Menikmati Jazz Tanpa Sekat di Darmaga

Penampilan Idang Rasjidi dan musisi jazz muda di Darmaga Jungle Jazz

Artikel dan Foto : Elnino Sutrisno

Tak sadar, kaki ini terus bergerak mengikuti ritme dentingan tuts keyboard yang berpadu dengan hentakan snare perkusi, mengusik. Malam itu, 9 September 2018, seluruh mata tertuju ke panggung kecil di tengah kampus Fakultas Kehutanan (Fahutan) IPB. Udara Darmaga yang sejuk seakan tak terusik, bahkan turut larut malam itu. Ikbal, lulusan (Fakultas Kehutanan) Fahutan IPB tahun 2016 terlihat berusaha menggiring tiap insan yang hadir untuk bersama mendendangkan “Still a Friend of Mine”, salah satu lagu yang memecah malam melalui perhelatan kali ketiga dari Darmaga Jungle Jazz (DJJ). Ikbal bergabung dalam ExE band yang beranggotakan alumni Fahutan dari berbagai kelas usia.

Sambil terpejam, Adrian Bestari mencoba menggelitik telinga melalui lembutnya petikan bass seakan mengajak Yoyok untuk memainkan jari jemari menciptakan melodi yang indah. Ketukan Pedal Desi Suyamto pun mengundang tiap kaki mendekati panggung. Penampilan kolaboratif ciamik ini pun ditutup apik dengan Medley karya-karya Chrisye.

Malam seakan merayap lamban dan waktu terhenti saat seorang Idang Rasjidi, Maestro Jazz asli kota hujan mulai menjentikkan jarinya di tuts keyboard. Dan penonton pun kembali terhipnotis pedal yang dihentak Josh, panggilan akrab penabuh drum remaja kelahiran 2002 asal Lampung yang bernama lengkap Josafat Song. Lambat laun penonton kembali memenuhi bibir panggung.

Di Belakang Panggung, Syaharani tak sabar ingin membuat malam itu makin hangat. Dan benar saja… ketika namanya dipanggil Idang, tak canggung ia berjalan anggun menuju hamparan penonton dan bergabung ke panggung. Seluruh mata tertuju, surut beberapa langkah untuk memberi jalan untuk dara cantik yang sudah malang melintang dalam dunia Jazz Indonesia. “Georgia on My Mind” pun dilahap dengan apik.

Syaharani

Dennis Junio menghembuskan tenor sax-nya dengan apik, penghuni ibukota ini sukses membuat penonton terkesima. Bibir panggung kembali penuh namun tetap dalam ketertiban, memang kami semua terbius. Seakan belum cukup, Rieka Roslan mengajak semua untuk bernyanyi bersama bahkan menarik beberapa penonton untuk naik ke panggung dan mendendangkan reff “Bawalah Daku” bersama.

Mungkin nama Marcello Tahitoe tak begitu familiar, ia lebih dikenal dengan Ello. Dengan balutan busana serba hitam dilengkapi Fedora hitam dan Gitar Hitam, Ello menyapa Darmaga dengan salah satu hitsnya “Pergi untuk Kembali” sebelum memecah malam dengan gubahan “Wonderwall” dan “Come Together”.

Darmaga Jungle Jazz adalah perhelatan kali ketiga sebagai salah satu rangkaian Hari Pulang Kampus (HAPKA) Fahutan IPB XVII. Event tiga tahunan kampus IPB. Arief Mahmud, selaku ketua pelaksana mencoba membungkus rangkaian HAPKA XVII sebagai media pemersatu dan mempererat kekeluargaan dalam Care and Respect, sehingga mampu bersinergi membangun Negeri. Tak kurang dari 2000 keluarga besar alumni dari segala usia dan penjuru Indonesia berkumpul pada 8-9 September 2018.

Selain DJJ, dihelat pula Gowes Asik, Run 4 Jungle, Launch Arboretum Tumbuhan Langka, peluncuran Forest Digest Digital, gerakan “Celengan Botol”, program sepeda asuh untuk mendukung gerakan Green Campus mengurangi penggunaan kendaraan bermotor di areal kampus. Bak gayung bersambut, Arif Satria selaku Rektor IPB pun menyatakan kesediaannya untuk terus menjaga spirit ini, dalam salah satu poin sambutannya.

Marcello “Ello” Tahitoe

Tak puas rasanya ketika Idang memanggil seluruh personil dan bintang jazz Indonesia untuk bergabung dan menyampaikan perpisahannya. Malam itu, kembali terbukti bahwa jazz tak mengenal Usia atapun ruang. Darmaga Jungle Jazz bukan sekedar musik, karena disitu ada perubahan untuk sesama. Memang besar harapan bahwa DJJ bisa dilaksanakan tiap tahun. Media dalam menyampaikan pesan bagi pecinta musik khususnya di Bogor untuk bisa lebih peduli untuk sesama dan lingkungannya.

Bogor sebagai pencetak musisi Jazz yang makin peduli, saya pikir tak berhenti disini. Kelak akan banyak Josh, Ikbal, Aryo, Dennis lainnya untuk membangun semangat ini.

Karena jazz adalah semangat kita

[Penulis adalah penikmat jazz dan kopi, aktivis lingkungan, pedangan mangga, kolektor akik. Komuter Depok-Bogor pulang-pergi]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *