Arc Yellow : Limbung Sehabis Ruam yang Mematikan

Arc Yellow, kolektif Depok yang membenturan rock, grunge dengan balutan fuzz. Foto : Dok. Arc Yellow

Artikel : Rizza Hujan

HujanMusik!, Depok – Bahasa merupakan sesuatu yang pelik. Sebuah entitas yang kadang membuat orang terpesona, terbuai, bahkan frustasi. Bahasa juga bisa disebut sebagai sumber kekuatan. Dengannya hati bisa tergerak, logika pun menggelegak. Penuh.

Bahasa adalah modal utama dalam menulis. Baik itu novel, puisi, maupun lirik lagu. Dan percaya atau tidak, menulis sesuatu, khususnya lirik dalam bahasa Indonesia benar-benar menguras energi. Sangat sulit. Setidaknya itulah yang dirasakan kolektif dari depok, Arc Yellow.

Trio yang terdiri dari Gilang T. Firdaus pada vokal dan gitar, Regie Pramana pada bass dan vokal, serta Rizky Octadinanta pada drum dan vokal ini baru saja melempar single ke dua berjudul “Limbung”. Lagu ini merupakan ungkapan sebal mereka tentang betapa sulitnya mengumpulkan kosa kata bahasa Indonesia agar tidak menjadi kalimat yang romantis dalam penulisan lirik. Sebelumnya, single “Ruam” dilepas sebagai penanda lahirnya album baru Arc Yellow.

Band yang pernah menggelar tur di Amerika ini sempat merilis album bertajuk “Mammals” pada Februari 2012 silam dengan menggandeng label independen Depok, Drexter Records. Dan butuh 7 tahun untuk akhirnya mulai mengerjakan album kedua.

Akhirnya, pada April lalu “Oh Well..Nothing” dipilih sebagai tajuk album kedua. Berisi 10 lagu termasuk “Limbung” dan “Ruam”, album ini merupakan pembenturan rock, grunge dengan balutan fuzz. Album ini melibatkan Pandu Fuzztoni (Morfem/the Adams) untuk mixing dan mastering. Menurut mereka album ini tidaklah spesial, karena mereka mengaku masih belum paham bagaimana meracik musik yang bagus sehingga hanya menduplikasi lagu yang sudah ada dan hanya mencoba mengulang euforia yang pernah tercipta dari lagu-lagu tersebut. Namun keterlibatan Deni Taufik Adi (Reid Voltus/Sex Sux/Watersports) untuk menulis sesuatu di album ini dianggap sebagai hal yang istimewa.

Menelan mentah lagi

Konsonan nada mati

Berdalih berdiskusi

Kembali datang dan pergi

Minim referensi

Terjebak situasi

Meludah berasumsi

Percuma limbung nanti

Memaki maki hatjih

Tak senang dilucuti

Minim referensi

Terjebak situasi

Minim artikulasi

Terjebak kalap kondisi

Lirik yang mahal dari sisi pemilihan diksi, bukan?.

Buat saya, menyimak “Limbung” seperti dibawa ke era dimana Sonic Youth sedang berjaya. Sebuah rasa yang berpadu dengan riff dan hentakan ala The Vines, jagoan garage rock asal Australia. Menggetarkan.

Nama Arc Yellow sendiri berasal dari kalimat yang tercantum pada poster kecil di dinding sebuah tembok Studio 144 di area Depok medio 2008. Rangkaian kata berbunyi “Worst arc, worst line, but nevermind it still art and yellow” merupakan inspirasi sebelum diracik kemudian dipilih sebagai nama band mereka.

“Limbung” yang mereka sebut sebagai ketidakspesialan Arc Yellow bisa didengarkan lewat layanan streaming musik serta radio-radio tertentu. Dan semoga, mereka bisa segera berkunjung ke kota hujan tercinta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *