Terbaru

Oncom Hideung Diantara Manifestasi Rajutan Mimpi


Oncom Hideung, unit folk kreatif dari jalanan Bogor kini telah tampil dalam format album "Jangan Berhenti Bermimpi".
Foto : Rizza Hujan

Artikel : Sekar Puspitasari

HujanMusik!, Bogor - Ini kali kelima saya ada di HujanMusik!. Saya selalu suka angka 5. Angka kesayangan yang saya rasa akan membawa saya kepada sesuatu. Angka ini sempurna. Karena di angka kelima, Tuhan mencipta seorang manusia dan Dia berkata ini adalah waktunya ia terlahir di Bumi. Dan disinilah saya, menulis kembali sebagai sebuah renik dari hidup yang sesungguhnya dimulai dari tulisan kelima saya ini. Hal ini tidak bermaksud membuat saya mendewakan sebuah angka atau nomor. Tapi ada hal-hal yang membuatmu percaya kepada sesuatu. Sesuatu ini akan membawamu kesana. Sebutlah sesuatu itu adalah MIMPI.

Beberapa waktu lalu saya sempat skeptis mengenai adanya konsep mimpi. Namun tidak semua orang seperti saya, karena bagi sebagian orang mimpi selalu layak untuk dibagi dan terbukti bahwa dengan menjalani sebuah mimpi kita mampu mengelana begitu jauh. Seperti salah satu band yang  saya kenal sejak tahun 2011, Oncom Hideung.  Mereka adalah para pemberani  yang terus menjalankan mimpi , bahkan ketika semua orang menganggap absurd mimpi tersebut. Mereka adalah orang yang percaya bahwa tidak semua mimpi harus kita bunuh. Dan disaat-saat yang tepat, mereka pun ekstraksikan semuanya kedalam sebuah album mini berjudul  “Jangan Berhenti Bermimpi” untuk mereka bagikan mimpi itu ke alam semesta.

Seperti langkah gerimis yang bergerak dalam derapan langkah kaki yang berbaris dan bergotong-royong dengan cekatan untuk mengerjakan sesuatu, Oncom Hideung terus menawarkan langkah maju, langkah yang tidak pernah diam. Mereka melangkah dengan pola yang mereka ciptakan sendiri untuk singgah di tempat yang mereka mau dan berpijak di tempat yang terkadang tidak kita kira. Kurang lebih satu tahun lamanya mereka menggarap album ini yang mereka kerjakan bersama Acoy (Rocker Kasarunk) dan Edu (Akar Bambu) yang keduanya memiliki andil dalam dunia musik di Bogor, pun dalam pembuatan sebuah album persembahan untuk kawan-kawan ini.

Seseorang pernah berkata kepada saya, bahwa mimpi adalah manifestasi harapan. Maka, mengelola harapan menjadi hal yang layak adalah bijak. Karena kita tidak bisa hanya terus berdiri di pinggir pantai untuk tahu air dan berharap kecipratan. Kita perlu terjun untuk basah, untuk tahu air itu hangat atau dingin. Sebuah analogi yang tepat untuk menggambarkan perjuangan band ini menuju satu ruang tertinggi di atas sana. Karena mereka bukan hanya terjun, namun berani menyelam ke dalam laut untuk tahu seberapa besar arus airnya. Pengalaman-pengalaman yang tidak menyenangkan sampai harus digiring satpol PP ke dalam sebuah truk hingga tertundanya proses perekaman mereka  seperti ombak besar yang menggulung lalu menghisap habis tubuh mereka.  Karena seringkali hidup memang harus dilanjutkan dengan cara yang tidak kita inginkan, namun  mereka selalu percaya bahwa selalu ada sesorang yang rela turun dari kapalnya kemudian menuntun mereka pelan-pelan sampai ke pantai.  Karenanya, mereka bisa melewati satu fase terburuk yang kemudian mereka ubah hal-hal buruk itu menjadi satu hal baik dengan terciptanya  5 judul lagu yaitu “Hitam dan Putih”, “Lagu Sunda”, “Pantai”, “Indonesia Kini” dan “Jangan Berhenti Bermimpi”. Dalam album ini pun terdapat lagu bonus yang diantaranya “Ini Alamku”, “Motor Tua” dan “Mimpi Yang Pasti” yang kesemua lirik lagu tersebut diciptakan oleh vokalis Oncom Hideung, Coim. Sedangkan dalam meramu aransemen, seluruh personil mempunyai peran tersendiri.

Untuk saya yang awam, mendengarkan materi album pertama dari band yang mengibarkan bendera sejak tahun 2005 ini serasa mendapat energi lebih untuk tetap kuat dalam menjalani hidup, menatap masa depan, dan terus mempertahankan mimpi. Perpaduan Coim, Otong, Kobex, Dikdik, juga Emon telah menciptakan karakter sendiri dalam bermusik, yaitu Oncom Hideung. Musik balada atau folk memang selalu jadi ciri khas mereka. Sebagian orang membandingkan Oncom Hideung dengan Iwan Fals, tapi saya rasa tidak begitu karena karya mereka murni dan jujur. Lebih dari itu, semua lagu dalam album “Jangan Berhenti Bermimpi” tidak bisa disebut sama dengan karya si A, B, apalagi C.  Sebuah manifestasi mimpi yang bernilai.

Dan akhirnya, mereka telah sampai pada pantai mereka sendiri untuk menikmati pemandangan, duduk-duduk di pesisir pantai sambil melekatkan diri di pasir yang hangat. Dalam satu jentikan semua hal buruk dalam hidup  terasa tidak ada artinya. Semua bertekuk lutut dihadapan kenangan-kenangan yang pernah mereka punya, cita-cita luar biasa yang mereka reka bersama. Yang belum tuntas, dan masih mereka lanjutkan. Cita-cita besar itu akan mereka tunjukan dalam peluncuran album “Jangan Berhenti Bermimpi” yang akan digelar tanggal 4 Februari 2018 di Yamaha Music Square di Jalan Siliwangi, Bogor. Rasa syukur tidak berkesudahan itu akan mereka pentaskan dalam rupa gelombang yang akan menyaput semua keraguan dan mempersembahkan kejutan-kejutan menyenangkan dan akan dibagi diacara tersebut.

Mimpi dan harapan adalah sesuatu yang membuat seorang manusia biasa bisa membuat satu sama lain luar biasa. Seperti gerimis yang tidak takut luka meski telah jatuh berkali-kali. Dan keyakinan terhadap harapan dan mimpi adalah sebuah pertanda baik. Coim, Otong, Kobex, Didik dan Emon telah membuktikan bahwa mimpi besar selalu memiliki tempat tersendiri. Yang akan sanggup membuatmu keluar dari kota mati bernama masa lalu. Menikmati hidup di masa kini tanpa takut kehabisan harapan. Kemudian sama-sama merancang mimpi-mimpi di masa nanti. Meski kita tahu, bahwa tidak ada yang selamanya. Manusia berubah, demikian juga waktu. Maka mari membiarkan hati yang memimpin persinggahan hidup selanjutnya. Dimana langkah kaki akan mengikuti dibelakangnya kemudian leburlah mimpi-mimpi itu bersama detak waktu yang terus bergerak maju. Jadi, sampai jumpa pada acara kilas-balik nanti, dan jangan lupa untuk tidak pernah berhenti bermimpi.

Tidak ada komentar