Penampakan panggung utama, Main Stage, saat menampilkan unit oldschool punk H2O dari New York, AS. Hanya band mancanegara yang naik ke panggung ini

Artikel dan Foto : Johanes Jenito


HujanMusik!, Jakarta – Adalah Anders Fridén, vokalis In Flames, menggerutu lirih dari balik mic yang digenggamnya
Indonesia, you’re too quite!”
Fridén terheran-heran. Para metalheads yang menyemut di Hammersonic Festival 2018 adalah penonton tersopan selama karirnya menggeram di kancah musik metal dunia. Padahal In Flames adalah top-headliner di ujung malam 22 Juli 2018 itu. Sopan-santun ini tak ditemuinya pada audiens Eropa yang liar terbakar dalam berbagai kesempatan. 
Kesopanan Indonesia terlihat pada sedikitnya metalheads yang intens berlarian brutal dalam circle pit, memisahkan dua kubu dalam wall of death, menabrakkan diri pada area moshing pit, ataupun meluncur diving di atas kepala teman-temannya.
Sebagian besar hanyalah berdiri, megacungkan tangan, mengangguk-anggukkan kepala ikuti ruitme dan sedikit teriakan ‘yeeeaaah”….Gitu doang.
Tahun lalu, di festival yang sama, Dave Mustaine juga melontarkan kalimat senada. Ia dan ketiga koleganya dari Megadeth bilang sambil setengah bercanda.
Is this pop festivals?”
Ya ga segitunya keleus, Mr Mustaine. Dalam hati, saya cuma bisa membatin.
Tapi kesopanan itu hancur berantakan saat band-band metal Indonesia naik ke atas panggung.
Tersebutlah beberapa dari mereka dalam Hammersonic Festival 2018. Pantai Karnaval, Ancol, Jakarta jadi saksi Down For Life, unit metalcore kugiran dari Solo, Jawa Tengah; Marjinal, kolektif punk garis keras dan Noxa, pegiat grindcore berlirik sosio-politik. Dua yang terakhir berakar di Jakarta. Mereka dijadwal panitia untuk mengocok gitarnya tepat saat panas siang hari menikam kepala di bibir Pantai Karnaval, Ancol. Kebayang kan jahatnya matahari ?
Anehnya, jahatnya matahari justru kayak bensin oktan tinggi yang membakar mesin-mesin metalheads untuk beraksi gila-gilaan di depan penampil anak negeri itu.
Lepas maghrib, panggung anak negeri dihajar rame-rame oleh nama-nama papan atas, seperti Revenge The Fate, pengusung metalcore dari Bandung; Forgotten, pemain old-school death metal dari Ujung Berung, Bandung; Koil band post-industrial-metal dari Bandung; Hellcrust, pengulik new wave death metal dari Jakarta; dan tentu saja Deadsquad, grup technical-deathmetal yang menderu-deru dari Jakarta.
Di depan panggung, moshpit bergerak liar tak habis-habis. Ribuan metalheads dipuaskan.
Aksi Andyan Gorust, drummer HELLCRUST, yang bertenaga dan menderu-deru. Ketukannya membikin ribuan metalheads menggila
Sementara di tahun lalu, gelombang keliaran metalheads meledak di depan Burgerkill, Siksa Kubur, Seringai, Revenge The Fate dan kawan-kawan dibandingkan dengan keriuhan Northlane, I See Star, Whitechapel, Tarja, Abbath dan sejawatnya. Ujungnya, Mustaine punya komentar seperti di atas. Duh!
Kok bisa situ ya?
Anggitane, teman saya yang mengasuh blog hujanmusik, punya komentar menggelitik.
“Itulah nasionalisme, Bro.”
Apa iya? Dalam hati saya bertanya.
Zona Distorsi, blog musik keras di dunia maya, bilang bahwa sejarah metal di Indonesia mulai menulae pada dekade 70-an. Saat itu ada Majalah Aktuil yang menggunakan frasa “underground” sebagai padanan kata untuk menggambarkan band-band yang memainkan musik beraliran deras, liar dan extreme pada masa itu
Indonesia punya band yang memainkan Musik itu. Tersebutlah God Bless, Super Kid, Aka/Sas dan kawan-kawan sejawatnya. Mereka ini terinspirasi, kalau tak mau disebut nyontek, dari band negeri jauh seperti Deep Purple, Led Zeppelin, Black Sabbath dan kolega seangkatannya.
Sampai saat ini, keyakinan saya masih bilang, underground anak negeri masih berkiblat, tanpa harus mencontek, pada skena metal benua biru dan negeri Paman Sam.
“Tanpa harus mencontek” inilah esensi nasionalisme-nya. 
Nah, bila keliaran metalheads kita lebih mengapresiasi band-band anak negeri dibandingkan para headliner dari negeri jauh, ini pertanda bagus kok. Artinya, kualitas anak negeri telah meningkat lebih baik. Mereka bisa meliarkan dahaga metalheads Indonesia.
Tapi itu bukan satu-satunya indikasi. Saya juga mengamini ada banyak faktor lainnya.
Sebutlah salah saatunya; para top headliner yang naik ke panggung diatas pukul 22.00 hingga lepas tengah malam hanya akan menemukan audiens metalheads yang telah kelelahan berdansa metal sejak siang bolong. Solusinya, festival bisa dibikin dua hari lamanya dengan area kemping untuk penonton.
Tentunya bila lelah para metalheads hilang, dansa keliaran akan kembali bergelora dan para penampil tak lagi perlu berkeluh. 
Semoga Hammersonic 2019 lebih baik. Itupun kalau masih ada loh.

[Penulis adalah penikmat musik metal, pehobi foto monocromatic dan sesekali sering terlihat mulung sampah Ciliwung di Bogor]
(Visited 1 times, 1 visits today)