Terbaru

7 Lagu, 7 Rasa, Satu Indonesia

Di Indonesia, musik pengobar rasa nasionalisme sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Karya tersebut tidak selalu berisikan hal-hal positif atau indah, ada juga muntahan kritik dari penciptanya. Gambar Ilustrasi : Graditio

Artikel : Rizza Hujan

HujanMusik!, Bogor -  Langit muram, seakan dia sedang berduka. Hujan bersenandung dari pagi hingga siang ini. Kecuali para petani, rasanya akan ada banyak alasan terlontar dari mereka yang tiba-tiba malas beraktivitas, entah untuk belajar atau bekerja. Saya sendiri dengan sabar menemani Gallura Pagi yang bermain tanpa lelah sembari menulis diiringi alunan musik dari lagu-lagu pilihan sendiri.

Bicara soal lagu, mungkin jumlahnya sudah sekian juta sejak notasi musik pertama kali ditemukan oleh Al Farabi berabad silam. Tema yang diangkat pun beragam. Diawal kemunculannya, tema-tema kemanusiaan dan kritik mendominasi komposisi lirik.

Musik dengan segala daya tarik dan kerumitannya terus berevolusi, pun dengan lirik. Tentu saja cinta selalu jadi primadona. Cinta sesama manusia, cinta pada pasangan, cinta alam serta bentuk cinta lainnya terlalu menggoda untuk tak dirangkum menjadi sebuah cerita dengan diiringi melodi yang mendayu.

Lagu cinta melulu. Begitu mungkin pikiran sebagian musisi dan pencipta lagu. Sampai akhirnya ilham datang pada mereka untuk memperluas khasanah penulisan lirik. 

Di Indonesia, musik pengobar rasa nasionalisme sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Karya musisi-musisi nakal tersebut memang tidak selalu berisikan hal-hal positif atau indah, ada juga yang menggambarkan ketidaknyamanan akan kondisi kehidupan sebagai muntahan kritik dari penciptanya. Tapi apapun itu, semua ada karena rasa cinta pada Indonesia. Kemajemukan yang ditawarkan negeri seribu pulau menambah warna tersendiri.

Era tahun 70an ada sebuah anthem berjudul “Kebyar Kebyar" yang juga merupakan tajuk album terlaris grup musik Lemon Trees Anno 69 yang dimotori oleh Gombloh. Orang Indonesia mana yang tidak tahu lagu ini, lirik penuh makna dan komposisi musik yang mudah dicerna membuat “Kebyar Kebyar” menyerap ke dalam jiwa pendengarnya. Sejak dirilis tahun 1979 lalu, karya yang menjadi trademark Gombloh masih relevan untuk didengarkan.

Band rock elektronik asal Inggris, Arkarna pernah merilis lagu “Kebyar Kebyar” bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia ke - 70. Sebuah bukti nyata bahwa lagu ini memang berkelas, easy listening, sekaligus mempunyai sihir nasionalisme tinggi.

Mundur setahun kebelakang, ada satu magnum opus dari seniman serba bisa, Harry Roesli. Lagu berjudul "Jangan Menangis Indonesia" menjadi manifestasi kecintaan Harry Roesli pada Indonesia. Seolah ingin menegaskan bahwa semua yang dilakukannya selalu tentang Indonesia.

Sepanjang karir bermusiknya, Harry memang kerap menelurkan karya yang menyindir penguasa. Karena itu pula beliau pernah merasakan dinginnya tembok penjara. Tapi, peristiwa tersebut tidak mematikan kreatifitasnya. Beberapa lagu tercipta dari dalam ruang sempit yang menjadi bentuk representasi kepahitan hidup tersebut, salah satunya adalah "Jangan Menangis Indonesia".

Harry Roesli dan Geng-nya adalah satu dari sedikit musisi lokal dengan karya bernuansa internasional. Musik beliau mungkin tidak akrab di telinga pendengar umum, tapi coba tanyakan pada musisi papan atas Indonesia. Dijamin, pujian setinggi langit akan terlontar dari mulut mereka. Jika Fariz RM disebut sebagai maestro, maka Harry Roesli layak menyandang gelar guru sang maestro.

Tetapi, jauh sebelum Gombloh dan Harry Roesli eksis, Indonesia sudah memiliki musisi yang gemar menyuarakan kritik atau meluapkan kecintaan pada negeri ini. Dara Puspita, kelompok musik wanita asal Surabaya merilis debut album pada tahun 1966. Salah satu lagu berjudul "Tanah Airku" tertambat disana. Lirik yang sederhana, sesederhana kualitas rekaman jaman itu membuat lagu unit musik ini mudah diterima pendengarnya. Dari sisi personil yang kesemuanya wanita saja, sudah terlihat bahwa mereka mempunyai jiwa pemberontak, melawan arus.

Waktu terus berlalu, musik berevolusi, musisi kian bertambah banyak, komposisi makin variatif sekaligus berani. Lagu-lagu yang menyuarakan motivasi kebangsaan pun terus mengalir.

Garuda di dadaku
Garuda Kebanggaanku
Ku yakin hari ini pasti menang 

Dia yang mendengar lirik tersebut kemungkinan besar akan langsung ikut bernyanyi, berteriak, atau bahkan menyalak. "Garuda di Dadaku" sering berkumandang saat sebuah pertandingan olahraga digelar. Lagu ini memang pantas dijadikan penambah daya para atlit yang tengah bertarung membela nama baik Indonesia. Gemuruh suara penonton seisi stadion sepakbola atau gelanggang olahraga bulutangkis saat menyanyikan lagu ini bisa memberi suntikan semangat para pemain untuk terus berlari sekaligus menciutkan pemain yang menjadi lawan. Betapa ajaibnya efek yang ditimbulkan sebuah lagu dan lirik.

Netral (NTRL, -red), sebagai sang pemilik “Garuda”, patut bangga dengan satu kesuksesannya ini. 

Dari gelanggang kita berlabuh di sebuah ruang bernama Efek Rumah Kaca. Ruang ekspresi bentukan Cholil Mahmud yang mempopulerkan pop minimalis, yah walau sekarang mereka meninggakan keminimalisannya dengan terlihat dan terdengar lebih ramai.

"Menjadi Indonesia" adalah bentuk kegalauan seorang Cholil terhadap kondisi negara dan masyarakat Indonesia. Dibalik kekecewaan itu, terselip setitik harapan Cholil dan kawan-kawan agar semua elemen bangsa ini bangkit dan berbuat sesuatu untuk negeri.

Lekas bangun dari tidur berkepanjangan
Menyatakan mimpimu
Cuci muka biar terlihat segar
Merapikan wajahmu
Masih ada cara menjadi besar

"Menjadi Indonesia" mengingatkan saya pada seorang kawan yang akrab dipanggil Otong. Saat memegang gitar, pasti lagu ini yang pertama kali dimainkannya. Meminjam istilah dia, lagu ini Goks!!!, membakar semangat dan meminta kita untuk tidak larut dalam kesedihan. Goks men!!

Setelah terbakar dengan rutukan "Menjadi Indonesia", mari merenung bersama satu balad dari musisi bertimbre khas, Chrisye namanya. Bagi Chrisye, bentuk cinta pada negeri itu tidak harus dengan tindak heroisme dan sikap gagah. Karya berjudul "Negeriku" merupakan ungkapan terima kasih secara ikhlas dan menggelora.

Oh negeriku
Negeri cintaku
Selalu ada dalam hatiku
Cinta Negeriku

Akhirnya, berawal dari karya seorang yang besar di jalanan bernama Gombloh, artikel ini juga akan diakhiri oleh mereka produk asli jalanan kota Bogor.

Indonesia dalam keterpurukan
Aset asasinya terampas
Dari tangan rakyatnya
Tanah dan air
Konflik terus merebak
Penindasan manusia oleh manusia terus terjadi

Penggalan lirik diatas adalah bagian dari lagu berjudul "Indonesia". Lagu ini dibawakan dengan penuh rasa oleh Oncom Hideung, unit folk yang belum lama ini merilis album " Jangan Berhenti Bermimpi".

Tidak perlu panjang lebar untuk menjelaskan maksud dari lagu ini. Diksi sederhana dalam liriknya mudah untuk dimengerti, ringan namun kuat.

Semua harapan saya sudah terwakili oleh karya-karya ini, mereka berbeda tapi sekaligus sama.
 7 lagu pilihan, 7 rasa yang didapatkan, demi satu Indonesia yang lebih baik jadi tujuan.

Tidak ada komentar