Terbaru

Kuda-Kuda The Kuda


The Kuda dan formasi terbaru tahun ini. Formasi inilah yang tengah sibuk menggarap album penuh dalam bentuk album vinyl The Kuda. Foto : Anggitane, IG The Kuda, IG Texpack

Artikel & Gambar Amatir : Anggitane

HujanMusik!, Bogor - Hujan baru saja beranjak pulang, cuaca redup berganti terang dengan jilatan sinar matahari yang tampaknya masih malu-malu unjuk diri. Meski suasana pekerjaan tengah memadat, notifikasi pesan dari seorang gitaris bernama Andi ‘Idam’ Fauzi, tampaknya sayang untuk dilewatkan. Ya…saya memang tengah memburu kabar baru dari The Kuda, unit punk rock ugal-ugalan dari Bogor yang cukup dekat tapi tetap membuat penasaran untuk diulas. Bertemu dan mengkonfirmasi langsung pada gitarisnya saya rasa cara yang pas, setelah gagal mencari cara terhubung dengan vokalis, bassis dan drummer.

Tawaran berjumpa pada lokasi yang diketahui sebagai workshop tas berlabel Kaputan, membuat saya tak perlu pikir panjang. Bisa dipastikan, ajakan berjumpa akan terasa hambar tanpa seduhan kopi diantaranya. Maka mengalirlah cerita soal rencana dua produksi rekaman yang tengah dikebut pengerjaannya untuk rilis Maret 2018 nanti.

The Kuda memang satu dari sekian unit bising Bogor yang sejak 2010 produktif melepas rilisan, hingga 2015 mereka telah memiliki 7 rilisan tercatat atas nama mereka. Semacam dendam rilisan yang terbayarkan, maklum sebelumnya para perintisnya mungkin terlalu sibuk aksi panggung bersama Wasweswos (Surf Punk), Reidvoltus (Lo-Fi), Sweet Sunday Holiday (Britpop) dan Luxitania (Punk Rock). Tak heran niatan merilis 2 album dalam satu bulan, sah-sah saja mereka ungkapkan.

“Sebenarnya sudah lama sih niat keluar rilisan, kebetulan pas David (David Tarigan/Demajors) ngajakin ketemuan, ya sudah sekalian aja,” terang Idam dengan tenang.

Cukup satu setengah gelas kopi, cerita soal satu spilt album bareng Vague (Punk Indie Trio, Jakarta) dalam bentuk cakram padat dan satu album penuh dalam bentuk vinyl 7 inci yang rencananya akan dirilis oleh Demajors, mengalir diantara kesibukan Idam menjawab pertanyaan koleganya seputar tas dan produk distro lainnya.

3 lagu baru sudah disiapkan untuk Split Album, salah satunya lagu Royal Yawn yang melibatkan seniman berbakat Mufti Priyanka a.k.a Amenkcoy dan direkam 2017 silam. Sedangkan 8 lagu baru tengah memasuki proses finalisasi dan perekaman untuk album penuh mereka. Keduanya diharapkan bisa meluncur tepat pada saat Record Store Day 2018 yang digelar Maret mendatang.

Kerja keras dengan tenggat terbatas yang musti segera mereka tebus. Beruntung, The Kuda bukan tipe kelompok yang suka ribut dan mendebat sana-sini. Personel diluar Idam menyambut riuh dan sepakat menuntaskan misi membawa karya lebih dikenal luas.

The Kuda semestinya menjadi aset kota Bogor sebagaimana asinan, talas dan kopi liong. Rilisan mereka perlu tersedia di gerai Dekranasda kota, macam mini album “Mistery Torpedo” [2011], mini album “Duka Kuda” [2014] atau album penuh “Satu Aku Sejuta Kalian” [2015].

Diluar itu produktifitas mereka juga tercatat pada Split Album Gangrena Surf (surf punk Chile) [2012], Punk Aid Compilation : Aceh Calling [2012], Split Album The Night Stalker (Hard Core Punk Prancis) [2013] dan  Rocket Rain (OST) – track : “Hey Jansen”(2013).

Kini The Kuda menyisakan tiga personil asli dibantu Dimas yang mengisi kekosongan departemen bass.

Klaim pembawa misi “Dumprak Sumbawa 77s Rock Band” sedikit terwakili karakter Adipati (vokal) yang meledak-ledak sekenanya. Entah ada hubungan atau tidak, sosok penguasa michrophone The Kuda ini demikian lekat dengan Jamu Soponyono dan Kopi Liong Bulan. Bermodal pengalaman buruk masa silam, kemampuannya menulis lirik singkat dan padat terasah mumpuni, beradu pekak dengan karakter distorsi Idam (gitar) dan hentakan tempo yang diciptakan Ahong (drum).

Spontanitas sepertinya menjadi kekuatan besar mereka, percaya pada originalitas karya terbaik yang bisa mereka capai. Barangkali alasan ini yang membuat mereka tak mau basa basi, sekali putar langsung tancap.

“Gue ga boleh take (rekam) ulang, bolehnya sekali doang, kalau diulang ga bakalan dipake sama anak-anak,” keluh Adipati dalam perjumpaan singkat di Eternal Store, Jl. Padi,  Bogor.

Lantas terciptalah puluhan nomor singkat yang dikerjakan dalam waktu yang singkat pula. Sesingkat usaha Ahong meraih mimpi sebagai gitaris The Kuda.

Ya..pada satu waktu demi kebutuhan panggung mereka mencari drummer pengganti untuk Ahong yang pindah instrumen. Hingga 2018 impian mendapatkan komposisi dengan drummer baru gagal tercapai, kebutuhan panggung dan rekaman justru terisi dengan kehadiran Dimas dari unit indie rock Bogor, Textpack. Itu pun sebagai pemain bass.

Formasi terakhir inilah yang hingga kini bertahan sebagai identitas punk mereka. Sembrono dan cenderung tak peduli hasutan kanan kiri. Predikat sebagai nominee Indonesian Cutting Edge Music Award 2014 (ICEMA) tak menghalangi perjumpaan mereka dengan gigs skena lokal, acara hipster hingga panggung kampung.

Kini mereka tengah bersiap untuk album penuh dengan tampilan dan gaya berbeda. Bisa jadi, mereka adalah band punk pertama Bogor yang rilis album dalam bentuk vinyl.

Entah apa jadinya, yang pasti The Kuda sudah menapakkan kuda-kuda.

Tidak ada komentar