Pemutar Rock Alternatif Bernama Wai Rejected

Wai Rejected, unit rock alternatif asal Pontianak yang sudah menebar album perdana “Terbitlah Terang”. Foto : dok.Wai Rejected

Artikel : Anggitanee

HujanMusik!, Jakarta – Bayangan beban roda menggelinding menyeruak sedemikian rigidnya. Tak ada perumpamaan tepat untuk digambarkan, selain petunjuk bahwa saya sedang di jalan raya menuju Bandara. Untungnya, skenario untuk tak pegang kendali moda berhasil dijalankan. Sukses meneruskan niat menyimak beberapa rilisan yang masuk hujanmusik[at]gmail[dot]com. Salah satunya single “rewind” yang saya dapati dari album  “Terbitlah Terang”, koleksi unit rock alternatif potensial, Wai Rejected.

 

Memutar “rewind” bak mengenang mesin pemanggang roti di kantor lama saya. Uzur namun banyak diperlukan. Entah produksi tahun berapa, aroma yang ditimbulkan kerap menipu kadar kematangan panggangan. Pun dengan Wai Rejected. Keberanian membawakan jenis musik rock spesifik era 90an, sukses mendudukan karya mereka sebagai salah satu jejak musik potensial di nusantara.

 

Begitulah, saya menyimak dan meneruskan memperdengarkan 7 buah lagu lainnya semacam “Reason to Fight”, “Tabu”, “Intensi”, “The World Talks”, “Propaganda”, “Oh My”, dan “Terbitlah Terang”. Driver sebelah saya tak banyak gerak, fokus memastikan laju moda terjaga hingga tuntas perjalanan ke Bandara. Saya tak tahu apakah ia menikmati atau mengutuki, yang pasti jarinya mengetuk-ngetuk stir mobil dengan teratur.

 

Wai Rejected saya kenal sebagai kolektif musik hasil seleksi Meet The Labels tahun 2015 asal Pontianak. Namun dalam berbagai rilis di media mereka menulis jejak aroma musik kali pertama terjadi pada 2006 di Malang, Jawa Timur. Perkenalan Doni (Vocal), Edho (Bass), Theo (Gitar, Synth), John (Gitar) & Dhika (Drum) pada  musik The Stroke, Bloc Party, The Foals, RATM, Incubus, Imagine Dragon dan Koes Plus, sedikit banyak tercerna dalam debut album mereka.

 

Ada Identitas musik yang sangat erat tercekat pada instrumen bass dan drum yang membentuk karakter musik Wai Rejected. Didukung instrumen lain seperti gitar dan synth, pengantar mood yang bagus di album ini.

 

“Rewind” menjadi pengantar saya berkenalan dengan band yang telah menuntaskan tur 30 hari dalam album pertama. Rangkaian tour darat bertajuk Terbitlah Terang Tour  yang terjadi di Kalimantan dan melintasi tiga negara. Setiap lagu dalam album ini menyajikan karakter sound yang berbeda. Ada emosi sendiri sesuai dengan pesan yang hendak mereka sampaikan.

 

Wai Rejected tengah bertutur tentang keprihatinan terhadap fakta sosial, isu hoax yang meresahkan, perbedaan yang kencang diperdebatkan, sampai fakta bahwa masih banyak anak-anak derita korban perang yang terlupakan oleh kemanusiaan.

 

Bisa jadi,  “Terbitlah Terang” adalah cara pandang mereka menerka situasi saat ini, sekaligus ungkapan harapan untuk kehidupan yang lebih baik. Ya…itu harapan saya juga.

 

“Terbitlah Terang”  terjadi dengan pelibatan rekan-rekan seniman dari lintas bidang seni lainnya. Artwork album ini merupakan kolaborasi seni ilustrasi dan grafis antara Sirjipang dan Andika Patrya. Sebuah proyek kesenian yang menginterpretasikan lirik-lirik dari setiap lagu.

 

Untuk menikmati jejak karya mereka cukup mudah. Album telah disebar dalam format fisik berbentuk cakram padat (CD) oleh Demajors Records. Diedarkan untuk seluruh jaringan toko demajors diseluruh Indonesia.

***

Soekarno-Hatta sudah menyapa, dari Bogor saya tiba dengan semangat kerja. Sudah terbayang bakal susah bersua kawan lama. Jadwal padat merapat layaknya pekerja dinas luar kota. Ya sudahlah, dinikmati saja

 

Jayalah karya musik Indonesia.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *