Terbaru

Wajah Abstrak dan Soal Rasa yang Jujur

Band indie folk asal Samarinda, Wajah Abstrak. Kelompok ini memiliki karakter folk menarik, mudah dicerna dan dinikmati. Foto : dok.Wajah Abstrak

Artikel : Anggitane

HujanMusik!, Samarinda - Suatu ketika saya mencoba bebersih file yang memenuhi memori ruang kerja (baca : laptop) dalam 5 tahun terakhir. File-file penting saya tandai sebagai rona petikan perjalanan dengan nama catatan tugas mulia. Sedangkan sisanya sebagai file misterius yang saya tempatkan di desktop maupun download, folder yang sewaktu-waktu bisa dihapus.

Merangsak kepada aplikasi mail bawaan produk mendiang Steve Job, saya dapati terusan email dari gerombolan penulis amatir HujanMusik! yang belum sempat saya buka. Lagi-lagi saya perlu mengutuk diri sendiri, bagaimana bisa melewatkan email penting semacam itu. Materi manis indie folk Samarinda yang memilih "Wajah Abstrak" sebagai penamaan, mengundang untuk ditelusuri lebih jauh.

Saya ingat betul, masa-masa senggang dengan pilihan folk sebagai teman kerja, single ‘Hening’ kelompok yang digawangi Andi Lara Karunia Wandari (Vokal), Dewi Puji Pratiwiningsih (vocal), M Al – Hafid (bass), Muhammad Amrullah (drum), Rusbindranata (violin), Saiful Bahri (gitar) dan Syarief Hidayat (gitar, vokal), lama singgah di playlist sehari-hari.

Menyusul gelar karya selepas memutuskan eksis dalam dunia musik 2014, awal 2018 lalu mereka telah merilis video musik “Suara Minoritas”. Karya penting lanjutan untuk single dalam album SAMDAYS Compilation yang direkam Juni 2017 silam. Menyimak “Suara Minoritas” saya seperti menemukan nuansa campuran Barasuara dan Pandai Besi didalamnya.

Kuasa lirik yang berusaha memaparkan ketimpangan yang jamak ditemui sehari-hari, saat dimana tak berdaya adalah tema sekaligus pesan utama minoritas. Kebenaran seperti sepi dari rajutan asa, terbungkam karena sering berjumpa aturan semena-mena oleh yang punya kuasa.

Diluar nada, tampilan visual yang coba mereka tawarkan seperti mengajak penyimak untuk hadir dan mengenali sisi Kota Samarinda. Menegaskan bahwa mereka satu dari sekian talenta Samarinda yang layak dipentaskan. Meski video besutan Raysha Daud (Bikin Pilem Cinema) ini sejatinya hendak menitikberatkan pada ruang dan waktu. Berbicara mengenai kesedihan, kekecewaan, kebencian hingga keterpurukan yang dirasakan. Mencoba menginterpretasikan rasa yang jujur dalam setiap syair secara visual.

Baiklah, sampai disini saya setuju soal rasa yang jujur itu.  Wajah Abstrak dengan “Hening” dan “Suara Minoritas” tak boleh lepas menemani hujan yang mengguyur Bogor, kota dimana saya menuliskan ini.

Tidak ada komentar