“Deep Sea” dari Kedalaman Rasa Mery Celeste

Mery Celeste, unit indie rock Bogor. September 2018 ini mereka merilis single anyar “Deep Sea:.

Artikel : Anggitanee

HujanMusik!, Bogor – Derik malam tengah menggelepar, merayap bangkit dan berpegangan pada tiang mimpi yang tak kunjung datang. Saya tengah ditemani temaram lampu yang tak utuh saat berusaha menyelesaikan satu manuskrip senyap. Merapal beberapa tangga kata yang menolak tuntas. Sekelebat tampak seperti “Deep Sea”, lukisan nada keluaran unit indie rock Bogor, Mery Celeste.

Rifqi Danu (Vokal), Intan Descenika (Gitar) Rasit (Gitar), Iqbal (Drum) dan Ahmad (Bass) tampaknya sukses menarik skenario masa inkubasi sanubari. Saya seperti dihujam dan ditunjukan pada sebuah keadaan, saat seseorang sudah berusaha menggapai tujuan, namun tak kunjung mendapatkan apa yang ia harapkan. Sudah melakukan yang menurutnya sudah benar, justru tujuan tersebut berbalik menjauh. Mereka menggambarkan hal tersebut seperti dalamnya lautan yang tak tahu dimana dasarnya.

Demikianlah, Mery Celeste yang saya kenali seperti cermin masa lalu yang menuju purnama. Sama seperti halnya penamaan kolektif mereka yang merujuk pada misteri bahari terbesar sepanjang masa. Nama dengan arti khusus bahwa musik mereka menggaung seluas samudra. Seperti halnya rilisan single “Orange” (2014), “Sham” (2015), “Weary”, “Snarl”, “2K”, dan “Feather” (2018), yang hingga kini terus menghempas bak ombak Samudra Hindia.

“Deep Sea” terbungkus dalam aransmen yang lebih terang dari lagu-lagu pada Extended Play bertajuk Sensum diawal tahun. Komposisi sederhana dengan mengarus utamakan ritmik gitar yang catchy juga ketukan drum yang penuh repetisi. Jika Sensum terdiri dari perasaan yang dijawab cepat tanpa tantrum. Maka “Deep Sea” adalah jembatan Manhattan yang sedang menemukan jati diri tanpa kebohongan, meski akar british pop kuat melekat.

Dirilis pada 7 September silam, “Deep Sea” merupakan paduan proses kreatif dalam waktu cukup singkat. Satu minggu untuk merampungkan untaian nada dan lirik dari berbagai sudut pandang.

Perkara menjalin proses kreatif nyatanya tak semudah proses produksi yang mereka jalani. Rilis sempat dilakukan oleh DeepShite Records pada bulan Juni, namun beberapa kendala yang dihadapi, pada akhirnya memilih Bens Studio (Bogor). Proses ini dinahkodai oleh Sany sejak proses rekaman, mixing dan mastering. Hingga awal Agustus proses produksi pun rampung dan tersaji hingga kini.

Mery Celeste dengan talentanya memang layak meramaikan banyak panggung di Jabodetabek dan sedikit di Bandung. Jika EP sudah ada, single dua kali bergulir, maka album penuh sudah sepantasnya ditunggu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *