Terbaru

Rock and Roll dan The Jakasembung : Jalan Terjal Menuju Keabadian

Bepe, vokalis urakan dari band bengal The Jakasembung (Jabung). Sejak kemunculannya pada 2002, nama The Jakasembung terpatri kuat dalam ingatan penikmat musik rock and roll Bogor.

Artikel & Foto: Rizza Hujan

HujanMusik!, Bogor - Selain Brad Pitt dan Edward Norton, Leonardo DiCaprio adalah aktor yang saya kagumi. Film yang mereka bintangi tidak pernah mengecewakan saya. Pitt dan Norton begitu mengagumkan dalam "Fight Club". Mereka seakan diciptakan dengan ruh dan bahan baku yang sama, menyatu dalam jiwa Tyler Durden. "Red Dragon" dan "Benjamin Button" adalah masterpiece lain dari mereka berdua.

Sementara, Leonardo DiCaprio yang disebut-sebut lebih besar dari Henry Fonda bahkan Marlon Brando adalah sosok yang fenomenal. Sama seperti dua kompatriotnya yang disebut diawal, Leo  hampir selalu memikat dalam setiap penampilannya.

Meski akhirnya mendapatkan Oscar karena akting yang luar biasa dalam "The Revenant", Leo pernah beberapa kali gagal meski sering masuk nominasi Oscar. Tapi, menurut saya, walau jika tidak pernah mendapatkan penghargaan apapun, dia tetap seorang aktor besar dengan karisma luar biasa dan tentu magnet bagi sebagian besar wanita di muka bumi.

Di dunia musik, khususnya Bogor, DiCaprio mengingatkan saya pada seorang lelaki bernama Bepe, vokalis urakan dari band bengal, The Jakasembung (Jabung). Mereka adalah representasi rock and roll kota hujan, setidaknya begitu menurut saya.

Sejak kemunculannya pada medio 2002 hingga hari ini, nama The Jakasembung tetap terpatri kuat dalam ingatan para penikmat musik rock and roll Bogor.

Masih tercitra dengan jelas dalam ingatan saya saat Jabung manggung dalam gig yang saya gelar di kampus dulu. Sore di tahun 2004 itu adalah pengalaman pertama saya menyaksikan The Jakasembung tampil secara live.

Liar sekaligus nakal mungkin adalah kata yang bisa mewakili The Jakasembung saat tampil di panggung. Bahkan di bawah panggung pun mereka memang tidak bisa diam, ada saja ulah yang jadi bahan pembicaraan. Mungkin dorongan alkohol berperan besar atas semua keseruan yang mereka ciptakan, dan attitude seperti itu akhirnya menjadi ciri khas yang tidak akan pernah luntur.

Sepanjang karirnya, The Jakasembung sudah menelurkan dua album yaitu "GURITA" (Gurihnya Tiada Tara) dan "GURAME" (Gurihnya Rame-rame). Kabarnya mereka berhasil menjual 800 keping CD ditambah jutaan kali diunduh para perambah ilegal album tersebut. Begitu klaim The Jakasembung dalam blognya.

Pasukan anti kemapanan yang beberapa kali berganti personil ini pun pernah mengggemparkan panggung street underground dengan penampilan mereka yang mencuri perhatian para patriot Punk. Hal ini mengingatkan saya pada pernyataan Graditio bahwa pada dasarnya The Jakasembung itu punk dengan tampilan rock and roll.

Laju Reza dan kawan-kawan tidak berhenti sampai di sana. Mereka melanglang-buana di pensi dan gigs dengan segala keabsurditasannya. Sampai akhirnya, membuat sensasi dengan prestasi tampil di panggung Soundrenaline, Jakarta.

Tahun 2005, dengan venue pelataran Circle K di kawasan Air Mancur yang terkenal jadi tempat nongkrong komunitas musik dan remaja pada zamannya itu, mereka membuat kota Bogor yang tadinya macet menjadi super macet dengan pengumpulan masa terbesar di jalan utama menuju Istana Bogor. Seingat saya, peristiwa ini belum pernah terjadi sebelumnya. Bahkan sampai hari ini, hal itu belum terulang.

Sayang, ketika masih dalam puncak karir, The Jakasembung terluka dengan meninggalnya sang lead guitarist, Mei Yuanda, karena sakit. Momen itulah yang menjadikan mereka terjun bebas kembali ke dasar ke-vakuman dari dunia musik. Selain itu, kesibukan masing-masing personil juga jadi alasan band yang pernah tampil di salah satu stasiun tv ini seolah pergi jauh dari hingar bingar dunia musik.

Beberapa waktu lalu, frontman The Jakasembung pernah mengungkapkan keinginannya untuk kembali naik panggung. Saat itu, Lapas Paledang yang menjadi target. Tapi sayang, wacana tersebut terpaksa batal karena pihak lapas tidak memberi izin.

Menilik semangat Bepe mempertahankan keinginan bermusik sedikit mengingatkan saya pada Leonardo DiCaprio dalam menggeluti dunia film. Tidak pernah menyerah dan terus mencoba untuk eksis. Dan akhirnya ketekunan tersebut diganjar melalui penghargaan. Leo dengan Oscarnya, sementara abadinya Bepe bersama The Jakasembung di ingatan para penikmat musik merupakan raihan tertinggi untuk pionir rock and roll asal Bogor tersebut. Untuk melengkapinya, tulisan ini saya dedikasikan sebagai tribut dan penghormatan pada mereka.

Tidak ada komentar