Terbaru

Menelisik Rendaman Mezzo-Soprano Seorang Irine

Sugiarto Irine, singer & song writer asal Balikpapan, Kalimantan. Selepas single "Besok-Besok" kini tengah fokus merampungkan EP "Altokumulus Kelabu". Foto : Sugiarto Irine

Artikel : Anggitane

HujanMusik!, Samarinda - Namanya Sugiarto Irine, perempuan 21 tahun ini satu dari sekian talenta musik nusantara yang sejak Februari 2018 lalu menumbuhkan rasa penasaran yang dalam di HujanMusik!. Keberaniannya muncul ke kancah musik Indonesia layaknya anomali ditengah padang kompetisi ‘nyanyi’ ditelevisi.

Seolah muncul dari kesenyapan, solois asal Balikpapan yang menetap di Samarinda ini menyeruak membagikan cerita dan pengalaman jiwanya lewat tutur dan nada yang layak untuk disimak. Buah memoar masa kecil yang akrab dengan tutur dan nada. Mempelajari gitar secara otodidak, mereka ulang kejadian lewat komposisi lirik yang lugas, serta pemilihan diksi yang sedikit banyak dipengaruhi pengalaman spiritualnya.

Berlaku sebagai seorang singer & song writer, Sugiarto Irine menemukan momentum pendulum “Kumpulan Kisah yang Pertama” sebagai sapaan perkenalan awal Januari 2017. Materi yang direkam dengan pola musician bedroom dan direndam dalam suara mezzo-soprano, berhasil mencuri perhatian penikmat musik tanah air.

Wajar jika publik musik menariknya lebih jauh, tak hanya penikmat musik Samarinda belaka, ada Folk Music Festival 2017 di Batu [Malang] Jawa Timur, Soundrenaline 2017 di Garuda Wisnu Kencana, Bali. Hingga tebaran agenda musik semacam Folk Tunggang Gunung dan Bentara Budaya Yogyakarta, Februari 2018.

Kini, rendaman elemen retro pop, folks dan jazz minimalis yang mewarnai karya-karyanya kembali ditabur melalui single “Besok-Besok”. Materi utama yang disinggung sebagai beranda mini album “Altokumulus Kelabu”, yang sedianya rilis April tahun ini. “Besok- Besok” sejatinya telah dirilis secara swarilis via situs www.budearto.com, sejak 15 Februari 2018.

Menariknya, meski unggul sebagai solois, single ini justru hadir dalam format full band.  “Besok-Besok” dipilih mewakili kemunculan Sugiarto Irine dengan format yang baru. Sekaligus menggenapi karir bermusiknya selama hampir setahun di skena musik sidestream Samarinda, Balikpapan hingga kancah nasional sejak awal 2017.

Buah karya dari perkawinan harmonis beberapa musisi asal Samarinda. Sebut saja Muhamad Ranaldi Yamin (bass-Murphy Radio, Yono Eliani, Rima Hari Senin), Dennis Berhan (gitar-Dennis Berhan Trio, Yono Eliani), Johan Bagus Triwidodo (keyboard-Presiden Sikat Gigi), Andre Sulupandang (keyboard), serta Wijaya Pambudi (drum-Wijaya Pambudi Project, Yono Eliani).

Meski hadir dalam format full band, keringanan “Besok-Besok” nampak jelas sekuat tenaga tetap dijaga, demi tetap bisa dinikmati dengan mata tertutup dan hati yang terbuka.

“Untung saja, tim di Widi Studio mampu mewujudkan imajinasi dan harapan kami atas hasil akhir lagu ini," tulis Irine dalam komunikasi surel dengan HujanMusik!.

“Besok-Besok” terpapar sebagai langkah menanyakan harapan, apakah ada di hari esok. Seperti mengingatkan tak ada yang berdaya di hadapan sang waktu.

Buaian perempuan berusia 21 tahun ini juga menegaskan bahwa karya barunya ini bisa memberi pengalaman menyimak nada transformasi yang tetap menyenangkan. Single ini adalah awal dari segala harap yang bisa dirapalkan sebagi karya yang jernih.

Dalam proses panjang penciptaan materi “Altokumulus Kelabu”, EP yang direkam di Widi Studio, Sugiarto Irine terus berbenah dan bertransformasi memintal karyanya. Memperkaya indera pendengaran pendengarnya melalui perjalanan audio yang unik dan mewah. Layaknya menyaksikan Sugiarto Irine tertunduk takzim atas haru dan syukur, membalas senyum dan merangkul jiwa-jiwa yang  senantiasa merayakan kehadirannya.



Tidak ada komentar