Terbaru

Indonesia dalam Gelora Oldskool Antartika

Antartika, proyek musik besutan Bimo Sulaksono, Melisa Salangka dan Denny Indrajaya yang menawarkan kesegaran  nuansa punk rock nan oldskool. Foto : dok.Antartika

Artikel : Anggitane

HujanMusik!, Jakarta - Beberapa pekan ini sejatinya saya sedang malas menikmati kopi ala kadarnya. Aktivitas memadat dan tersekap di ruang meeting sebuah hotel di Jakarta, sejenak melumpuhkan syaraf penikmat kopi. Aroma dan rasa seperti menolak indera perasa dan meneruskan informasi ke otak, sangat bertolak belakang . Sayangnya saya tak cukup waktu dan pilihan menemukan sajian custom barista penuh suka cita, jadi ya terima apa adanya.

Dampaknya, lenguhan penyanyi psikedelik yang menghias ruang kerja bak salah kamar. Mood menjadi tak menentu, ditambah playlist random koleksi driver sewaan Jakarta – Bogor yang menghilangkan selera mengulasnya. Asli, suasana buntu dan perih kalau dibayangkan.

Tak mau mati kutu ditikam sepi, jemari ini terus bermain gadget demi mencari sound yang tepat. Terapi pemutus kebuntuan itu pada akhirnya jatuh kepada “This Ain’t No Picnic”-nya Minuteman, oldskool punk rock 80an yang lahir di San Pedro, California. Sound besutan mendiang Mike Dan Dennes a.k.a D. Boon saya nilai sukses meredakan jengah. Deretan daftar putar-pun berlanjut kepada “Little Man With A Gun In His Hand”, “I Felt Like a Gringo” dan ”My Heart and The Real World”.

Puas menikmati Minuteman, oldskool punk rock berlanjut kepada “Mari Kita Let’s Go”, debut single milik Antartika yang rilis September tahun lalu.

Ada yang menarik minat dari Antartika untuk saya diulas secara singkat. Saya mendapati nama Bimo Sulaksono sebagai salah satu tokoh yang membenamkan rona punk pada musik Antartika. Bagi yang belum familiar, Bimo adalah figur yang sempat hadir bersama Netral dalam formasi awal bersama Bagus dan almarhum Miten.



Antartika menjadi kepuasan tersendiri menyimak punk rock ala Bimo selepas Brutal. Setidaknya bagi saya yang tak puas menemukan sisi punk rock dalam formasi Netral baru. Kali ini bersama koleganya vokalis Netral, Melisa Salangka, drummer bernama lengkap Akso Bimo Sulaksono melaju bersama Antartika yang mulai di jalankan sejak September 2017 lalu. Selain Melisa Salangka (Vokal) dan Bimo, ada nama Deny Indrajaya yang bertanggung jawab pada divisi gitar.

Saya menikmati sajian ‘Mari Kita Let’s Go!!” yang klaim-nya mengambil filosofi pemicu adrenalin agar selalu logis dan optimis dalam hidup. Antartika menyebut musik yang mereka tawarkan sebagai Punk Alternative baru di industri musik Indonesia. Salah satu yang saya sukai adalah keberanian melaju dengan unsur industrial dalam pemilihan sound, utamanya sound efek di vokal. Semacam nostalgia bertemu kembali dengan Shirley Ann Manson (Garbage) melalui Melisa.

Terbaru, pada 9 Maret 2018 lalu mereka mendedikasikan sebuah karya untuk Hari Musik Nasional yang bertepatan dengan hari lahirnya komponis besar Indonesia, Wage Rudolf Supratman. Yaitu single kedua yang berjudul “Indonesia Raya”.

Judul lagu yang sengaja disamakan dengan judul lagu kebangsaan ini merupakan bentuk apresiasi demi memotivasi anak bangsa untuk selalu ingat nilai kebangsaan, meski segala perubahan jaman mendera sini-sana. “Indonesia Raya jaman now..,” demikian kutipan rilis dari Bimo yang sempat bareng Romeo, Dewa, Ahmad Band dan TBK.


Antartika memang terang-terangan membawa imaji saya kepada nuansa punk rock nan oldskool. Dengarkan saja gebukan drum dan bungkusan reff gitarnya, saya terjebak menyebut satu persatu band era 80an yang khas pada masanya. Dan itu sudah terjadi dibagian awal saya menuliskan artikel ini.

Semoga Antartika tetap berada pada jalur yang saya suka. Oldskool nan fresh tanpa banyak basa-basi.

Tidak ada komentar