Terbaru

Festival Tunggul Kawung, Bukan Sekedar Hiburan Tanpa Makna


Penampilan salah satu sanggar dalam Ferstival Tunggul Kawung 2017, Sabtu (30/12/2017) lalu di Gedung Kemuning Gading, Kota Bogor

Artikel dan Foto : Anggitane

HujanMusik!, Bogor - Gemuruh riuh akhir tahun melulu menampilkan orang yang bergegas mengemas kenangan 2017 dengan segala atributnya. Berbahagialah bagi yang memiliki kesempatan demikian, bagi kami penghuni kota atau wilayah yang menjadi lokasi tujuan, yang demikian itu menjadi sarana ujian kesabaran. Pun halnya dengan saya, memilih bersandar pada dinding ruang kosong yang sedang direncanakan segera bersalin rupa tahun depan. Tapi demi memupuk nutrisi batin penutup dengan sajian kesenian dan budaya, saya kalahkan ego dan memilih tetap hadir menyaksikan Ethnic Drum Festival dalam Festival Tunggul Kawung di Gedung Kemuning Gading, Kota Bogor, Sabtu (30/12/2017).

Panggung Kemuning Gading Sabtu itu kembali sibuk. Salah satu panggung permanen dari gedung kesenian kota yang akhir-akhir ini mulai ramah dengan aneka hajatan kesenian. Pada masanya bahkan sempat padat oleh pertunjukan musik keras, tempat lahirnya unit metal, punk, hard core Bogor berkarakter selain Taman Topi dan pelataran Bogor Permai. Kesibukan panggung kali ini oleh penari dan pemain musik alak musik perkusi dari 8 sanggar (grup) asal kota Bogor dan 1 sanggar dari Sumedang. Mereka adalah Sanggar Citra Budaya, Gandes Pamantes, Sanggar Melati, Gelar Gunara, Andika, Ligar Mandiri, ART, Dewi Sri dan Braja Jaya Ning Ulun (Sumedang).

Sesaat harus dipaksa mendengar sambutan panjang yang memakan waktu hampir satu jam, sebelum tirai panggung utama dibuka. Sambutan yang mau tak mau harus saya simak demi menemukan misi apa yang tengah dibangun kolaborasi Pemerintah Kota melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan yang bekerjasama dengan Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Bogor (DK3B) dan Karukunan Warga Bogor (KWB) ini.

Panggung dibuka dengan tampilan sanggar Etnika Daya Sora (Edas) yang memukau dengan ritmik musik perkusi unik dari 9 alat musik mirip musik tabuh semacam Doll. Ditingkahi tetabuhan rangkaian rebana yang secara artistik diniatkan oleh kreatornya menyerupai bunga kecubung. Sebenarnya saya menunggu-nunggu kejutan tetabuhan macam apa yang akan ditampilkan oleh sanggar yang dimotori Ade Suwarsa, talenta lokal yang banyak menelurkan alat musik dan kemasan pertunjukan yang segar.

Dugaan mereka bakal memainkan Doll tak sepenuhnya salah, toh Ade Suwarsa mengaku mendapatkan inspirasi dari perjalanannya ke Bengkulu. Doll merupakan alat musik yang habitat asalnya dari India, namun tumbuh dan berkembang dengan cirinya dalam kebudayaan Bengkulu. Umumnya dimainkan dengan cara seperti menabuh drum. Bedanya jika Doll adalah alak musik yang berat dan umumnya hanya dimainkan oleh laki-laki, alat musik yang dinamai Gondang Tunggul Kawung itu ringan dan justru dimainkan oleh penari perempuan.

“Saya hanya ingin menjadikan pengalaman empiris yang saya temui di Bengkulu menjadi Bogor banget. Saya ingin alat musik seperti itu ringan dan dimainkan penari-penari cantik dan saya satukan menjadi satu kesatuan,”terang Ade Suwarsa selepas pertunjukan.

Agaknya nama Tunggul Kawung diresapi dan diterapkan maknanya sedemikian rupa. Konsep tampilan Edas semacam inilah yang membawa mereka diganjar sebagai penyaji terbaik pada Festival Kemasan Seni Pertunjukan 2016 silam.
Tunggul kawung adalah pohon enau/aren (Arenga pinnata, suku Arecaceae) yang sudah ditebang tetapi masih memiliki kekuatan dan bisa bertahan lama. Penggambarannya harus mampu menghadapi perkembangan jaman dengan jatidiri yang teguh dan berpendirian. Filosofi ini dipercaya menjadi penciri dan penanda bagaimana orang Bogor seharusnya.

Nama Tunggul Kawung dihantarkan sebagai simbol kegiatan yang dampaknya diharapkan bisa meluas. Konsep ethnic drum festival dengan berorientasi pada alat musik tepuk dimaksudkan untuk mengenalkan kekayaan budaya dan kesenian dimata generasi kekinian. Sebuah konsep edukasi karya anak bangsa yang ditilik dari fungsinya bisa dimainkan secara kelompok maupun dimainkan mandiri (solo).

Ethnic Drum  Festival yang disajikan dalam hajatan ini tak ubahnya gelaran pertunjukan musik etnik dengan kendang sebagai aktor utamanya. Paling tidak dalam pengetahuan cekak saya soal musik, membacanya demikian.

Sebagai salah satu waditra karawitan, kendang memang memiliki peran dominan dalam berbagai pertunjukan kesenian sunda. Perannya dalam pengaturan irama menentukan menarik tidaknya jalannya pertunjukan.

Beruntung, seorang Uci Sanusi yang seniman sekaligus orang Dinas Pariwisata dan Kebudayaan mengkoreksi pemahaman saya. Festival ini tak hanya soal kendang semata, sesungguhnya juga menampilkan garapan dengan unsur alat-alat lainnya seperti terbang, rebana, dogdog dan lainnya.

Bebunyian yang dihasilkan dari Terbang dan Rebana oleh sanggar Braja Jaya Ning Ulun dari Sumedang terdengar rancak dan sempat membuat pendengaran ini tercekat. Barangkali inilah yang dimaksud Uci sebagai bentuk lain pertunjukan perkusi tradisional yang masih berlaku pada sebagaian wilayah Jawa Barat.

Menyaksikan Ethnic Drum Festival pada Festival Tunggul Kawung 2017 bagi yang awam seperti saya nyaris tak menemukan pembeda dengan Festival Kemasan Seni Pertunjukan yang sudah rutin digelar. Barangkali yang membedakan pada penekanan alat musik perkusi adalah kewajiban peserta menampilkan itu. Sementara dalam Festival Kemasan Seni Pertunjukan memberikan keleluasaan sanggar menggarap semua bentuk pertunjukan, entah itu musik, karawitan, tari bahkan teater.

Kembali pada Tunggul Kawung yang diniatkan menjadi ikon gelaran, sesaat saya teringat satu alat musik perkusi tradisional yang mengambil batang kawung sebagai wadah gema (resonator), yaitu Dogdog. Dogdog yang acap dijumpai dalam seni reog sunda itu memang masuk dalam ranah instrumen membranaphone tradisional Jawa Barat.

Selain Kendang, saya berandai-andai dari festival ini bisa muncul eksplorasi Dogdog yang tak hanya dimainkan, tapi dipahami fungsi dan maknanya. Sebagaimana penutup perbincangan singkat saya dengan Uci Sanusi, bahwa ini bukan sekedar hiburan tanpa makna, melainkan sebuah pertunjukan yang punya makna dengan jati diri kita sebagai orang Bogor.

Salam budaya

Tidak ada komentar