Terbaru

Pada Denting Piano Perasaan Ini Tertambat

Muhammad Syauqi Hafidz, pada salah satu aksinya membawakan repertoar klasik Resital Solo Piano Terima Kasih Guru di Hotel Royal Bogor,  Sabtu (25/11). Foto : Andi

Artikel : Anggitane

HujanMusik!, Bogor - Sejak menggulirkan HujanMusik! 6 bulan silam, saya tak pernah membayangkan berkesempatan menyaksikan pertunjukan resital piano di Kota Bogor. Jangankan membayangkan pertunjukannya, menemukan talenta yang berani muncul saja nyaris tak terbersit sedikit pun. Pengetahuan kami yang picik ini masih berkutat pada hingar bingar konser milenial dan ulasan musik populer seadanya.

Hingga tiba saatnya, Sabtu 25 November silam, ditengah padatnya jadwal pertunjukan musik di seputaran Bogor, sebuah anomali magis tengah terjadi. Seorang Muhammad Syauqi Hafidz, remaja 13 tahun berani tampil beda dengan remaja lain seusianya. Jemari lincahnya sukses membuncah kesunyian ruang pertunjukan dengan dentingan solo piano dalam balutan Resital Solo Piano Terima Kasih Guru.

Barangkali malam itu menjadi malam magis untuk diri saya pribadi dan mereka yang hadir di Ballroom Hotel Royal Bogor Jl. Ir. H. Djuanda No. 16. Sampai-sampai saya perlu waktu nyaris 30 hari untuk bisa mengendalikan nafas dan menikmati rekaman pertunjukan berulang-ulang, demi menerbitkan catatan picisan soal konser malam itu.

Menyaksikan pertunjukan musik klasik sesungguhnya menarik bagi yang terbiasa menikmatinya. Apalagi yang ditampilkan adalah nomor-nomor klasik pilihan, karya komponis yang gempita di jamannya. Terkadang alunan karya klasik justru melebihi popularitas komposernya. Untuk saya yang awam, sah-sah saja merasa lebih mengenal nada-nada klasik tersebut justru dari tangan pelajar SMPN 1 Bogor.

Sejak Syauqi melakukan dentingan piano pertamanya, saya sudah tersihir untuk tidak beranjak kemana-mana. ‘Bubuy Bulan’ adalah repertoar pembuka yang mengajak penonton mengingat akar dimana mereka berada. Tempo yang konsisten memudahkan saya memahami ritme lagu dari tanah sunda ini. Kemudian ‘Jasamu Guru’ dipilih untuk dimainkan sebagai pembuka kedua yang memberi kesan soal tema dan alasan kenapa resital piano ini berlangsung.

Beranjak pada sajian nomor klasik yang sesungguhnya, Syauqi memilih ‘Blumenlied’ atau yang dikenal sebagai ‘flower song’ karya komposer Jerman Gustav Fredrik Lange. Dilanjutkan ‘Turkish March’ milik W.A Mozart dengan melodi cepat, sederhana yang cenderung kasar. Saya akui kemampuan mumpuni seorang Syauqi mengikuti dan menempatkan salah satu karya populer Mozart.

Selepas Blumenlied dan Turkish March, telinga penonton masih dituntun untuk menekuni karya Mozart lainnya. Dalam buku panduan tertulis ‘Piano Sonate No.15 K.545 1st Movement’. Saya masih terkagum-kagum dengan kesederhanaan dan pembawaan pelajar kelahiran Sukabumi 20 April 2004 itu, air mukanya datar-datar saja saat memainkan aneka nomor klasik penting dengan mudah. Seperti saat memaparkan dentingan ‘Nocturne OP. 9-2’ milik F. Chopin, ‘Fur Elise’ L.V. Bethoven, ‘Maple Leaf Rag’ Scott Joplin atau ‘Ballade Pour Adeline’ Richard Clayderman.

Tak berhenti pada karya klasik semata, resital piano Syauqi juga menempatkan karya klasik Indonesia untuk ditampilkan. Salah satu yang saya kenali adalah ‘Angin Malam’-nya Eros Djarot dan karya Ismail Marzuki seperti ‘Indonesia Pusaka’, ‘Selendang Sutra’, ‘Aryati’. Termasuk ‘Terima Kasih Guruku’ karya Sri Widodo dan ‘Hymne Guru’ karya Sartono.

Resital solo piano di Kota Bogor memang termasuk langka, kalau pun ada paling dekat adalah konser yang digelar beberapa sekolah/kursus musik di lokasi tertentu secara terbatas. Berbeda dengan resital solo piano yang ditampilkan penuh dan digarap secara serius. 

Beruntung Syauqi berada dilingkungan orang-orang yang menempatkan musik sebagai bagian hidupnya. Tak heran jika ia menempatkan piano sebagai sahabat sekaligus media untuk mengekspresikan berbagai perasaan dengan membagikan alunan melodi bagi siapa saja yang mendengar. “Piano merupakan modal untuk berbagi kebahagiaan dan yang terpenting dapat menyenangkan dan membuat pendengar bahagia,” terangnya.

Kecintaan Syauqi terhadap musik klasik sepertinya sudah tumbuh sejak kecil. Bakatnya terkuak seiring dengan kesenangannya mendengarkan dan menonton cuplikan musik klasik semacam Baby Einstein series ataupun Little Einstein. Sudah tepat jika pada tahun 2014 orangtuanya memberinya keyboard untuk menajamkan minatnya memainkan tuts layaknya komposer berkelas. Pertemuan dengan salah seorang guru musik di Purwacaraka Bogor membawanya secara perlahan memiliki ketrampilan bermain piano. Demi memperbaiki kemampuannya itulah saat ini Syauqi meneruskan untuk mengasah teknik piano klasik di Jaya Suprana School of Performing arts.

Ditengah kecintaannya terhadap musik klasik, sejatinya Syauqi tetaplah remaja diusianya yang jamak tumbuh dengan ragam budaya Korea. Barangkali inilah yang membuatnya memainkan karya Yiruma, komposer Korea yang mempopulerkan 'Kiss the Rain' dengan gaya bermusik 'misclassify' yang sangat populer di segala kalangan usia.

Malam itu seusai resital, saya memang tak sempat bertatap muka, apalagi wawancara. Modal menyelami musik yang dia mainkan rasanya cukup untuk membuat sekelumit catatan ulasan. Dalam benak sepanjang perjalanan saya tak henti-hentinya mensyukuri kenyataan ada resital di Kota Hujan. Semoga segera menyusul resital artis dan solois Bogor lainnya.

Tidak ada komentar