Melodius Sunda dari Taman Salaka

Sunda Land Ethnomusic Festival bakal digelar di Bogor, Sabtu, 27 Oktober 2018. Foto : Alphons Louis Marie Antonie Hubert Hustinx/fotomuseum – Talataaki.

Artikel : Anggitanee

Hujanmusik!, Bogor – Bagi seorang Aki Dadan, Kacapi tak sekedar alat musik, melainkan refleksi cerminan diri dan keluhuran pikiran.

Guratan kerut wajahnya bak menyibak perjalanan hidup yang sarat pengalaman. Ragam kesenian yang sejiwa dengan nilai-nilai kehidupan dituturkannya dengan lugas dan lancar. Tak ada keraguan, keyakinan jalan kesenian yang dipilihnya menjadikannya satu dari sedikit pelaku Kacapi sunda yang tetap aktif.

Baginya Kacapi adalah musik yang sesungguhnya. Mengalir dalam darahnya, meresap dalam sanubarinya.

Kesadaran musik tradisi yang menyuburkan bakat luar biasa untuk seorang Aki Dadan. Dijalani dengan cinta yang mendalam, diperjuangkan dengan kerja keras. Sebuah pengorbanan dan dedikasi panjang hingga bertahan 50 tahun lamanya. Sematan gelar maestro sangat layak ditempatkan untuknya.

Suatu kehormatan bagi saya, kesempatan menyaksikan aksi sang maestro secara langsung bakal terjadi dalam waktu dekat ini. Aki Dadan akan “naik gunung” memainkan Kacapi-nya.

Sekumpulan individu pelestari bebunyian tradisi bernama Talataaki akan menghadirkannya pada acara Sunda Land Ethnomusic Festival 2018. Sebuah gelaran untuk memperkenalkan keindahan seni Kacapi suling sunda klasik sebagai warisan dunia yang sangat berharga.

Tema perdamaian menjadi misi utama kehadiran Aki Dadan dan musisi lainnya di Pura Parahyangan Agung Jagatkarta, Ciapus – Bogor, 27 Oktober 2018.

Selain Aki Dadan, beberapa musisi tamu dipastikan akan tampil menguatkan nilai perdamaian yang menjadi tujuan festival ini dilangsungkan. Yaitu : Ustadz Shabbir Hasan Warsi, pelaku Tabla dan Sitar dari Pusat Kebudayaan India Jawaharlal Nehru di Jakarta. Penampilan ustadz Sahabbir merepresentasikan kebudayaan India.

Eni Agustien, pendiri Sekolah Musik Miladomus Jakarta, akan memainkan alat musik kecapi Guzheng dari Cina. Sementara Jakarta Koto Club, akan memainkan kecapi tradisional Jepang, mewakili kebudayaan Jepang.

Dari Jawa Barat Mang Ayi Ruhiyat akan memainkan seni Gembyung Subang dan Seni Beluk. Sedangkan Abah S. Dradjat Kusumahdiningrat dari Bandung juga tampil memainkan kecapi pantun Sunda klasik. Terakhir dari Bogor ada Ki Gola & Svara Jiva Nusantara yang akan memainkan karinding.

Aki Dadan sendiri akan tampil bersama Mang Tatang Setiadi, dan Perceka Art Center Cianjur, memainkan kecapi pantun Sunda klasik Cianjuran.

Gambar : Talataaki

Talataaki, sebuah organisasi nirlaba yang didirikan di Jakarta pada awal 2018 oleh Iwan Toruan dan Zeira Soraya, menjadi aktor terjadinya festival ini. Pun demikian dengan sederet agenda lain yang mendukung festival.

“Ini didedikasikan untuk tidak hanya memperkenalkan keindahan musik kecapi suling Sunda klasik kepada dunia, namun juga untuk menyebarluaskan pesan Rukun Sakabehna Saumat Saduniya. Arti dari pesan tersebut adalah seluruh umat manusia harus hidup rukun”, tulis Iwan tentang misi Talataaki.

Tak cukup menghelat pertunjukan musik, Sunda Land Ethnomusic Festival 2018 memiliki materi diskusi untuk mencerahkan kita tentang apa dan bagaimana sunda.

Sundaland dan peradaban Lemuria-Atlantis menjadi materi menarik untuk disimak bersama pembicara Dicky Zainal Arifin/Pembina Lanterha The Lemurian Meditation dan Dhani Irwanto, penulis buku “Atlantis The Lost City Is In Java Sea”. Diskusi akan dipandu Ahmad Samantho/Penulis buku Peradaban Atlantis Nusantara. Terselip juga pameran foto perdamaian.

Pengunjung yang hadir pada hajatan yang digelar Talataaki Production ini juga bakal disuguhkan bazaar produk kerajinan UMKM dari Bogor dan sekitarnya.

Ah…saya perlu mencatat baik-baik tanggal perhelatannya, pergelaran model begini tak banyak dihelat. Suatu kemewahan bisa menikmati kidung adilihung langsung dari sisi taman salaka-nya.

Rahayu!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *