Mereduksi Resah di Accoustic Camp and Art Festival

Gelaran Acoustic Camp and Art Festival 2018 di Bumi Perkemahan Sukamantri pada akhir minggu lalu.

Artikel dan Foto : Rizza Hujan

HujanMusik!, Bogor – Sejujurnya saya berniat mengurangi berkegiatan di alam terbuka. Bukan apa-apa, tapi sakit yang diderita sejak 7 tahun yang lalu takkunjung sembuh. Naas, semakin kuat niat saya, semakin kencang pula godaan untuk mengunjungi rumah nenek di tengah hutan. Sialan!

Sabtu lalu, saya -sekali lagi- dikalahkan oleh hasrat untuk menghadiri sebuah helaran di tempat yang menjadi saksi pertemuan pertama saya dengan Sandra Fay. TNGHS Accoustic Camp & Art Festival (ACAF) tajuk acaranya. Kegiatan ini katanya dimaksudkan sebagai media promosi Taman Nasional Gunung Halimun Salak. ACAF yang diselenggarakan di Bumi Perkemahan Sukamantri ini merupakan rangkaian kedua setelah tahun lalu digelar di Cidahu, Sukabumi.

Sampai di lokasi sekitar jam 11 siang, saat itu terdengar sedang ada sambutan dari seseorang, mungkin pejabat dan saya takpeduli hehehe. Selesai mendirikan tenda dan menyesap kopi sambil rehat saya bergerak menuju sumber alunan musik yang terdengar dari kejauhan.

Menyusuri jalan yang agak menanjak, saya disambut spanduk kegiatan dan suara alat musik khas pariangan yang sengaja dibagikan ke peserta untuk dimainkan bersama mengikuti arahan frontman Sound of Angklung. Sebuah kolektif yang saat itu tengah memamerkan kebisaannya.

Suara angklung berhasil menyulap lagu kekinian menjadi lebih membumi dan seolah menghipnotis mereka yang berkumpul di depan panggung.

Selepas Sound of Angklung acara dihentikan sementara. Saya kembali ke tenda, menikmati kopi untuk kedua kalinya.

Sebenarnya saya menunggu penampilan Akar Bambu dan Imaji Nakal. Dan atas informasi yang saya dapat, mereka harusnya tampil sore hari tapi belum sampai di venue. Jadi saya bicara dari hati ke hati, bersua antar logika dulu dengan seorang kawan di bawah pohon pinus. Romantis, sayangnya dia bernama Acoy dan sudah beristri.

Sekitar pukul 16:00, terdengar lagi petikan gitar di panggung. Saya pikir giliran Acoy dan gerombolan Akar Bambu naik panggung, tapi begitu saya lihat, mereka sedang duduk-duduk di rumput. Awalnya saya tidak tahu siapa yang sedang bernyanyi sekaligus berpuisi di panggung. Setelah memerhatikan dengan saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya akhirnya saya ‘ngeuh’ kalau manusia gondrong satu itu adalah Ncung, gitaris band reggae legendaris, Cocktails. Sore itu Ncung manggung bersama Imaji Nakal, sebuah band yang rajin mengangkat isu lingkungan, terutama Ciliwung.

Akar Bambu yang saya tunggu naik panggung selepas jeda magrib. Sayangnya saya cuma bisa mendengarkan Mas Muh bernyanyi dari tenda karena malam itu hujan. Walau begitu saya tetap ikut bersenandung saat mereka membawakan “Madani” dan “Sudirman Soejono”.

Tadinya, setelah Akar Bambu saya berencana mau diam di tenda saja atau ngobrol dengan beberapa kawan yang juga hadir disana. Tapi tiba-tiba sebuah suara mengundang saya untuk kembali ke area pagelaran musik. Suara yang melantunkan “Dia” milik Malique and D’ Essential itu mampu menggugah rasa penasaran saya.

Cerebrum otak kanan saya tergelitik ketika lagu tersebut dibawakan, terlebih suara bass-nya terdengar menyatu sekali dengan irama gitar membuat saya ingin bergoyang dan ikut bernyanyi. Satu lagi yang menarik dari band bernama Flava ini adalah suara saxophone yang tak pernah absen memperindah musik yang dibawakan meski pada karya aslinya tidak terdapat unsur brass section apapun. Band reggae asli Jakarta ini membawakan beberapa magnum opus milik mendiang Bob Marley seperti “One Love” dan “Three Little Bird”.

Sesuai dengan namanya, Flava terasa enak, seperti makan makanan kesukaan. Rasanya ingin nambah lagi dan lagi meski perut sudah kenyang.

Flava menjadi sebuah closing yang cukup mengobati resah akibat kurangnya daya tarik dari sebuah acara yang menggunakan kata Art Festival sebagai headline. Satu kepingan yang saya rasakan hilang sejak menjejakkan kaki disana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *