Terbaru

Metafora Mimpi Neal Bersama Malam

Neal [sebelumnya Daylight], band unit Pop asal Bogor yang terbentuk pada November 2004. Dalam waktu dekat akan merilis album terbarunya berjudul Senandika. Foto : Neal

Artikel : Anggitane

HujanMusik!, Bogor - Ruas jalan Bangbarung sedang tak begitu ramai, padahal waktu sudah menunjukan pukul lepas 17.00 WIB. Suasana yang janggal untuk ukuran lajur yang bernama resmi jalan Ahmad Sobana tersebut. Jamaknya suasana semacam itu dipenuhi antrian kendaraan yang hendak parkir atau lalu lalang kelas pekerja yang terburu-buru pulang ke peraduan. Ditambah nuansa gerimis tipis yang tengah bersiap menyambut hujan.

Pada sebuah kedai yang juga merangkap perpustakaan bernama Kedai Kalam, saya memutuskan untuk menepi sejenak. Disana sudah tampak sesosok yang tengah sibuk memilah playlist untuk diputar sebagai sountrack pengunjung Kedai. Deni Noviandi, demikian nama resmi yang disandangnya sejak lahir, tapi kami di tongkrongan memutuskan memanggil Denol saja. Profilnya sebagai gitaris segala band di Bogor memudahkan saya untuk membuka pembicaraan soal musik dan hal apa yang tengah dikerjakannya bersama ‘Neal’ saat ini.

Neal saat ini merupakan aktifitas musik yang menyita waktunya disela-sela rutinitas sebagai petugas sebuah Bank Swasta di Bogor. Beberapa kali memang saya temukan Denol diantara aksi panggung kelompok metamorfosis dari ‘Daylight’ ini. Sebuah upaya yang menandai kembalinya sosok gitaris post rock Adopta pada distorsi 90-an.

Bersama Hafidz Noorman (Vokal) Adie Prasetya (Bass), Aditya 'Dc' Maulana (Gitar), Aditya Maulana (Drum), Arka Achmad (Keyboard) dan Deni 'Denol' Noviandi (Gitar) sendiri, Neal memuluskan jalan karakter unit Pop yang berdiri sejak 2004 silam itu. Bahkan proses pencapaian kreatifitasnya sudah masuk ke tahap rilis single ‘Malam’. Satu bentuk nyata penyegaran dan pembuka jalan album penuh bertajuk ‘Senandika’.

Denol tak menampik tapi tak juga mengiyakan bahwa bergabungnya dia bersama Neal merupakan alasan kenapa nama Daylight tak lagi digunakan. Untuk soal ini ia memilih merujuk pada pernyataan Hafidz. "Kami pun menanggalkan nama Daylight yang sudah menemani cukup lama dengan segala keterbatasannya. Kami tidak mencoba untuk bereksistensi, kami menilai dari sebuah asa serta konsistensi. Kami hanya ingin buat semua adil, dan selalu ingin dimiliki," tulis Hafidz dalam rilis yang diterima HujanMusik!.

Usaha saya mengorek minat musik diluar Neal tampaknya gagal, bahkan kiriman link streaming unit post rock Rusia yang saya kirim via Whatsapp-pun tak mendapat respon. Ya…Denol tampaknya tengah semangat-semangatnya mengeksplor sound-sound baru bersama Neal. Lagu Malam bisa dibilang menjadi gambaran itu semua. Sampai-sampai saya tak menolak dan cenderung pro dengan Ade Muir, bassist Pure Saturday yang mengomentari single mereka.

"Ini oke banget, 90s sounds yang kelas banget. Begitu denger entah kenapa yang pertama kebayang adalah band puressence dengan vocal yg lebih "lakilaki" & less distorsi,” terang Ade.

Baiklah, saya tak akan memaksa Denol untuk bercerita diluar kuasanya. Meski saya sebenarnya penasaran dengan kiprahnya selepas pengaruhnya bersama Listrik, Piknik dan Adopta. Juga soal proyek terbaru lainnya bersama Bonchie & Little Trees. Tapi sudahlah…selanjutnya single ‘Malam’ menjadi pencarian saya untuk menemukan energi kebangkitan unit Pop Bogor di penghujung 2017 ini.

Strategy meluncurkan ‘Malam’ saya curigai sebagai salah satu langkah taktis Neal meluncurkan album penuh mereka bersama Tromagnon Records. Salah dua-nya adalah merilis ulang EP Lite dalam format analog yang diluncurkan pada acara Cassette Store Day Bogor, Sabtu (25/11) lalu.

‘Malam’ adalah sebuah metafora, ketika malam tak lagi nyata didunia fana. Pelukan mimpi mengambil perannya, mempertemukan malam dengan orangnya. Sebagaimana penggalan lirik 'terasa malam melangkah, terlelap tak pernah datang’.

Soal ini Dc sang gitaris lainnya menyatakan bahwa  sound di lagu malam ditemukan dengan nuansa yang lebih kompleks dibanding lagu-lagu yang lain. Peran Denol begitu nyata membawa perubahan pada kolaborasi kolektif mereka.

“Ada beberapa ambience yang sengaja untuk didengar sedikit theater of mind. Ada reverse dari Denol, tapi sedikit berontak di bagian akhir yang seolah-olah ingin keluar dari mimpi supaya bisa merasakan malam yang nyata," jelas Dc.

Saya tak mengada-ada, selepas menyimak single ‘Malam’ ada harapan munculnya kesegaran pergerakan Pop bergizi di Bogor. Terutama setelah Cause berhenti beroperasi.

Ah…rasanya tak sabar menanti konser penuh mereka, agar tampak nyata harus dilakukan malam-malam.

Selamat ‘Malam’.

Tidak ada komentar