Alter Ego Seorang DJ dalam Kemasan Indie Dance

MORSH yang terdiri dari Yogi Formatted, Diano dan Winky Wiryawan. Mereka melepas single “Sequel” per 12 September 2018 lalu. Foto : dok.MORSH

Artikel : Anggitane

HujanMusik!, Jakarta – Mendapati nama Winky Wiryawan dalam konteks musik elektronik adalah sesuatu yang wajar. Namanya lekat sebagai punggawa DJ booth kenamaan ibukota sebelum terjun mendominasi dunia peran. Baginya CD Decks, Turntable, DJ Mixer, Headphone, Midi Controller ataupun Scratch Live DVS adalah hal biasa. Sama biasanya dengan kolaborasi karya bersama talenta muda. Selepas proyek musik “Mess” yang menyabet pujian, kini lanjutannya diteruskan dalam proyek MORSH.

Adalah Yogi Formatted dan vokalis Diano yang sukses melebur bersama DJ Winky. Perjumpaan karya pada 2017 dengan single “Mess” membawa kolaborasi mereka sebagai salah satu nominasi AMI AWARD 2018 kategori “Karya Produksi Elektronika”, menyusul predikat lainnya sebagai lagu pilihan dalam ajang kompetisi remix “Lokal itu Keren”.

Atas nama kecocokan dan kesamaan visi-lah yang membuat mereka meneruskan kerjasama dalam MORSH, akronim dari “More dan “Research”.

MORSH pada akhirnya menjadi pembenaran identitas penelitian lebih lanjut mereka. Eksplorasi lagu yang melintasi semua batasan genre maupun pemilihan sound. Meski pada ujungnya mereka tetap bersepakat mempertahankan karakter Indie Dance.

Lantas bergulirlah “Sequel”, legalisir karya mereka sebagai MORSH per 21 September 2018 lalu. Sequel seorang Winky, Yogi dan Diano yang bertutur tentang generasi milenial dalam pusaran arus informasi yang deras. Pusaran tanda bahaya, jika tak pandai memilah mereka bisa hanyut bersama perubahan zaman yang cepat.

Winky membawa ide awal “Sequel” kepada Diano yang menterjemahkannya menjadi lirik. Sementara Yogi menyempurnakan karakter musik menjadi lebih ciamik. Saya cukup nyaman menikmati kecerdasan konsep one shoot video lirik yang dibuat Abizar Alqifari di kanal Youtube mereka. Paparan jalan kosong dan lurus yang di kelilingi pemandangan agraris, disertakan efek vhs sketch untuk mendapatkan kesan retro namun tetap modern.

Demikianlah, karakter Indie Dance retro MORSH terasa lebih segar dan masuk perangkap pendengaran. Pengalaman berbeda dibanding menyusuri 16 track album Winky dalam “Playlist” dengan pola yang sama.

Meski tak tepat dibandingkan, album “Palylist” yang rilis 2015 lalu lebih terasa suasana party-nya dibanding dua proyek kolaborasi terakhir. Rasa-rasanya “Mess” dan “Sequel” cukup tepat mewakili pengguna moda transportasi semacam angkot di Bogor sebagai soundtrack perjalanan. Sama tepatnya jika didudukan sederet dengan “Get Lucky”-nya Daftpunk.

Single “Sequel” kini juga sudah bisa dinikmati di berbagai platform music digital. Kabarnya single ini didapuk sebagai langkah perkenalan menuju album penuh perdana mereka tahun 2019 mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *