Mengintip Karya The Luxitania

The Luxitania. Tahun ini mereka rilis single Bluish. Foto : Istimewa

Artikel : Rinjani Reza

HujanMusik!, BogorSemangat kami adalah reaksi pertama begitu mendengar nama The Luxitania. Bagi saya, band yang lahir di Bogor pada tahun 2005 ini menjadi band penyemangat saya dan ratusan kawan lainnya saat berada di tribun penonton menyaksikan PSB Bogor bertanding. The Luxitania adalah satu dari band lokal yang mendedikasikan karyanya untuk mendukung kiprah klub bola kota tercinta, kota Bogor.  “Semangat Kami”  sampai hari ini selalu bergema saat PSB berlaga. 

Band yang tak asing bagi saya karena kebetulan saya berteman baik dengan personilnya.

Dari sini saya merasa perlu memaksa untuk menunggu band ini merilis karya terbaru. Penantian 13 tahun dengan modal single-single yang layak untuk diteruskan dalam bentuk album. Saya tak peduli juga meski mereka  sering ganti formasi, hingga akhirnya kesampaian mendengarkan kematangan produksi single-single lama di tahun 2015 lewat album pertama “teen invasion”.

Kini, setelah nyaris 3 tahun istirahat, mereka terendus telah berhimpun demi penggarapan materi baru. Setelah jejak terakhir dalam Rock In Rain silam. Akhirnya 2018 The Luxitania tetap menjadi band dengan meluncurkan single terbarunya yang berjudul Bluish.

Lagu Bluish sudah resmi dan bisa diintip pada akun YouTube mereka. Selain single, usaha mereka menampilkan visual jenaka patutlah saya apresiasi. Videoklip yang simpel nan jenaka yang dibuat di Bens & co Record itu menjadikan klip yang menarik untuk disimak.

Kabar sedihnya…berdekatan dengan rilisnya single baru, The Luxitania juga harus rela melepaskan salah satu gitarisnya (Obi) untuk hengkang dengan menyisakan Vania (vokal/gitar), Ahonk (gitar), Dendi (drum) dan Galuh (Bass).

Menurut sang pemilik vokal (Vania) yang saya interograsi langsung via DM Instagram, ketika penggarapan lagu Bluish, awalnya mereka bingung menentukan judul lagu.

“Bluish ini maksudnya sih dari kata ‘blue’ yang artinya murung. Menceritakan tentang seseorang yang sedih/murung karena semua perbuatan/perjuangannya selalu gak cukup di mata seseorang yang dia perjuangkan. Gambaran bagaimana perasaan seseorang yang gak dihargai tapi ngga punya power buat keluar dari tempatnya,” katanya.

Terdengar simpel judulnya namun luas maknanya. Inilah hal yang membuat saya enggan bosan dengar lagu-lagu Luxitania. Sedikit bocoran, setelah rilis single Bluish The Luxitania sedang merampungkan materi album keduanya dan merilis ulang album pertama (teen invasion) dalam bentuk kaset. Kesemua proses akan dilakukan bersama label mandiri bernama Tumbila Records, yang salah satu pendirinya adalah gitaris Ahonk. Bagi yang tak asing, Ahonk dilain panggung sering bertindak sebagai drummer punk bersama The Kuda.

Baiklah, sepertinya menarik menunggu kiprah karya mereka. Barangkali ada yang  penasaran seperti saya? mari kita tunggu kabar terbaru dari mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *