Terbaru

Mereka Tetaplah The Safari


Post-punk Bogor The Safari telah kembali,  mereka tengah bersiap untuk album baru tahun ini. Foto : Graditio
Artikel : Anggitane

HujanMusik!, Bogor - Malam masih muda, belum terlalu larut sebenarnya. Pendengaran masih asyik menikmati hingar bingar dan pekak sound system yang memecah kebisuan Jalan Pangrango 34, tempat berlangsungnya sebuah acara pesta rilisan musik salah satu talenta Bogor. Hari itu saya memilih menunggu hingga pungkas acara, demi bertemu salah satu penampil yang mengusik benak sejak awal Maret 2018, yaitu The Safari.

Semua gara-gara social media yang memamerkan geliat kelompok yang pada masanya dikenal sebagai post-punk-nya Bogor. Sematan yang tepat ga tepat tak jadi persoalan. Toh saya pun mengenalnya demikian, kenal lebih dalam dengan “Disko di Rumah” justru saat sering dibawakan unit electonic-pop Jakarta.

The Safari saya anggap aset penting yang mewakili Bogor pada kancah musik urban sejak pertengahan 2003. Meski media dan penyelenggara acara pada masa itu mengenalnya sebagai band Jakarta, darah Bogor sejatinya kental mengindap para personil yang tumbuh diantara skena punk kota. “Disko di Rumah” hanya karya awal yang terkenal, diskografi mereka sebenarnya diawali oleh album kompilasi “Tentara Cinta, Provoke! The End. Compilation”, “Disko di Rumah (Agrikulture Remix) Riot Compilation”, Material Dansa Galau (Paviliun Records) dan terakhir catatan digital pengantar hibernasi, “Demi Eksistensi” yang dirilis Hujan! Rekords tahun 2011 silam.

Kini, nominator Anugerah Musik Indonesia 2006 untuk kategori alternatif itu tengah bergeliat menuju album kedua tahun 2018 ini.

Gitaris Norman Ahya terlihat bertanya mencari kolega band-nya pada orang-orang yang dikenalnya, saya memilih menyela dan menyapa duluan. Norman adalah tetangga lama yang terlambat saya ketahui keberadaannya di Jalan Senam. Salah satu pengusaha kuliner Bogor yang juga handal dalam urusan desain dan produksi musik. Cipta, rasa dan karsa seorang Norman-lah yang mengawali proses kreatif The Safari, termasuk mengumpulkan vokalis Edo Wallad, bassist Deni Priawan dan drumer Adry untuk kembali berkongsi.

Beruntung, naluri musik masih kuat menancap diantara mereka. Kembali berkarya dan menjadi bagian dari keramaian skena Bogor hari ini menjadi pilihan yang mencerahkan untuk The Safari.

“Geliat anak Bogor lagi asyik nih, greget. Sayang kalau ga ikut berpartisipasi, kayaknya rugi juga,” ungkap Edo Wallad dalam satu sesi bincang belakang panggung dengan HujanMusik!.

Saya memilih melihat melalui kacamata karya, bahwa yang dilakukannya tak semata menumpang keramaian, tetapi menambah keragaman konten musik Bogor lebih bergizi. Sebagai penanggung jawab lirik dan perayu massa, Edo paham betul euforia crowd yang ditemui saat ini, dibanding masa perjuangan mereka. Masa-masa bertemu panggung dan menambah pergaulan hingga ke Jakarta.

Sama halnya dengan kerinduan seorang Deni Priawan pada dunia awal ia menuju dewasa. Terlalu eksis dengan dunia nyata sebagai profesional lembaga jasa keuangan non bank, mengusik sisi liarnya untuk kembali meluapkan energi bersama The Safari. Dalam beberapa kesempatan saya melihatnya sesekali berada di panggung bersama Not For Child, ska-punk/rocksteady Bogor.

Pun demikian dengan Adry, drummer energik yang beberapa kali dalam sesi perbincangan melempar kode soal perubahan permainannya karena faktor usia. Hasrat kolaborasi dalam sebuah band tetap menyala diantara kesibukannya bekerja dan status kepala rumah tangga. Proses kreatif bersama The Safari menjadi penyemangat, sembari menunggu reunian bersama unit britpop Piknik benar-benar terjadi.



Aksi panggung The Safari saat tampil pada peluncuran album The Santoso di studio RRI Bogor, 1 Mei 2018. Foto : Graditio


Materi untuk album baru telah memasuki tahap perekaman. Norman membeberkan bahwa 5 lagu yang direkam tetap menunjukkan siapa The Safari sebenarnya, membebaskan proses kreatif mengalir sekenanya namun tetap patuh pada benang merah yang tak putus.

”Mungkin yang menjada benang merah The Safari dari segi musik divisinya Must [Deni] sama Edo, klo gue sudah agak sedikit berubah, Adri juga. Udah ga cepet-cepet lagi, dari sisi gitar udah di mayor, drum lebih simpel,” terang Norman.

Edo sendiri mengklaim untuk tetap konsisten menulis lirik merespon perubahan yang terjadi. Penambahan tema diperlukan untuk menekankan keresahan The Safari menyesuaikan jaman. Punulis buku puisi ini memilih tetap menjadi realis dengan penggunaan diksi yang ada. Bahkan demi memuaskan hasil kreasinya Edo melengkapi gear-nya dengan efek vokal.

The Safari sejak awal dikenal memainkan musik untuk rekreasi. Mereka jujur dengan pilihan tetap berkumpul dan berkarya atau jera sementara (baca : vakum). Seperti yang mereka lakukan 8 tahun silam, memilih tidak aktif dari industri musik baik panggung maupun proses kreatif. Pembenaran dari sikap skeptis mereka saat itu tentang industri musik lokal, hingga deklarasi berhenti dengan gembira pada 25 Oktober 2009.

Melewatkan 8 tahun dengan diam, The Safari merasa matang dan siap kembali berjumpa dengan karya dan panggungnya. Muncul bersama mimpi, niat, semangat dan karya baru.

“Gue berharap semakin banyak acara, manggung itu nuansanya beda sama bikin lagu. Kita sih pengennya selayaknya band yang rilis album…ada launching dan sebagainya, cuma sekarang fokus bikin lagu dan rekaman,” beber Norman.

Gairah musik mereka sudah teruji pada 2011 saat merilis “Demi Eksistensi”, materi yang mereka rekam 2009 sebelum diam. Diam yang sesungguhnya tak berdiam, mereka tetep bergerak dan mengamati.

“Mimpi gue pengen band-band Bogor bisa manggung di taman-taman di Bogor. Ngumpulin semua anak-anak Bogor, seperti Woodstock tapi ada di Bogor. Saat ini Bogor bagus-bagus kok talent-nya. Audiens Bogor harus lebih appreciate sama lokal band,” cetus Edo.

The Safari bak kapal yang mulai mengangkat sauh menuju laut lepas. Aksi mereka malam sesaat usai perbincangan (1/5/2018) di studio RRI adalah bukti kedua setelah GuguGigs di Jakarta (21/4/2018).

“Berasa 16 tahun yang lalu. Lebih muda dan semangat,” celetuk singkat Must.

Mereka adalah kumpulan seniman yang muncul dengan niat meneruskan karya yang sudah ada. Bukan sekedar band reuni yang besoknya susah dihubungi. Band yang tak terlalu memusingkan setelah post-punk akan kemana.

“Sekarang dengan The Safari lebih beda konsep musiknya. Jadi lebih santai,” kilah Adry menutup perbincangan.

Yah…apapun itu saya yakin mereka tetaplah The Safari.


Tidak ada komentar