Roadblock Rilis “Nekropolis”, Kontaminasi Ska/Punk dari Palembang

Roadblock, unit ska/punk Palembang yang melepas debut mini album, September 2018 lalu. Foto : Youth Generator

Artikel : Anggitane

HujanMusik!, Palembang – Asap rokok membumbung memenuhi ruangan. Sela-sela ruang nyaris tak tampak karena pekatnya suasana bertumpuk asap. Panggung yang tak seberapa luasnya itupun penuh. Pogo-moshing tak beraturan, gelak tawa canda crowd tak lelah memekik riang. Sementara sudut-sudut ruang dipenuhi penikmat musik yang masih malu-malu unjuk gigi, meski jemari mereka samar seperti menggenggam botol gelap.

Demikianlah fenomena umum saksi mata pertunjukan independen dengan menu Ska/Punk didalamnya. Paling tidak seperti panggung terakhir saya menyimak Bombom Car di Bogor awal November lalu.

Kini telinga saya tengah mencoba membayangkan senikmat apa suasana corwd saat Roadblock, unit Ska/Punk ibukota Sumatra Selatan, merilis lagu-lagunya dalam satu panggung. Saya tidak sedang berusaha membandingkan, hanya menyusuri kenyataan menyimak debut mini album Roadblock bertajuk “Nekropolis”, 10 hari setelah menyaksikan moshing-pogo secara nyata. Suasana yang pernah saya dapatkan beberapa tahun silam.

September 2018 dalam kalender angka 14, Roadblock asal Palembang mencoba mengusik publik dengan mini album. Jejak terusan setelah single perdana “Give Up” dirilis pada perayaan Record Store Day 2017 Palembang, April 2017 silam. Kali ini Sandi Pratama (Gitar/Vokal), Supriyadi (Bass) dan Bagas Putra (Drum) menempatkan 6 lagu mereka bersama Youth Generator, label kecil nan independen dari Kota Palembang.

Sebagai sebuah band perjuangan yang terbentuk paska perpecahan band semasa SMA pada 2013. Roadblock memang memiliki gairah muda yang mengidentifikasi bahwa mereka terkontaminasi ska/punk. Referensi Operation Ivy, Rancid, Leftover Crack dan The Interrupters menjadi simbol sah bahwa mereka ska/punk, diluar kostum panggung putih garis-garis hitam.

Dominasi fitur tempo cepat, distorsi gitar, ketukan punk rock dengan selingan padu vokal nan nge-punk, menjadi pilihan tanpa seksi tiup maupun keyboard. Dua instrumen terakhir yang lekat dengan ska. Barangkali Roadblock tengah merintis jalan menyajikan Amerika era 1990-an. Masa indah punk, rock, reggae dan ska diterima sebagai salah satu genre musik oleh publik sana. Masa-masa indah dengan band keren seperti Rancid, Sublime, The Mighty Mighty Bosstones, Less Than Jake, Save Ferris dan banyak lainnya. Band-band yang banyak mempengaruhi beberapa band-band ska dunia setelahnya.

Civer Artwork “Nekropolis” oleh Naufal Fauzan

Debut mini album “Nekropolis” memang tak neko-neko. Mereka tampil cepat dengan pembuka “Give Up”. Sesi lagu sebagaimana digambarkan dalam media rilis mereka sebagai seseorang yang telah menyerah akan sifat dan suasana yang tidak dapat dimenangkan lagi, dan tak pernah mendapatkan jalan keluar.

Dilanjutkan “Traveling Suits” soal kritik mereka soal attitude berbusana. Lantas meliuk dengan Ska tempo cepat “Liberty” yang menyuarakan tentang kebebasan, Beat berikutnya menampikan “Little Boy Brawl”, soal remaja belum genap 17 tahun yang lebih dekat dengan kekerasan. Sementara bagian “Nekropolis” dan “Pedophilia” didapuk sebagai penutup untuk predator-predator pelecehan seksual terhadap anak-anak di bawah umur.

Apapun itu, Roadblock tampaknya menjadi band kesekian yang meramaikan jagad ska dengan rilisan karya seturut usia para personilnya. Saya berharap suara karya mereka muncul lebih banyak dan banyak lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *