Tentang Jionara dan Makna Sebuah Perpisahan

Jionara, band asal Bandung yang mampu membuat imajinasi melampaui kesedihan dan kebahagiaan secara bersamaan. Foto : IG jionaramusik

Artikel : Sekar Puspitasari

HujanMusik!, Bogor – Saya selalu takut menuliskan satu kalimat yang akan meracuni banyak orang. Karena saya selalu berpikir bahwa tulisan adalah sebuah jembatan antara manusia dan pilihan-pilihannya, dan diri kita sepenuhnya ditentukan oleh apa saja yang dilakukan dalam hidup yang kita hidupi dan hidup-hidupkan. Karena itu, kali ini saya akan mengalahkan ketakutan dan tetap menulis dalam media apapun tentang apapun yang sanggup saya tuliskan. Ketakutan itu telah saya terbangkan seperti balon-balon tanpa batu pemberat yang telah saya lepaskan satu persatu dari genggaman. Dan di atas itu semua, semoga kalian tetap setia membaca racauan saya yang kacau.

Larik awan tipis di langit Gunung Salak bersemburat jingga kemerahan yang memantul-mantul di tepian kota Bogor seolah memberikan energi lebih pada saya. Sementara ada senyum sembunyi-sembunyi di senja ini ketika saya menatap ponsel pintar sambil tidak lepas dari pemutar musik yang hanya mau saya putar di satu lagu itu saja. Mungkin sudah menjadi takdir saya sebagai manusia untuk cenderung melupakan sesuatu yang seharusnya diingat, seolah-olah ingatan itu terlampau pendek. Sebab apa yang seharusnya saya ingat terlalu sering  terlupakan. Begitu pun satu ingatan tentang band asal kota Bandung bernama Jionara.

Saya tidak begitu ingat detil perkenalan dengan Jionara, namun seolah semesta mempertemukan lagi dengan lagu-lagu mereka. Lagu-lagu yang kembali  mengingatkan pada momen-momen di hidup saya. Kekhasan musik mereka membuat imajinasi saya melayang-layang melampaui kesedihan dan kebahagiaan secara bersamaan namun tidak berlebihan. Musik yang teramu sedemikian rupa, membuat diri ini mencipta satu ruang khusus yang akhirnya dituangkan imajinasi ke dalam satu tulisan dalam blog pribadi sebagai representasi kekaguman terhadap musikalitas mereka yang terasa dekat seperti melintasi kenangan akrab dalam limbik saya.

“Kita bertemu di persimpangan dan berpisah pun disimpang jalan bukan salahku atau salahmu jalan bahagia kita yang berbeda”

Kepadatan Bogor sore itu jadi saksi pertemuan dengan Jionara ketika aplikasi pemutar lagu digital saya memutar lagu-lagu secara acak. Lelah seharian tidak lantas membuat saya mengantuk.  Sambil iseng mencerna berita-berita dalam ponsel pintar, tiba-tiba ada satu judul lagu yang menyita perhatian saya. Melalui lagu itu, saya seperti melihat putaran-putaran cerita. Tentang pertemuan, tentang rasa senang, tentang sesuatu yang hilang, tentang rindu yang tak pernah lekang. Dan praktisnya, saya melupakan waktu di sore itu yang kemudian lahirlah sepucuk puisi yang saya tuliskan dalam dengan menggunakan satu lagu berjudul ‘Pelepasan Adalah Pertahanan Terbaik’ milik Jionara sebagai ilustrasi berbulan-bulan kemudian.

“Jangan ratapi mengenang ini tersenyumlah karna pernah menjalani bahagiaku ini bahagiamu itu tak apa cinta tak korbankan bahagia kita”

Lagu itu begitu kontradiktif, karena harmonisasi musik unit yang kabarnya segera merilis album baru di tahun ini terbilang ringan diimbangi lirik yang puitis dan dalam. Keindahan tersebut dihiasi dengan nada-nada yang tidak melulu dipersembahkan dalam not A-minor. Namun disaat bersamaan saya seperti dipaksa berjalan mundur menjelajahi perjalanan rasa. Musik mereka yang halus seperti memberi saya kesempatan untuk menoleh kebelakang, memeriksa apa yang telah saya lakukan, kemudian membuat saya melepaskan kerutan di kening dan menarik nafas dalam-dalam. Membuat jiwa ini berlarian dan berziarah ke satu momen untuk melanjutkan hal-hal besar yang belum selesai.

Lirik lagu Jionara tersebut begitu kuat menjelaskan kepada semua orang bahwa perpisahan adalah awal dari rangkaian cerita baru, sedangkan waktu masih saja egois tidak memedulikan siapapun yang bergerak pelan. Seperti ulasan kutipan yang tertulis dalam situs Jionara bahwa lagu ‘Pelepasan adalah Pertahanan Terbaik’ memberi sudut pandang lain dalam memaknai perpisahan. Karena sebetulnya manusia bisa memilih untuk tidak menetap, karena melepaskan itu butuh energi bukan kompetensi. Dan saya setuju.

Barangkali, jika suatu hari jika seseorang memang akan pergi, kita akan selalu memiliki harapan lain untuk kita titipkan hati dan kebahagiaan juga setumpuk ingatan. Dan jika perpisahan begitu menyakitkan, mari bersalin rupa menjadi angin yang tetap bergerak meski dipecahkan udara. Jika perpisahan itu terjadi, maka resapilah setiap episode kehidupan yang pernah kita lalui, dan tetap berbahagia seperti anak-anak.

Tetaplah bergerak seperti air hujan yang kerap jatuh memberi kehidupan kepada tanah-tanah kering. Karena pada akhirnya kita akan belajar sinkronasi perasaan dengan pikiran-pikiran kita. Setelah perpisahan bumi tetap berputar, hujan tetap setia mampir, kopi pun masih mampu membangkitkan semangat, dan hidup masih harus berjalan. Karena pelepasan berarti mengumpulkan potongan acak waktu, hingga tersusun rapi gambaran cerita di masa depan.

Dan sore ini, saya melepaskan semuanya dengan sayatan dawai biola dan musik megah Jionara. Karena kita selalu punya banyak harapan, meski itu adalah pengalih perhatian. Tapi bukankah harapan-harapan memang tidak pernah tergambar dalam peta mana pun?

[penulis adalah warga Taman yang Paling Indah dan Penyuka Sastra]

One thought on “Tentang Jionara dan Makna Sebuah Perpisahan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *