Terbaru

Rindu Kami Pada Panggung Taman Topi

"Cucurak Time", acara Taman Topi berbalut Jamaican Sound terakhir sebelum puasa. Acara ini menjadi panggung formasi silaturahmi salah satu band yang tahun ini rilis kaset. Gambar buram : Graditio
Artikel : Anggitane

HujanMusik!, Bogor
- Tak ada yang dirindukan penyuka musik selain konser musik itu sendiri. Musisi pasti merindukan panggung, label merindukan rilisan dan crowd merindukan tampilan musisi yang disukanya. Silahkan dinilai sebagai pernyataan sembrono dan tidak sahih, paling tidak yang saya saksikan dan rasakan demikian. Barangkali tanpa kerinduan itu, blog musik asal-asalan ini tidak akan pernah muncul dan gagal memprovokasi tiga kolega saya lainnya.

Takdir telah menempatkan saya tergabung dalam unit ska-reggae-rocksteady di kota Bogor sejak 2007 silam. Kami pernah mengalami masa-masa silau dengan rutin tampil bak penganut resep medis. Entah itu di kota sendiri maupun kota tetangga di Jawa. Pernah tampil sebagai perutusan Bogor pada Jambore Ska 2014, hingga terlibat tur penuh drama di Jogja dan Solo. Lantas, dalam satu masa kami juga mengalami masa-masa hibernasi tanpa musim. Motivasi sempat hilang entah kemana, personil ambigu dan pilihan realistis mendera sekenanya. Mengembara pada band mayor hingga hijrah ke Bali mereka jabani. Yang penting bertahan hidup.

Sampai akhirnya panggung terbuka kembali memanggil untuk berkumpul. Bermula label unyu yang menamakan diri mereka Jejak Tikus Records merilis album kami satu-satunya dalam format kaset, berlanjut minat untuk tampil kembali dalam formasi silaturahmi.

Beruntung ada kolega yang senantiasa menerima dengan tangan terbuka, hingga akhirnya tampil resmi di panggung Taman Topi (resminya Taman Ade Irma Suryani), Minggu 22 April 2018.

Seorang Erick berjasa membawa kami sebagai salah satu line up “Cucurak Time”, acara format Jamaican Sound yang rutin diadakan olehnya. Tampil bersama Moonshine, Sill Bocor, Freedom Island, Jenerio, Crazy Monkey, Khotenk N Friends, Republik MKH, Sweet Vibration, Razut Rasta, Pacherast, Keluarga Berod dan Stomach.

Taman Ade Irma Suryani adalah panggung nyaman untuk merayakan perjumpaan. Kami tak bisa menutupi rasa rindu begitu petugas tiket masuk menyoraki sapaan kemana saja selama ini. Terlebih vokalis Kobam yang memerlukan waktu 45 menit untuk tiba dari pintu masuk menuju transit artist  [baca : belakang panggung]. Banyak muka yang harus disapa, ajakan bersalaman hingga foto bersama. Muka-muka yang tak begitu kami kenali sebenarnya, tapi begitulah Taman Topi, selalu saja ada generasi baru yang mengajak kami ha ha hi hi.

Terharu dan tak menyangka, setelah sekian lama crowd masih saja bertahan hingga pungkasan acara. Keharuan mana yang tak menyinggung untuk penampil terakhir dan penutup acara. Kalau mau jujur kami tak terlalu bagus dibanding unit ska masa kini yang melengkapi formasi dengan brass section. Itulah kenapa panggung Minggu itu terasa istimewa, bangga hati ini, bahwa kenyataannya kami masih dinanti.

Terima kasih atas kesempatannya, meski tampil tak sempurna, setidaknya kami masih memiliki asa untuk tetap berada pada jalur ska dan turunannya. Crowd tetap menyenangkan meski gesekan tetap ada. Tapi itupun tak seberapa, namanya juga remaja.

Bersama mendung kami menyudahi acara, bersama hujan dan mereka juga kami meneruskan candaan.

Terima kasih

[penulis adalah pemusik gadungan yang menyamar sebagai pemain kibor untuk Cocktails]

Tidak ada komentar