Terbaru

Catu Mantra Belantara

Belantara, heavy metal lokal yang menyeruak dan menghentak dengan album perdana Communion. Foto : Belantara
Artikel : Anggitane

Bogor, HujanMusik! - Aura malam sedang tidak ramah, tiga titik gelap menjumpai pandangan sesaat sebelum memastikan ini adalah venue yang seharusnya.

Suatu Mei di 2018 saya tengah terdampar dengan benar di Jalan Pangrango 34, Kota Bogor. Saya tidak sedang berurusan dengan siaran maupun pekerjaan multimedia sebagaimana biasa, melainkan menghadiri acara gembira salah satu talenta Bogor yang merilis album musik saat itu. Sebelum puncak acara demi sebuah wawancara, pendengaran dan kilatan visual saya rupa-rupanya sudah tercuri oleh penampilan unit musik cadas bernama Belantara.

Rencana nostalgia bersama post punk The Safari sesaat tertunda demi menyimak dentuman heavy metal bernuansa rock progresif yang tengah diletupkan Belantara. Mereka adalah salah satu nama yang mengganggu untuk ditemui aksi panggungnya sejak salah satu gitaris punk bernama Idam mengenalkannya pada saya.

Malam itu saya menjadi salah satu penyaksi bagaimana Belantara menawarkan sensasi menikmati heavy metal lokal. Kelompok yang diperkuat Septian Maulana [vokal], Renaldi A. Rimbatara [gitar] dan Supriono [drum], sukses membius dengan memainkan riff-riff sludge metal yang berat dan juga sedikit black metal. Hal yang wajar jika demo pertama pada 2014 silam mendapat respon yang cukup baik oleh skena arus musik keras tanah air.

Kini eksperimentasi Belantara berlanjut kepada debut album bertajuk Communion.

"Kami ingin membebaskan diri dalam bermusik, dan juga melakukan hal-hal yang sebelumnya belum pernah kami lakukan dengan band-band kami sebelumnya," ungkap Renaldi A. Rimbatara pada HujanMusik!.

Dalam Communion, Renaldi (gitaris yang tercatat sempat memperkuat band metal core, Straight Out) bersama Septian Maulana (vokal, pernah tergabung sebagai vokalis SiksaKubur) dan Supriono, berbicara tentang ketidakseimbangan. Kali ini dalam konteks fungsi hubungan manusia dengan manusia dan alam dengan perspektif spiritual.

Eksperimentasi yang menurut saya sukses menempuh harapan setelah proses pengerjaan album yang diakui cukup lama oleh pihak band. Belantara secara cerdas juga berkolaborasi dengan musisi-musisi cadas lainnya seperti drummer Adhitya Perkasa dari SiksaKubur (Nalam Rimba) dan dan gitaris Biman dari Rajasinga (Latar Kendali).

Menariknya, mereka tak hanya menggandeng musisi, Belantara bahkan juga berkolaborasi dengan teman-teman dari Teater Lentera dalam lagu "Holy River: The Bathyalpelagic". Liar…!!!

Tak sia-sia rasanya saya berjumpa malam sebelum Belantara. Per 3 Juli lalu mereka merilis single pertamanya, "Hollow Eyes" via akun Soundcloud oleh label Lawless Jakarta Records. Sejurus kemudian album perdana Communion dirilis dalam format CD pada tanggal 12 Juli 2018 di bawah label yang sama.

Dugaan saya, sindikat 9 lagu dalam album ini cukup dahsyat untuk menghempaskan penikmat musik berat dengan heaviness ala mereka. Sebagaimana aksi yang saya jumpai di studio RRI Bogor dan torehan dokumentasi digital yang tersebar didunia maya. Setidaknya itu menurut saya.

Hail Belantara…!!!

Tidak ada komentar