Terbaru

The Buitenboy Rock n Roll Kalangan Remaja

The Buitenboy, Garage Rock n Roll Modern asal Bogor yang sudah merilis dua karya. Foto : dok. The Buitenboy
Artikel : Anggitane

HujanMusik!, Bogor - Sepekan terakhir Bogor sedang kering, cuaca dan suhu seperti kompak bahu membahu menampilkan hawa panas, gerah dan menggoda iman untuk keluar rumah. Untuk kalangan ‘katro’ macam saya, pilihan bercengkrama dengan AC adalah kesalahan. Pendingin buatan pabrikan Jepang dan Cina tampaknya tak baik untuk badan. Ujung-ujungnya saya merindukan hujan, peristiwa yang saya pahami sebagai pendingin alam buatan Tuhan.

The Beatles masih teriak soal pelabuhan dalam “Yellow Submarine” ketika robusta Cibulao selesai seduh manual. Sejurus kemudian, diantara rintik hujan yang meyayat hati perindunya, saya disodori dua materi Rock n Roll kekinian bertajuk “Gastro Oesophageal Reflux”dan “Kriminal Cinta” milik unit Rock n Roll Bogor, The Buitenboy.

Ahh….Graditio memang suka kelewat ajar, suasana syahdu yang tengah saya ciptakan harus cepat-cepat menyingkir gara-gara materi yang dia kirimkan.

Menekuni materi The Buitenboy seperti menemukan keramaian sisi pinggir jalur antar kota antar provinsi. Raungan gitar yang tampak familiar, pergulatan bass dan drum yang berkejaran, hingga vokal teriak mengejar distorsi, seperti akrab saya temui. Garage Rock n Roll modern yang sering dimainkan dalam acara kampus dan sekolah. Jiwa muda nan kentara.

Jika ada penyelidikan musabab panas akhir-akhir ini boleh lah The Buitenboy jadi salah satunya. Musik mereka bak mengancam kota hujan menuju suasana amat begitu panas. Didukung materi dengan tema dan lirik sederhana minim diksi, menjadi mudah dicerna seperti halnya perbincangan sehari-hari.

Empat remaja yang bersahabat sejak Sekolah Menengah Pertama dengan kelebihan rambut panjang yang berbeda itu, telah menyatakan kesiapannya untuk bermusik dengan gembira pada 23 Maret 2013. Ibrahim Jordan (Vokal + Rythem), Sunami Putra Tagore (Lead Guitar), Achmad Bima Fadillah (Bass + Vokal 2) dan Muhammad Handika Pratama (Drum), bermain-main dengan konsep elegan dan urakan, sangat erat dengan aksi huru-hara yang bikin was-was dari penonton sampai ke panitia acara. Disaat generasi sejawatnya memilih tumbuh dengan drama Korea, empat remaja ini malah akrab dengan distorsi dan komposisi Rock n Roll lama macam The beatles, Rolling Stones, Chuck Berry dan lainnya. Sisanya The Strokes, The Libertines dan Arctic Monkeys memenuhi referensi music mereka.

“Pas dapet referensi musik baru kita samain pendengaran, mulai coba bawain lagu lagunya, dan ternyata cocok, masuk banget ke kita dan ya akhirnya jadi influence besar juga, terutama The Libertines,” kenang Jordan sang vokalis dalam sesi wawancara diam-diam dengan Graditio dari HujanMusik!.

Bermusik juga perlu bergaul, tak hanya studio dan panggung. Tambah satu poin untuk band yang menempatkan Rock n Roll Bogor Jeans Roek! Sebagai salah satu inspirasinya. Bergaul hingga nongkrong dan nangkring bareng dengan penggiat Rock n Roll Bogor rupanya sudah menjadi salah teman tumbuh kembang hingga sekarang.

Kembali pada materi “Gastro Oesophageal Reflux” dan “Kriminal Cinta”, saya menangkap kemudahan menerima jalur Rock n Roll yang mereka pilih. Menertawakan penderitaan dan ketertindasan kalau boleh menunjuk maksud. Terlebih “Kriminal Cinta” yang seperti mewakili bukti kegagalan percintaan masa remaja. Keberpihakan mereka pada kaum jomblo memantik keberanian untuk mengkampanyekan gerakan #AntiPlayboy demi pejuang senasib sepenanggungan. Menghibur sekaligus melempar pesan agar kaum playboy tidak rakus, tidak mengambil hak pejantan lain yang kesepian.

Satu pesan moral menarik untuk milenial yang banyak teracuni tayangan sinetron drama ugal-ugalan.

Disinilah saya merasa paham, kenapa seorang Graditio menyodorkan The Buitenboy, sesama peng-kode jomblo memang sudah seharusnya bersatu.

Semangat bersatu, saya sih sudah laku…sekian !!

[ditulis berdasarkan wawancara oleh Graditio untuk HujanMusik!]

Tidak ada komentar