“Seperti Api”, Misi Rock Ketiga Seringai

Seringai diantara Serigala Militia. Tahun ini mereka merilis “Seperti Api”. Foto : seringai_official/@radgiel

Artikel : Anggitanee

HujanMusik, Jakarta – Sebagai seorang Wieder Blutbad, karakter makhluk mitologi berwujud serigala dalam serial telivisi Grimm. Tokoh Monroe menjadi sosok pencuri perhatian yang saya anggap sukses. Kemunculannya kerap dinanti-nanti sebagai solusi kasus pelik yang mendera detektif Nick Burkhardt dan koleganya di kepolisian Portland, Oregon.

Tapi saya tidak sedang mengupas tayangan produksi Universal Media Studios dan Hazy Mills Productions yang ditayangkan kanal NBC sejak 2011 itu. Saya sedang mencari cara bagaimana memulai menuliskan kekaguman saya pada kolektif rock liar Jakarta bernama Seringai.

Benang merah yang bisa saya paksakan adalah karakter serigala antara Wieder Blutbad, dengan penamaan serigala militia untuk penggemar Seringai.

Sayangnya saya tidak termasuk didalamnya, meski memiliki kekaguman berlebih pada Seringai. Saya tak memiliki barang bukti semacam T-shirt ataupun merch dominan hitam lainnya, lengkap dengan simbol-simbolnya. Makanya saya tak layak disebut militia mereka.

Lolongan panjang terdengar menguar, sesaat setelah beredarnya kabar high octane rockers Jakarta itu merilis album studio terbaru mereka. Album yang ditunggu-tunggu sejak enam tahun lalu. Jeda album lumayan lama untuk kolektif solid setenar mereka.

Sebagai band rock yang mulai memanaskan area moshpit sejak 2002, album baru bertajuk “Seperti Api” menandai berkumpulnya Arian 13, Ricky Siahaan, Edy Khemod, dan Sammy Bramantyo diluar konser. Maklum, kesibukan para personel menjadi penunda pertemuan kreatif mereka di studio.

Arian sedang penting-pentingnya bersama unit usaha Lawless yang salah satunya dalam bentuk restoran burger rock n roll di Jakarta. Ricky selepas Rolling Stone Indonesia menjadi sosok dominan moncernya karir Iko Uwais, aktor laga yang dimanajerinya. Sammy tetaplah penyiar radio aktif dengan jadwal siaran lumayan padat. Sementara Khemod adalah direktur kreatif rumah produksi Cerahati yang tak henti-hentinya berproduksi.

‘Seperti Api’, menjadi album penuh ketiga Seringai yang direkam sejak akhir tahun lalu dan pungkas awal Februari silam. Menu kali ini ada 12 track, terdiri satu nomor intro dan 11 lagu baru yang seluruhnya diciptakan dan diaransemen secara kolektif oleh vokalis Arian13, gitaris Ricky Siahaan, drummer Khemod serta bassist Sammy Bramantyo.

Untuk urusan lirik masih dominasi Arian13 selaku penguasa microphone. Kali ini tema lirik diklaim lebih variatif dibanding album-album sebelumnya. Mulai dari gairah kemandirian (“Selamanya”), tragedi ’65 (“Enam Lima”), fenomena hoaks (“Disinformasi”), debat kusir (“Seteru Membinasa”), kecerdasan buatan (“A.I.”), anti-fasisme dan rasisme (“Sekarang Atau Nanti”), seksualitas (“Ishtarkult”) hingga parodi sosial-politik (“Omong Kosong”). Selain lirik, Arian yang juga berprofesi sebagai illustrator itu juga kebagian menggarap artwork sampul album “Seperti Api”.

Seringai “Seperti Api”Album Cover by Arian13

“Proses perekaman “Seperti Api” berlangsung cepat karena sudah digembleng dulu sedemikian rupa di saat workshop. Hasilnya adalah materi-materi terkuat dari Seringai. Targetnya adalah lirik tajam, aransemen apik, dan sound yang nendang. Misi tercapai bagi saya,” ujar gitaris merangkap produser Ricky Siahaan.

‘Seperti Api’ direkam di tiga studio berbeda di Jakarta yaitu, Maleh SoundLab, NoiseLab Studio dan Jungle Audio Post bersama sound engineer Miko Valent yang sebelumnya pernah ikut menangani album Seringai sebelumnya.

Beberapa musisi tamu ikut berpartisipasi mendukung proses perekaman, di antaranya Danilla Riyadi yang bernyanyi di nomor doom “Ishtarkult”, Kartika Jahja berbicara di nomor thrash singkat-cepat-padat “Omong Kosong”, Hendra Jaya Putra (Rock N Roll Mafia) pada sampling dan efek suara di “Hidejokasuru”, hingga Dawny (vokalis The Authentics), Septian Maulana (vokalis Belantara), Edo Raditya (vokalis Godplant) yang juga ikut berteriak melatari beberapa lagu di album ini.

“Bunyi agresif yang super-keren, gaya usia 21 dengan hikmat 40-something,” jelas David Tarigan, A&R demajors tentang album ‘Seperti Api’.

“Sangat senang dengan hasil akhir album terbaru Seringai. Heavy, nampol, fun dan penuh semangat…. Setelah lebih dari 16 tahun, saya senang kami masih bisa tetap bersenang-senang dan menggila,” ujar Sammy Bramantyo, bassist Seringai.

Dirilis pertama kali oleh High Octane Production dalam format CD box set seharga Rp 150.000. Produksi awal sebanyak 2000 copy habis terjual dalam sepekan.

Kemasan box set terdiri dari 1 copy CD, 3 buah stiker, 1 buah emblem (patch), 2 buah kartu pos dan 1 buah poster. Sementara format CD reguler dengan harga Rp 50.000 sudah mulai beredar sejak 9 Agustus 2018 lalu melalui jaringan distribusi nasional, demajors.

Diluar itu single “Selamanya” telah rilis lebih dahulu melalui berbagai platform musik digital dan layanan streaming musik seperti Spotify, Apple Music, Deezer, Amazon, iTunes, dan sebagainya. Disusul dirilisnya video musik “Selamanya” yang disutradarai Surya Adi Susianto.

Terbaru, video klip “Adrenaline Merusuh” menjadi single kedua yang memaparkan Seringai runtuh oleh pukulan dan tendangan Iko Uwais. Video besutan Edy Khemod yang mengaku sudah lama ingin kerjasama dengan Iko Uwais ini direspon baik oleh banyak pihak

Penggarapan video klip ‘Adrenaline Merusuh’ dinilai sebagai salah satu yang paling mahal dari video klip yang pernah dibuat Seringai. Menurut Arian, kategori mahal dilihat dari setting yang memakan banyak biaya.

Wajar, hasil tak meragukan. Pada akhirnya saya merasa perlu mengakui bahwa “Seperti Api” adalah album yang segar. Jauh dari kesan kumpulan pria tua penuh komplain, alih-alih perjaka penuh amarah. Seringai adalah kolektif yang tak bergantung pada profesi musisi, mereka kumpulan pria paruh baya yang juga bekerja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *