Petikan Abadi Seorang Ari

AriReda telah banyak memanifestasikan karya-karya mereka dalam melagukan puisi. Kebersamaan mereka telah terjadi sejak tahun 1982. Foto : Ralmond Farly untuk @malibu.ari

Artikel : Sekar Puspitasari

HujanMusik!, Bogor – Saya selalu berpikir saya sanggup menuliskan semua hal, namun barangkali ada kalanya saya tidak mampu menuliskan sesuatu dengan mudah. Tidak semudah menghadirkan kenangan. Saya percaya semesta selalu punya mekanisme tersendiri untuk mempertemukan kita dengan hal-hal tidak terduga. Seperti menemukan sebaik-baiknya kenyataan yang selalu saya harapkan ataupun tidak dan kali ini angka empatbelas menjadi satu syarat saya untuk kembali menuliskan semesta aksara yang sudah saya reka sebelumnya.

Empatbelas adalah menit yang saya butuhkan untuk menentukan kopi apa yang akan saya minum, cemilan-cemilan hari raya apa yang hendak saya makan yang semuanya masih begitu berdesakan ditepian meja, disertai sejumlah lagu-lagu mendayu yang segera saja seluruh elemennya meluruh mencipta satu momen dimana perasaan-perasaan di satu masa itu hadir untuk saya nikmati.

Empatbelas adalah waktu merayakan dan mengembalikan hidup sekaligus, dimana kedua sisi itu selalu hadir seperti dua muka dalam satu koin. Dimulai dari takbir yang bergema dari sudut demi sudut jalan, bersama butir butir hujan yang setia hadir di kota ini yang terasa akrab, namun tetap perlu waspada, karena bisa saja butiran itu bersekutu menjadi deras yang tidak mampu kita tampung. Dan kewaspadaan itu seperti sayap-sayap kecil yang berguguran. Disaat lonceng kebahagiaan berdentingan merayakan kemenangan, kepasrahan akan hidup harus rela diserahkan untuk Sang Maha Pemberi.

Di malam takbir itu, tepat pada tanggal 14 Juni 2018 adalah catatan terakhir Ari Malibu menghembuskan setiap inci nafasnya kepada keabadian. Saya sempat termenung beberapa saat, hidup telah membawanya ke tepian perpisahan setelah bayang-bayang penyakit kanker esophagus yang menyerang kerongkongannya meruak seperti zombie dalam game plants vs zombie. Tak bisa dihentikan, karena segala yang datang akan pergi. Begitulah siklus realitas hitam-putih, sesuatu di antara jangkauan dua pilihan.  Berbagai pesan di lini masa mengenai berita kepergian Ari Malibu memaksa saya untuk menjangkau kembali kenangan-kenangan tentang beliau.

Saya tidak begitu mengenalnya, namun pertemuan tidak sengaja dengan karyanya di sebuah toko buku alternatif bernama Jendela, tempat kencan kesukaan saya dan Rizza yang terletak sedikit jauh dari hiruk pikuk perkotaan kala itu memaksa saya mencipta destinasi dengan bermacam-macam alasan yang selalu penuh kejutan. Ketika itu Nanda, penjaga toko buku Jendela memperkenalkan saya pada DuaIbu setelah sebelumnya saya membeli satu buku klasik milik Sapardi Djoko Damono yang berjudul Hujan Bulan Juni. Duaibu adalah sebuah grup musik yang beranggotakan Reda Gaudiamo, Tatyana Soebianto, Jubing Kristianto dan M.Umar Muslim, juga Ari Malibu yang berkolaborasi mencipta karya dalam album Gadis Kecil dan Hujan Bulan Juni yang kesemuanya mengangkat puisi-puisi Sapardi Djoko Damono. Segalanya terasa begitu menggenapkan.  Setelah perkenalan kecil itu, saya mulai mengikuti jejak-jejak yang bertebaran tentang mereka terutama Ari dan Reda. Berbagai rencana untuk menonton pertunjukan mereka di Cikini tak pernah terealisasi sedetik pun hingga akhirnya saya harus puas hanya melihat mereka dari pemutar gambar dan media sosial.

Foto : Instagram Reda Gaudiamo

Kebahagiaan kecil lainnya menyeruak pada satu masa dimana saya dan Reda berinteraksi begitu baiknya. Beliau dengan keramahan seorang ibu pada anak menceritakan proyek pementasan AriReda ketika itu. Dan lagu  “Sajak Kecil Tentang Cinta” yang menjadi salah satu latar lagu dari film Minggu Pagi di Victoria Street pun pernah beliau kirimkan dengan senang hati lewat surel saya yang seketika membuat saya menjadi seorang manusia yang paling bahagia. Dan tepat pada momen itulah musikalisasi AriReda yang begitu melekat membuat saya menjadi tiba-tiba gugup, kesulitan menjelaskan semuanya. Petikan dawai gitar Ari Malibu dan suara khas Reda Gaudiamo telah menemani saya  seperti seorang teman yang mengajarkan saya berjalan tanpa alas kaki sampai 8 tahun lamanya. Dan kali ini saya biarkan gerimis kecil dari mata saya jatuh dan menyentuh pipi saya karena kesedihan hanya sementara bukan?

Bersama, AriReda telah banyak memanifestasikan karya-karya mereka dalam melagukan puisi. Kebersamaan mereka sejak tahun 1982 dimulai dari membawakan lagu-lagu John Denver, kemudian di tahun 1987  mereka membawakan musik lain yang diperkenalkan oleh AGS Arya Dipayana sebagai Musikalisasi Puisi.  Waktu berjalan seolah abakus, dan selama 25 tahun itu mereka bersama menyanyikan berbagai macam musikalisasi puisi karya sastrawan Indonesia seperi Joko Pinurbo, Acep Zamzam Noor, Goenawan Mohamad, dan khususnya puisi karya Sapardi Djoko Damono.

Selang beberapa lama sebelum kepergian Ari Malibu ditepian laut abadi, saya sempat membeli salah satu buku Sapardi Djoko Damono yang berjudul “Duka-Mu abadi” yang ternyata di dalamnya terdapat juga sebuah kepingan cakram padat kompilasi musikalisasi berjudul “Sebuah Taman Sore Hari” milik Tatyana Soebianto dan Umar Muslim yang terdiri dari tiga lagu puisi dan satu bonus track itu seolah firasat. Kenangan-kenangan tentang perkenalan kecil saya dengan lagu-lagu mereka seperti sebuah sinyal yang berdenyut menghadirkan cahaya yang keberadaannya tak bisa kita tolak dan memaksa kita menciptakan runutan peristiwa yang begitu relevan. Seperti sebuah peta yang memiliki realitas dua dimensi. Melaluinya kita mengantisipasi arah dan tujuan yang menunjukan detail dari tekstur alam yang telah kita tempuh, sehingga membentuk satu cerita yang sama sekali baru.

Sesaat adalah abadi, seperti itu jugalah masa-masa keajaiban yang kita sebut sebagai hidup. Meski sakit, Ari masih sempat mementaskan karyanya di sebuah konser di IFI Jakarta pada tanggal 27 Januari 2018. Kemudian disusul penyelesaian album edisi khusus dan album ke-empat untuk tahun berikutnya, keduanya seolah menjadi pertanda. Bendungan air mata yang menitik perlahan dari mata-mata yang telah mengenalnya begitu lama seolah jebol kehilangan kendali dan perpisahan tak terkecuali. Setelah berjuang habis-habisan untuk bertahan terlebih dahulu. Sekeras-kerasnya Ari Malibu menolak kematian dan perpisahan, ia tetap berlutut pasrah padanya, karena setiap makhluk bisa merasakan jika ajal siap menjemput, jika ucapan selamat tinggal siap terlontar. Dan pada titik itu, segala perjuangan terhenti.

Tetapi jelas sekali bahwa setiap manusia hidup hanya sekali, sementara kematian begitu pasti meski jarak pengetahuan tentangnya tak terdefinisikan satuan apapun. Dari setiap inti sel dalam tubuhmu bertumbuh seiring berjalannya waktu dan seiring detik itu pun waktu kita akan berkurang. Seperti melepaskan balon-balon dari genggaman, kita belajar bahwa betapa singkatnya usia pikiran dan perasaan manusia dalam hidupnya dan betapa dekatnya kita kepada kematian, ketika aliran hidup itu terhenti pada frekuensi kehidupan di luar lingkungan bumi, kita belajar menghargai setiap tarikan benturan nadi dalam aorta kita.

“Pada suatu hari nanti, Jasadku tak akan ada lagi, Tapi dalam bait-bait sajak ini Kau tak kan ku relakan sendiri”

Kejutan adalah kepastian dan tidak ada yang pasti selain waktu. Selayaknya sebuah intuisi saat hidup membawa kita pada puncak kulminasi perpisahan, seluruhnya tersurat sudah lewat proporsi musikalisasi puisi yang begitu sunyi “Pada Suatu Hari Nanti” AriReda.

Sedangkan makna akhir berarti bebas dan Ari Malibu telah menghirup kebebasannya di atas cakrawala. Dan akhir tidak selalu berkorelasi dengan tamat, karena akhir akan melahirkan sebuah awal yang akan menggiring kita pada luasnya kehidupan. Karena itu bukan selamat tinggal Ari Malibu, namun sampai jumpa! Sampai bertemu lagi di kisah berikutnya dalam perjalanan kita menuju pulang bersama abadinya petikan gitarmu.

[penulis adalah warga Taman yang Paling Indah dan Penyuka Sastra]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *