Terbaru

Panasea Itu Bernama Music For Sale

Music For Sale, satu dari sekian talenta musik Bogor yang karyanya banyak dinikmati konsumen musik Indonesia
Artikel: Rizza Hujan

HujanMusik!, Bogor
- Music For Sale. Lagi-lagi nama itu menghampiri ingatan saya yang mulai kusam. Penyebabnya adalah respon seorang personil Music For Sale (MFS) pada salah satu postingan di Instagram HujanMusik!.

Mario Amrillah, vokalis band asli Bogor yang menurut saya sampai saat ini belum ada yang bisa menyamai, membagikan sesuatu di Instagram HujanMusik!. Tidak bermaksud merendahkan band lainnya, tapi Music For Sale mempunyai sesuatu yang lebih, walau saya pribadi sulit menjelaskan apa kelebihannya. Mungkin klise bicara soal musikalitas, tapi yang pasti karya Mario dan kawan-kawan begitu mengikat.

Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya, "So Right" adalah lagu perkenalan antara saya dan mereka. Lagu yang dahsyat dan tahan lama. Dan kabar baiknya adalah, mereka baru saja merilis album baru. Rentang waktu yang cukup lama sejak album "Daydream" yang dikeluarkan 2010 lalu. Dan kata Mario album baru yang mungkin bertajuk "Anywhere But Here" ini memakan waktu sampai 3 tahun proses pengerjaannya.

Ketika ditanya tentang adakah perbedaan materi di album "Daydream" dengan "Anywhere But Here", Mario menjawab dengan mantap.

"Di album ini nanti akan terdengar lebih banyak variasi dan akan terdengar perbedaannya, namun benang merah MFS-nya masih sama," katanya melalui media sosial Whatsapp.

Mario menjelaskan bahwa di album kedua ini, lirik lagu kebanyakan ditulis oleh Leody. Selain itu MFS juga dibantu oleh Rendy Pandugo pada gitar dan Duan Farezka memainkan bass.

"Selain semua personil, Rendy dan Duan juga mempunyai pengaruh besar dalam hal aransemen musik," paparnya.

Sementara soal bentuk rilisan, kali ini Dion dan kawan-kawan menyesuaikan dengan tren masa kini. Jika di album pertama mereka merilis album dalam bentuk cakram padat, maka pada album yang direkam di sebuah studio di Jakarta Selatan ini, MFS menawarkan karyanya melalui platform digital seperti I Tunes, Apple Music, dan Spotify.

Music For Sale sendiri berawal dari passion yang sama para personilnya. Semua tinggal di kota hujan dan kebetulan sebagian dari mereka ada kaitan keluarga. Referensi musik mereka yang beragam seperti Beatles, Level 42, Eels, 90s Alternative Rock, John Mayer, EWF, Toto, hingga Goo Goo Dolls tidak menjadikan MFS sebagai sebuah kolektif yang mementingkan ego. Semua itu membuat mereka semakin kuat dan menghasilkan karya yang akhirnya menjadi warna tersendiri, warna Music For Sale.

Banyak orang menganggap musik adalah sebuah panasea atau obat dari segala macam penyakit dan kesulitan. Untuk saya, harmoni yang diciptakan Music For Sale mewakili anggapan tersebut. Semoga Mario dan MFS segera merampungkan segala sesuatunya lalu menggelar konser di Bogor dengan penonton seratus ribu orang, sesuai dengan indikator kesuksesan musisi dari mata Mario.

Tidak ada komentar