langkah ideal untuk mereka, mengingat latar belakang dan minat musik yang berbeda-beda. Mereka sepertinya hendak membuktikan bahwa proses karya-karyanya adalah tak terbatas.

Alternative memiliki cakupan yang luas dan Grunge kaya akan simbol berontak. Ekspresikan lagu-lagu yang Bias ciptakan menandai ada bagian dimana alunan vokal cenderung melodik, riff gitar yang manis, gebukan drum yang sekedar mengiringi, dan bass yang menegaskan nada dan pondasi lagu. Meski demikian banyak juga bagian di lagu yang cenderung Grunge mengarah ke Metal dengan teriakan vocal, riff gitar dengan distorsi padat, drum yang menghentak dan berat. Tantangannya adalah bagaimana menjembatani 2 gaya musik yang berbeda tersebut dalam sebuah lagu dan masih memenuhi kebutuhan estetika pendengar.

Selepas Extended Play (EP) Basabasi yang mereka rilis setahun lalu (Oktober 2017), buntut ‘rusuh’ setelahnya mereka unggah dalam bentuk video Live Studio Session, diluar official video yang sudah ada. Mereka merasa perlu ‘rusuh’ di arena perang konten audio-visual dengan target korban sebanyak-banyaknya. Bahkan diluar EP mereka juga menelurkan beberapa demo track gahar pada pertengahan 2018. Nomor-nomor kencang yang pantas ditebarkan.

Dalam rilis yang mereka kirim, klaim soal “Demo Tracks” yang direspon positif kawan-kawannya di skena Jogja, mau tak mau harus saya amini. “Lulabi”, “Overdosis Visual” dan “Selir Pemberontak” adalah sebagian yang sudah bisa dinikmati via platform Bandcamp.

Wujud rock, grunge dan metal tampaknya benar-benar mereka jejak-kan. Tak hanya pilihan musik, lirik dan makna lagu mereka buat sarat dengan pembelaan.

“Lulabi” melagukan rasa frustasi seseorang yang merindukan lelap dan tenangnya tidur malam ditengah hiruk pikuknya keseharian yang menyesakkan. “Overdosis Visual” secara perlahan menjabarkan potensi destruktif dan semu-nya kehidupan dunia maya yang sudah dan akan tetap menjadi epidemik jika manusia kerap mengabaikan perspektif yang sehat. Sedangkan “Selir Pemberontak” bercerita soal mengeluh, mengadu, merindukan kesetaraan dan perlakuan manusiawi yang seharusnya didapatkan oleh para korban kekerasan seksual yang akhirnya berteriak, memberontak, dan melawan.

Khusus bagian “Koboi” dan “24 Karat” yang mereka angkat dalam Live Studio Session di Jogja Audio School, adalah representasi kesesatan, keragaman, dan dinamika audio ala Bias. Dikemas dengan visual yang frontal, sinematik, dengan permainan warna yang nakal.

“Koboi” terinspirasi dari film The Unforgiven (1992) yang diarahkan dan diperankan oleh Clint Eastwood. “24 Karat” menjadi wujud kekesalan dan kebosanan terhadap siaran televisi yang penuh dengan sajian kriminal khususnya korupsi, konten jualan birahi, jualan drama, yang seolah tidak sadar bahwa mereka bertanggung jawab atas bobroknya moral penonton.

Barangkali saya salah satu bagian dari penonton dengan moral yang bobrok itu. Tak ada pilihan kualitas tayangan nasional diantara iklan. Kadang diarahkan pada jalur kabel yang tak kuat lihat tagihan. Kalau sudah begini kita bisa apa ?, perlawanan efektif adalah kuasa remot dan matikan layar.

Pada akhirnya “24 Karat” mengingatkan saya pada kenyataan bahwa gelombang udara nyata-nyata milik swasta. Yang tersisa untuk publik tinggal youtube semata, itu pun harus jeli memilah tayangan kreatif, berguna nan menghibur. Salah-salah bisa terjebak tayangan abal-abal nir etika atas nama rating dalam bentuk viewer dan subscriber.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *