Record Store Day Bogor 2018 : Saat Rilisan Fisik Menolak Punah

Record Store Day Bogor, perhelatan pesta rilisan musik Bogor ini mampu menarik minat penyuka musik untuk berintaraksi dan transaksi. Foto : Graditio

Artikel : Anggitane

HujanMusik!, Bogor – Minggu baru beranjak siang, seketika kumpulan orang yang dikomandoi Lionglatte Collective! bergerak merambah keramaian plaza lantai dua mal Botani Square, Bogor. Hiruk pikuk pengujung yang tengah berakhir pekan beradu pandang dengan tampilan booth peserta Record Store Day Bogor, 29 April 2018. Lalu lalang orang yang rela ditingkahi sajian rilisan album musik lokal, nasional dan mancanegara.

Ya…Record Store Day Bogor memang tengah terjadi disana. Gelaran kesekian dari kolektif penyuka musik yang memajang rilisan fisik sebagai konten utama. Satu dari sekian skema terpilih, terobosan untuk merayakan dan menempatkan karya musik Indonesia selayaknya. Simbol bahwa rekaman fisik menolak punah.

Beruntung, mereka yang terlibat dan hadir dalam acara ini memang figur yang masih memiliki interest soal musik. Tercatat dalam hitungan saya ada 11 booth kategori musik store dan label independen. Mereka adalah Adams Records, Bens & Co Records, Demajors Records, Eternal Store, FFWD Records, Hujan! Rekords, Jejak Tikus Records, Kebun Suara, Kick It Records, Tromagnon Records, dan Set The Fire Distro.

Sementara sisanya adalah individu yang memiliki kepentingan atau sekedar menikmati pasar musik, tampilan band, demo trade dan talkshow musik.

Sama halnya dengan pengunjung yang lain, saya beruntung tiba di lokasi sesaat setelah panitia membuka acara. Masih sempat untuk menyaksikan Antartick, Texpack, Mery Celeste, Ambarilla, Saptarasa, Topi Jerami dan Neal tampil menghibur. Sekaligus menyimak talkshow yang bicara soal “Apa itu Indie” yang menampilkan Marine Ramdhani (FFWD Records), Edo Wallad (The Safari) dan dipandu oleh Pramedya Nataprawira. Nama terakhir mantan wartawan Rollingstone Indonesia yang kini sibuk bergiat untuk Agordiclub.

Talkshow musik “Apa Itu Indie”. Foto : Graditio

Selain tema umum semacam “Apa itu Indie”, talkshow juga menyibak komunitas kreatif lain yang tengah tumbuh di Bogor. “Geliat Komunitas Kreatif di Kota Hujan” mengajak pengunjung menyimak paparan Yoga Pratama (GSRB Kolektif), Arief Wijaya (Suara Hujan), Aris Nugraha (Lionglatte Collective) dan Gilang Nugraha (Hujan! Rekords) sebagai pemandu acara.

Disela-sela acara, panitia juga memanggungkan music selector oleh Ashes, Cycojano, Edophilia, dan Mengkies.

Record Store Day Bogor juga menyediakan booth khusus berbagi demo musik (demo trade). Booth ini menjadi salah satu jawaban untuk memperdengarkan musik kepada khalayak yang lebih luas. Siapa sangka demo trade direspon dengan baik oleh banyak musisi Bogor. Mereka cukup bawa demo band/grup/proyek solo dalam format digital (MP3/WAV) atau pun fisik (CD), lagu terpilih akan diputar dan direkomendasikan di radio yang bekerjasama dengan Lionglatte Collective!

Panitia melaporkan ada 20 lebih demo yang masuk, catatan yang tak bisa dikesampingkan. Apalagi nama-nama yang masuk tak hanya nama baru, beberapa diantaranya ada nama yang sudah cukup punya tempat pada ranah indie Bogor dan Jakarta.

Interaksi booth demo trade. Foto : Graditio

Masih segar dalam ingatan pada akhir tahun 2013 lalu, gerai musik terbesar dan terlengkap di Jakarta Aquarius tutup untuk selamanya. Menyusul beberapa gerai serupa yang lebih dulu tutup. Tren yang tak hanya terjadi di Indonesia tapi di negara-negara dengan industri musik yang lebih mapan seperti Amerika Serikat atau Jepang juga mengalami hal yang sama.

Maka yang terjadi di Bogor bisa saya katakan bagian dari ‘pembangkangan’, menolak tunduk anggapan bahwa rilisan fisik telah mati.

Buktinya 12 talent musik Bogor unjuk rilisan baik CD maupun kaset. Meraka adalah Krack – Heaven In Return [Hujan! Rekords, Mini 3” CD], Rasvala – Sanguinis [Hujan! Rekords & Kick It Records, Cassette Tape], Det Plag Lust – Dynamic Bass Boost [Kick It Records, Cassette Tape], Neal – Senandika [Tromagnon Records, CD], My Secret Identity – Bittersweet and Those In Between [Tromagnon Records, CD], Cocktails – Fresh for Jammin [Jejak Tikus Records, Cassette Tape], The Rules – Tinggalkan Atau Lupakan [Tumbila Records, Cassette Tape], The Santoso – s/t [Bens & Co Records, CD], VA – Rock In Rain Compilation 2018 [CD], Starwick – Picture of Tomorrow [Belakang Teras Records, CD], Frontxside – Gnothi Seaton [Sepsis Records & Rock In Celebes, CD] Drown – Another Sad Anthems [Empati Records, CD].

Paradigma menyeruaknya teknologi digital telah menggusur era compact disc (CD), kaset dan piringan hitam pada akhirnya bisa mereka selaraskan. Banyak diantaranya hadir dalam versi fisik dan digital.

Tetiba saya teringat penggalan lirik yang ditulis Cholil Mahmud untuk Efek Rumah Kaca :

Kami mau yang lebih indah

Bukan hanya remah-remah sepah

Sudahlah

Kami hanya akan mencipta
Segala apa yang kami cinta, bahagia

Menembus rimba dan belantara sendiri

(pasar bisa diciptakan)

Membangun kota dan peradaban sendiri

(pasar bisa diciptakan)

Bisa jadi penggalan tak bersambung isi tulisan, tapi ini adalah pengejawantahan dangkal yang saya punya.

Selamat, panjang umur rilisan musik.

Saptarasa tampil menghibur. Foto : Graditio

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *