Terbaru

Yang Muda Yang Bermain Klasik

Pianis muda Bogor Muhammad Syauqi Hafidz dalam penampilan kolaborasinya bersama ensamble - String Quartet pada resital piano "Melodi untuk Bumi". Foto : Sekar Creative Studio

Artikel : Anggitane

HujanMusik!, Bogor – Denting piano tengah memanggil ketika saya baru tiba di ballroom Royal Hotel Bogor. Semerbak wangi alam seketika menyeruak, bersanding apik dalam bayangan gemericik nada dan kicau burung nan melodius. Mengajak penikmatnya untuk hadir bersama kepak sayap kupu dan biota penanda kesuburan lainnya. Sejurus kemudian saya menyadari bahwa dentingan itu tengah melantunkan “Sabda Alam”, karya Junaedi salat yang dibawakan penyanyi Chrisye tahun 1978.

Masih tak percaya jika nada manis itu dimainkan seorang pianis remaja yang dua kali melakukan resital solo piano ditempat yang sama. Syauqi atau lengkapnya Muhammad Syauqi Hafidz saya nilai tepat mengawali konsernya dengan Sabda Alam. Kami yang diruangan bisa membayangkan dengan jelas bagaimana buana membuka hari dan membangkit sukma. Sabda Alam memang menghanyutkan, tak sadar mata ini sempat berkaca-kaca. Terlebih saat konser yang bertajuk “Melodi untuk Bumi” menyambungnya dengan “Tanah Airku”.

“Melodi untuk Bumi” sejatinya persembahan musik klasik dalam rangka Hari Bumi, 21 April 2018 lalu. Tak heran jika pilihan karya yang dibawakan sarat pesan nuansa alam. Kelestarian bumi menjadi isu yang coba dimainkan perannya kedalam nada-nada indah.

Untuk saya yang sudah menyaksikan pertunjukan resital Syauqi kali kedua, Melodi untuk Bumi terasa berbeda dengan konser sebelumnya. Tak hanya tema, penguasaan panggung, kedewasaan emosi dan permaian tempo mulai dikuasai remaja kelahiran 2004 ini dengan baik. Kejutan lainnya adalah kemampuan kolaborasi apik Syauqi dengan musisi/penyanyi lainnya. Seperti yang saya saksikan saat membawakan  “Tanah Airku” [Ibu Sud] bersama Arden Jauhari, atau “Tokecang” [R.C. Hardjasoebrata] dan “Jatuh Cinta” [Titik Puspa] bersama vokal grup sekolahnya.

Meski saya tak memiliki referensi musik klasik dengan baik, denting piano Syauqi membawakan karya klasik tampaknya kian mumpuni. Jemarinya dengan mudah mengalir bak noktah diantara tuts piano kala membawakan Air On The G String [Sebastian bach], Turkish March [Wolfgang Amandeuz Mozart], Fur Elise [Beethoven], La Priere d’Une Vierge [Tekla Badarzewska], Blumenlied [Gustav Lange], Nocturne OP 9.2 [Frederick Chopin], The Entertainer [Scott Joplin] dan Mapple Leaf Rag [Scott Joplin].

Jika pada penampilan sebelumnya Syauqi cenderung menampakkan ekspresi datar, kali ini ada sedikit ekspresif. Meski sedikit rasanya ini pencapaian berarti bagi remaja 14 tahun itu.

Semakin tak bisa menyembunyikan kekaguman manakala aksi pianonya ditingkahi kolaborasi ensamble - String Quartet. Cukup dua nomor kolaborasi saja sudah membuat saya merasa kecil, belum tentu bisa membawakan "Wonderful World" [Louis Amstrong] dan "Bogor Kota Kesayangan" [Nursamsi] dalam formasi piano-viola-violin-cello dan contrabass.

Menariknya, meski dominan membawakan karya klasik atau karya populer sebelum masa kelahirannya. Syauqi juga menyelipkan single korea populer, khas minat remaja seusianya. Hal ini bisa disimak ketika melodi pianonya membius penonton dan mengarahkan pada original soundtrack Winter Sonata, "My Memory" [Ryu].

“Sejak kecil saya suka musik klasik, suka nonton video yang ada musik klasik didalamnya kayak Baby Einstein,” terang Syauqi.

Pengakuan jujur yang tampaknya tak banyak dialami anak lain seusianya, meski saya curiga influence orang tua-nya-lah yang mengenalkan musik klasik kepada Syauqi. Salah satu buktinya adalah dukungan serial Baby Einstein dan mengarahkan belajar piano klasik dengan orang atau lembaga yang tepat.

“Segala jenis musik sih oke, tak masalah. Kebetulan Syauqi genre-nya musik klasik, pop juga oke selama bisa mengemas dengan baik. Semoga dia bisa lebih berkembang” kilah sang Ayah, Deden.

Begitulah, talenta ada, prestasi ada, dukungan juga ada. Tinggal memastikan iklim musik klasik di Bogor lebih lazim digelar dan mendapat tempat. Pun dengan ruang musik klasik di kota atau negara lain.

Semoga banyak karya lain mengalir selain nomor “Melodi untuk Bumi”.

Sukses !! pianis muda Bogor

Tidak ada komentar