Bersulang, Pesta Wajib Split Album Outstep dan Normanos

“Bersulang” pesta resmi peluncuran split album Outstep X Normanos.

Artikel & Foto : Anggitanee

HujanMusik, Bogor – Roda pesawat baru saja menapak landasan Bandar Udara Soekarno-Hatta, Cengkareng. Saya tak bisa menahan kelegaan yang seketika menyusup sanubari dengan cermat, setelah tertahan selama 3 jam lebih di udara. Kelegaan yang sama dengan kepastian tiba di Bogor 3 hari lebih awal dari acara rilis party unit post punk Outstep X Normanos, 10 November 2018 di venue Club 19, Ciheuleut, Bogor.

10 November menjadi rincian penting untuk dicatat sejak menapak Kota Sorong akhir Oktober silam. Dari ujung timur Indonesia saya tercekat dengan kabar bahwa Normanos X Oustep kembali membulatkan tekat, menggelar pesta rilis split album secara mandiri. Kali ini meraka akan melakukannya di Bogor, kota tempat mereka tumbuh dan saling berkenalan.

Demi menjadi penyaksi, saya memilih memastikan jadwal kepulangan dari Sorong tepat sebagaimana rencana. Sejak jadwal rilis pada September 2018 silam, Split album yang dirilis Name Record, sebuah label independen asal kota Depok, Jawa Barat. Belum sempat dipentaskan secara konser. Jelas sudah kenapa 10 November dirasa penting untuk disambangi.

***
Petang datang dalam sekejap, sementara hujan masih menahan. Pusat perbelanjaan pusat kota menjadi pilihan tak populer untuk berteduh. Aplikasi taksi online tak juga menemukan sangkutan untuk pulang dan bersiap. Dalam keadaan basah separuh saya paksakan menepi ke arah kampus perguruan pertanian di kawasan Baranangsiang. Tepat saat jam menunjuk pukul tujuh, seiring dengan berakhirnya chat dengan pengemudi aplikasi, kami bergerak ke venue Club 19.

Parkiran belum begitu padat, masih ada celah untuk bergerak. Toto dari Bombom Car adalah anak skena pertama yang saya jumpai setibanya disana. Sebelum akhirnya menyadari ada Rinjani Reza, Ahong dan Pati (The Kuda) disana. Sejenak kami saling berbagi kabar hingga akhirnya saya dan Toto memutuskan masuk meninjau keramaian yang ada.

MC Abott tengah sibuk mengabsen siapa saja yang dikenalnya, sementara The Rules terlihat bersiap menguasai panggung. Basa-basi Bzen sang vokal merangkap gitar tak begitu jelas saya terima. Entah karena keriuhan crowd atau getaran sound system yang menenggelamkan perhatian saya ke arah panggung. Gerungan gitar akhirnya menjadi penanda berkumpulnya massa yang sedari tadi lebih nyaman menepi.

BERSULANG adalah dedikasi acara yang ditebarkan Normanos X Oustep. Spirit yang sama dengan alasan split album meraka perihal eksistensi dan pertemanan. Normanos dan Outstep tak pesta sendirian. Ada Razor Distortion, Stamp Parents, Hidden Messages, The Rules, The Kuda, Insane, Mary Ann dan Bombom Car. Diakhir acara mereka menempatkan Yton Clubeighties DJ set.

The Kuda tak terlihat kewalahan dengan aksi panggungnya meski tak bersama pemain bass tetapnya. Trio Andi, Ahong dan Pati kali ini ditemani sosok bernama panggil Ebel. Barangkali saya harus setuju dengan candaan Pati bahwa posisi bass selalu tersedia bagi siapa saja yang hendak manggung bareng The Kuda.

The Kuda

Selapas ugal-ugalan bareng The Rules dan The Kuda, giliran Insane mengguyur massa dengan distorsi keras nan enerjik. Sampai-sampai sosok Andrew, orang Australi yang sibuk merekam untuk proyek dokumenternya tampak tercekat. Metal selepas punkrock adalah bumbu rujak dengan torehan cabe minimal 20 biji. Sama-sama kuat dan menampar.

Babak utama BERSULANG ditandai dengan tampilnya Outstep yang membawakan karya-karya dari split mereka. Kolektif Ryan Regiatna (vokal/gitar), Rizky Firdaus (vokal/gitar), Nikie Lauda (bass) dan Andi Aprialdi (drum) tak menyisakan nafas untuk rehat sejenak. Bak Hi Standard, Wanima, Dustbox, Ken Yokohama dalam satu panggung. Kalau saya tak salah menghitung, setidaknya ada 5 lagu yang mereka bawakan. Sama dengan jumlah lagu yang mereka cantumkan dalam split album.

Babak utama bagian kedua giliran Normanos berkuasa. Proyek band yang dihuni Norman Ahya (vokal/gitar), Mishaelben (drum) dan Alex Bramono (bass) ini mampu menyajikan postpunk dengan bumbu rock n’ roll yang lincah dengan lirik khas mereka. Asal-asalan namun bernarasi dengan cerdas. Untuk mereka saya tak yakin menghitung berapa lagu yang mereka mainkan, namun “Pasukan Galau” adalah nomor popular yang saya kenal. Sama halnya dengan crowd lokal dan manca dari Swiss yang tampak menikmati suguhan Normanos.

Normanos

“Persiapan mepet, ini juga semua kawan lama yang mendukung, yang penting jalan dan kejadian”, celetuk Norman, dalam suatu perjumpaan di sudut venue.

Atas nama persekawanan, Mary Ann turut berbagi panggung malam itu. Tampil dengan kekuatan sebagian tak membuat Pierre Abdullah dan kolega mengendur. Dukungan sementara Andi Aprialdi (Outstep) pada seksi drum mampu menjaga konsistensi mereka sebagai kecepatan punkrock dari Hi-land (dataran tinggi Bogor).

Demikian halnya dengan Bombom Car, veteran ska punk Indonesia yang menolak pensiun. Butiran onbeat yang mereka bawakan seperti tak berkesudahan. Saya hanya mengenali Toto, Ncunk, Alif dan Yudhi Pongo sebagai sebagian pemainnya karena kuasa panggung ada pada crowd yang merangsak naik. Sementara Sigit dan Juju tenggelam dalam keriuhan. Begitulah kalau kawan lama bersua dalam panggung.

Sementara Bombom Car menyepih repertoar terakhir, dari pinggir panggung saya mendapati Yton Clubeighties menyiapkan perangkat DJ setnya. Tampil sebagai pemungkas acara malam itu, suguhan Yton tepat sebagai biang penggoda bersulang. Penanda pesta wajib Outstep X Normanos telah usai.

Selamat mengudara Normanos dan Oustep

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *