Seduhan “Coffe Reggae Stone” untuk Charity di Bali

2018, Coffe Reggae Stone berpartisipasi pada Bali Reggae Star Festival di Pantai Mertasari. Foto : Dafa Muhammad.

Artikel : Ridho Rakhman

HujanMusik!, Bali – Galat cuaca tengah berjumpa dengan penghujungnya. September lalu, untaian waktu catatan amatir HujanMusik! bak kembali meliuk dan menemukan ujungnya, kembali bertemu Bali Reggae Star Festival. Tahun lalu saya mendapati catatan perdana seputar charity concert terbesar di Bali itu meluncur bersama unit reggae Jakarta, Kalua. Tahun 2018 ini kami justru yang tampil merepresentasikan Jawa Barat dan Bandung. Minggu petang, 30 September 2018, adalah waktu penting kami tampil di Bali.

Ke Bali dengan musik adalah cita-cita masa muda. Bersama Coffe Reggae Stone, keberuntungan yang tumbuh dari semangat liburan akhirnya tersampaikan. Panitia Bali Reggae Star Festival (BRSF) menyediakan slot untuk mereka tampil satu hari dengan akomodasi. Selebihnya talent yang menanggung biaya sendiri.

Exiting ini tak dapat saya sembunyikan, sangat bersemangat sekali untuk bisa manggung di acara tersebut. Pendaran dampak gempa NTB menjadi pemicu Coffe Reggae Stone mengirimkan utusan berkontak pada pihak panitia, bagaimana caranya kami bisa manggung di Bali Reggae Star festival (BRSF). Tak perlu waktu lama, Angung Ngurah, ketua panitia, merespon positif niatan kami. Bli Agung, kami menyapanya demikian, sangat antusias menerima kami sebagai perwakilan dari Bandung, Jawa Barat.

Sinyal inilah yang mendorong kami bergerak cepat. Kami langsung mengumpulkan dana semaksimal mungkin untuk tiket pesawat. Barangkali niat baik kami dijawab oleh semesta, alhasil kami ber-15 orang bisa berangkat ke Bali demi misi sosial. Kalaupun ada liburan itu bagian penting lainnya.

Bali Reggae Star Festival (BRSF) bukanlah barang baru kemarin sore. Hajatan ini sudah memasuki tahun ke-empat. Sebuah acara Charity Concert besar skala Nasional dan Internasional. Tak main-main, banyak musisi reggae penting terlibat sebagai penyelenggara dan pengisi acara. Mereka bisa dari mana saja. Dari mancanegara ataupun tanah air, dari ujung Aceh hingga ujung Papua. Diantaranya Tony-q Rastafara, Joni Agung & Double T, Souljah, Momonon, Tropico Rasta, Mr. Botak dan Range feat Marapu.

Bencana gempa Sulawesi Tengah yang disusul tsunami Palu 28 September 2018 lalu, kian memantabkan niatan kami untuk tampilkan yang terbaik. Hati boleh terenyuh, terkejut seketika dan hantu marabahaya seperti mengancam keselamatan. Tetapi spirit yang akan kami bawa itu berbeda. Sedikitpun tak gentar, justru memacu adrenalin yang kian membuncah, berdonasi melalui musik yang kami mainkan. Demikianlah, kami pun tetap melanjutkan perjalanan ini hingga sampai di Bali.

Bencana Palu, Donggala dan Sigi masih mekar-mekarnya menyayat sanubari. Saya tak menyangka disusul berita duka lainnya, musisi bernama Aray Daulay, salah satu solois dan musisi reggae itu meninggal dunia. Menundukkan kepala seraya berdo’a untuk korban dan kawan, menjadi senandung perjalanan. Lengkap sudah.

***

Sabtu 29 September 2018, Coffe Reggae Stone bertolak dari Bandung dan tiba di Bali Pukul 17.00 WITA waktu setempat. Selain 7 personil lengkap, kami datang dengan 4 orang crew, soundman, dan beberapa keluarga. Semua kelengkapan equipment yang kami bawa dipastikan tidak ada yang tertinggal.

Seperti yang saya singgung diawal, tujuan lain selain manggung adalah liburan, maka kami menyempatkan datang dan menginap di Kuta. Lokasi dimana hiruk-pikuk jalan Legian bisa kami rasakan, pemandangan Bule, berjalan kaki, menikmati sunset dan bersantai sambil berbincang di pinggir kolam. Hari pertama yang cukup menyenangkan.

Pedestrian Legian dan Kuta menjadi sasaran kunjungan. Merasakan dentuman music ala clubbing. Mengunjungi tugu peringatan Bom Bali, meski tak bisa melihat lebih dekat karena sekitar tempat tugu sedang direnovasi. Kami sibuk merekam, kamera ponsel dan kamera beneran tak ada yang diam. Setiap sudut yang kami lihat terasa sayang dilewatkan tanpa ber- selfie ria.

Babak selanjutnya adalah mengunjungi Apache Reggae Bar. Di Bali dan belum ke lokasi ini rasanya tak lengkap. Legendanya ditempat ini banyak musisi reggae rajin manggung disana. Sayangnya kami tak menjumpai perform disana. Apache Reggae Bar sedang ikut berpartispasi di acara BRSF di Pantai Mertasari. Konsentrasi penikmat musik Jamaican Sound sudah pasti berada di venue Bali Reggae Star Festival.

Ridho Rakhman, biduan band reggae asal Bandung, Coffee Reggae Stone .Foto : Dafa Muhammad

Hari kedua adalah hari dimana saya dan personil lain disadarkan untuk apa kami di pulau Dewata. Setelah mandi dan jalan-jalan disekitar Pantai Kuta, kami bersiap-siap berangkat menuju Pantai Mertasari Sanur dan bersiap tampil pada pukul 17.00 WITA. Hotel Swastika Guest House adalah lokasi yang disediakan panitia untuk satu malam terakhir. Beristirahat sejenak sembari menunggu waktu menuju pukul 15.00 WITA dan bersiap untuk menuju venue. Sesampainya disana, kami langsung masuk ke area backstage dan disana banyak para musisi yang sedang bersiap untuk tampil.

Dengan persiapan yang cukup singkat, akhirnya kami diberikan waktu main hanya 25 menit. Skenario baru mau tak mau kami susun. 25 menit hanya mengandalkan sekitar 3 – 4 lagu. Musyawarah belakang panggung akhirnya memutuskan kami akan tampil maksimal dengan 4 lagu. Yaitu “Demon”, “Ngopi Bareng”, “Cahaya” dan “Pasir Putih”. Lagu tersebut merupakan lagu terpilih dengan berbagai alasan, sejujurnya kami dengan persiapan tersebut sempat merasa minder karena lagu mereka jauh lebih “Reggae” dibandingkan kami yang hanya sekedarnya saja.

Terdengar ketukan kental drum dan bass yang mumpuni membuat kami ingin menunjukan sesuatu yang berbeda dari talent lain, merasa perlu menunjukkan seberapa kuat iklim musik di Bandung diperdengarkan di Bali. Tanpa fans dan grupis, karena ini bukan habitat kami. Kesempatan penting untuk trial tanpa pengalaman dengan penonton yang bukan seperti biasanya. Berhadapan dengan penonton yang duduk santai di pasir putih sambil menikmati sunset yang mulai tenggelam.

Ritme pada lagu kedua, menjadi titik sedikit demi sedikit banyak orang-orang yang mulai mendekat ke bibir panggung. Terlihat sekumpulan anak muda berbaris dan berdansa kecil tersipu malu. Sebagian dari mereka adalah para Scooter dari berbagai daerah, secara kebetulan kami bertemu kawan dari Jawa Barat, yaitu Subang dan Indramayu yang tergabung dalam rombongan komunitas motor vespa.

Di penghujung lagu terakhir, matahari mulai menghilang tetapi cahayanya masih hangat dirasa. Tak ada ucapan yang layak disematkan selain ungkapan banyak terimakasih karena telah diberi kesempatan untuk bertasipasi dalam acara BRSF.

Teriakan penonton yang meminta lagu tambahan sangat berkesan kuat. Tersembul niatan bahwa tampil dan kembali ke pulau ini adalah keharusan, suatu saat nanti.

Malam telah datang, orang-orang semakin banyak datang. Semua ingin berdendang mendengarkan reggae musik. Terimakasih kami sudah diperdengarkan musik reggae yang berbeda dengan oleh bahasa yang berbeda. Saya dan Coffe Reggae Stone kini lebih paham bahwa musik reggae tanah air kaya warna, banyak yang bisa kami ambil dan pelajari.

Dinginnya angin laut lekat membius. Malam larut tak membuat venue surut, Tony Q Rastafara menjadi puncak gerak, dansa dan segala kenangan indah tenang musik charity disana.

Sampai jumpa lagi Bali, semoga kita bisa main lagi kesini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *