Terpinang Dansa Deredia

Deredia, kolektif jazz menghibur dari Jakarta. Albumnya layak disimak. Foto : dok.Deredia

Artikel : Anggitanee

HujanMusik!, Jakarta – Serutan kayu tampak bertumpuk, sekujur tubuh anak kecil kurang dari 5 tahun terlihat riang memainkannya. Sebayanya pun berlaku sama, mereka sedang memerankan tokoh penjajah dan heroisme pahlawan lokal. Sungguh pemandangan imajinasi nan menghibur, terlebih untuk Agustus, masa dimana banyak individu diingatkan nuansa perang kemerdekaan.

Ingatan ini sekelebat merujuk pada gambaran nuansa sekitar Perang Dunia II. Indonesia  sebagai salah satu medan laga bak sinar matahari baru. 1945 menuju 1950an tampak dikenang sebagai zona kembalinya identitas ke-Indonesiaan, meski pengaruh produk budaya populer kolonialisme tak semerta-merta luntur. Wujud nyatanya adalah ruang dansa dan pasar malam yang kisahnya melegenda ditiap kota, utamanya di Jakarta.

Harmonie Club yang sempat jaya dimasanya terasa membekas karena memunculkan estetika dan keriaan baru. Beragam corak musik populer, yang berkembang di Amerika Serikat dan negara-negara Eropa berhasil diwariskan pada pemusik Indonesia.

Dalam konteks kekinian, kesan semacam itu tampaknya tengah dipaparkan gitaris Yosua Simanjuntak, Louise Monique Sitanggang (vokal), Papa Ical (bas), Raynhard Lewis Pasaribu (piano), dan Aryo Wicaksono (drum) dari kolektif Deredia. Deredia memang terbentuk lebih dari enam dekade setelah Elvis Presley mencetak hits terbesarnya “(Can’t Help) Falling in Love”. Namun imaji budaya pop di era 1950-an itu terpatri kuat di benak lima sekawan itu.

Dampaknya, band dari timur Jakarta ini produktif dengan menghasilkan album perdana Bunga & Miles pada tahun 2016. Sembilan lagu di dalamnya mencerminkan inspirasi dari musik 1950-an. Dua tahun kemudian, Deredia datang kembali dengan karya teranyarnya berupa single “Lagu Dansa”.

Lirik lagunya  menyiratkan keriaan pesta dansa rumahan, seperti yang jamak terjadi pada zaman itu. Sebutan tuan dan nona bersua manis dengan diksi sukaria bersama. Menggoda untuk berdansa ke kiri dan ke kanan.

Mengikuti irama pop “Lagu Dansa” seperti diarahkan untuk menikmati pengantar pesta kaum muda. Berikut sajian kudapan khas nusantara, ada dodol, bakpia, onde-onde, lumpia, dan tak lupa kopi.

“Lagu Dansa’ ini menceritakan suasana pesta dansa di rumah-rumah. Dalam bayangan saya, pesta ini adalah ajang kumpul kaum muda menikmati sore yang cerah,” ujar Louise sang vokalis.

Sebagai gambaran, untuk yang sulit membayangkan, silahkan teliti nuansa pesta rumahan dalam film Tiga Dara (1957) besutan Usmar Ismail.

Single “Lagu Dansa” beserta klip videonya, menjadi pengumuman bahwa Deredia serius melepas album penuh keduanya. Dalam keterangannya pada HujanMusik!, gitaris Yosua menuturkan bahwa Deredia telah memilih sembilan dari lima belas lagu yang dihasilkan dari proses jamming.

“Kami membikin lagu selalu lewat proses jamming, tidak direncanakan secara spesifik akan seperti apa. Dalam proses workshop itu, kami menghasilkan lima belas lagu. Ternyata ada sembilan lagu yang punya benang merah sama,” tukas Yosua, seraya menjamin kesembilan lagu itu bernuansa ceria.

Setidaknya Deredia hendak menggambarkan keriuhan sebuah pasar malam. Tema ajaib yang berpusat dari riset Louise terhadap arsip-arsip yang menggambarkan suasana Indonesia pada dekade 1950-an. Penelusuran yang menuntunnya pada Pasar Gambir di Jakarta Pusat, cikal bakal format pasar malam yang hingga kini terwariskan ke seluruh nusantara.

***

Demikianlah. Deredia yang muncul dari penggabungan dua istilah dalam bahasa Flores. “Dere” yang berarti bernyanyi, dan “dia” yang adalah merdu. Peleburannya bisa diartikan sebagai langgam bernyanyi yang indah. Corak musik yang disodorkan oleh Deredia adalah pop klasik yang diracik dari jazz, rockabilly, swing, ragtime, dan Dixie.

Pada bagian ini, mudahnya menyebut mereka jazz saja sudah cukup. Seperti panggung jazz yang mereka akrabi selama ini. Termasuk tiga kali main di ajang Java Jazz Festival di Jakarta.

Pendirinya, Yosua dan Dede terinspirasi dari musik duet Les Paul dan Mary Ford. Mereka berinisiatif membuat band yang bisa mengingatkan kembali akan manisnya warna musik era duet tersebut. Setelah Aryo, Raynhard, dan Papa Ical bergabung, mereka bersepakat meracik lagu sendiri pada 2014.

Ketiganya adalah orang-orang yang bergelut dalam industri musik, terutama berada di balik panel studio. Sementara Louise bergabung setahun kemudian karena dianggap punya karakter vokal unik yang sesuai dengan corak musik yang mereka susun. Masuknya Louise menjadi babak tambahan menarik, terutama album pertama Bunga & Miles yang beredar pada 2016.

Album itu berisi sembilan lagu yang terbagi dalam dua keping CD terpisah, masing-masing berbahasa Inggris, dan Indonesia. Louise, sebagai vokalis, bertanggung jawab atas penulisan lirik puitik di album itu.

Deredia termasuk kolektif yang rajin menyapa lewat video lagu-lagu populer dan lagu tradisional nusantara dalam bentuk rekaman video di YouTube.

Kanal Deredia tersedia dalam tagar #LIVEATKLAUS. Hingga kini, tak kurang dari 20 video telah terpajang, dengan lagu-lagu, antara lain, “Anak Kambing Saya”, “Nurlela”, “Rasa Sayange”, “Ayo Mama”, dan “Hari Lebaran”.

Untuk saya pribadi, kenal Deredia justru bukan dari panggungnya, melainkan melalui Film Tiga Dara versi 2016. Disana Deredia memajang  “Lagu Gembira” dalam album Aransemen Ulang Lagu Orisinil OST Film Tiga Dara tahun itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *