Terbaru

Tahun Lalu Tokyolite Sukses Sambangi 10 Venue di Jepang


Tokyolites saat berada di Jepang pada September 2016 lalu. Gigs pertama mereka terjadi pada 16 September 2016 di sebuah sebuah live house yang cukup punya sejarah di kota Kobe. Foto : Tokyolites
Artikel : Anggitane

HujanMusik!, Bogor - Sudah lebih dari setahun yang lalu, sekumpulan peminat pop funk yang berhimpun dalam kelompok Tokyolite menggelar tur istimewanya ke Jepang pada 16-27 September 2016 silam. Hingga saat ini atau setidaknya dalam kurun waktu satu tahun sejak konser mereka, rasa-rasanya belum ada kelompok musik serupa dari Indonesia yang menyamai aksi musik mereka.

Baiklah, memang tak elok membanding-bandingkan capaian proses setiap band. Masing-masing pasti punya ukuran dan target yang berbeda, tapi saya tidak hendak kesana, hanya memberikan apresiasi sepantasnya atas proses yang sudah mereka bangun. Konser di Indonesia maupun di Asia pada hakikatnya berujung pada apresiasi penciptaan seni. Tak lebih dari itu, sama halnya ketika kita memberikan apresiasi penting atas prestasi kelompok musik diluaran sana.

Tokyolite mengawali perjalanan High Lite Japan Tour 2016 dengan penerbangan malam pada Rabu, 15 September 2016. Tanggal penting yang menjadi titik mula mereka memperkenalkan identitas Kota Bogor lewat budaya pop, sejak menyetujui untuk tampil di Kansai Music Conference (KMC) di Osaka, Jepang.

Beruntung, Stevan Arianto (vocal, gitar), Alexander Bramono (bass) dibantu Rori Jiwa Putra (gitar) dan Bintang Aditya (drum), memiliki dukungan tim dari seorang Marteen dan manajer tur Jepang mereka, Kenta Umezawa. Merekalah yang menjadi aktor kenapa tur yang semula dijadwalkan hanya sekitar 4-5 live house gigs, nyatanya ada 10 venue yang siap disambangi Tokyolite. Venue ini tersebar di Osaka, Kobe, Kyoto, Fukui dan Tokyo.

Berikut adalah nama venue tempat mereka bermain di Jepang : Kobe Helluva Lounge, Arthouse Kobe (Kansai Music Conference), Chika Ikkai – Osaka, Umeda Hard Rain – Osaka, Mayday Bar – Kyoto, Tree CafĂ© – Fukui, Mona Records – Tokyo, Warp Kichijyoji - Tokyo (Independence Day), The Room – Tokyo, Shinjuku Samurai - Tokyo.

Setelah menempuh 12 jam perjalanan, termasuk transit di Kuala Lumpur, Tokyolite menjejakan kakinya di Kansai International Airport. Mereka hanya punya waktu satu hari untuk rehat sebelum esoknya harus tampil di Kobe Helluva Lounge. Itupun terpotong harus menyiapkan perlengkapan dan merchandise untuk dibawa ke venue besok.

9/16 Kobe Helluva Lounge, Kobe

Gigs pertama mereka terjadi pada 16 September 2016 di sebuah sebuah live house yang cukup punya sejarah di kota Kobe. Jaraknya hanya sekitar 1 jam naik kereta dari tempat mereka menginap. Selain gigs, Tokyolite juga sudah dijadwalkan untuk bertemu dan makan siang bersama Taku Kawahara-san, mantan gitaris dari band punk lawas Mika Bomb yang cukup aktif di Inggris. Nama tersebut ini juga pemilik dari Space Dogs Records, salah satu record store dimana CD Tokyolite singgah di Jepang.

Helluva Lounge adalah venue underground [bawah tanah] yang memiliki keunikan lantai panggungnya bisa menyala. Stevan dan Alex tak bisa menyembunyikan rasa senang mereka bisa tampil di Kobe. Gigs ini terjadi berkat prakarsa dari teman lama mereka, Takahiro Matsumag dari Positive Records, netlabel aktif di Jepang. Campur tangan sosok yang membantu rilis single Tokyolite di jepang pada 2013 inilah yang memungkinkan satu jadwal panggung bersama Monsieurbeat, solois dan rapper yang cukup berpengaruh di Jepang. Lalu ada Keewo, solois Jepang dengan music yang kental nuansa J-pop, Caro Kissa, band city pop Jepang dengan frontman perempuan dan Cozmic Spoon, band grunge/alternative/rock Jepang yang penuh energy.

Soundman tim Jepang yang sigap memungkinkan proses checksound berlangsung sangat cepat, hanya 30 menit dan sound yang didapat langsung balance. Sambil menunggu giliran tampil pada jam 9 malam waktu setempat, Tokyolite menyempatkan untuk menggelar booth merchandise.
Gigs hari pertama berjalan sangat lancer, apresiasi penonton Jepang terhadap musik Tokyolite melebihi ekspektasi. Mereka merespon dan tidak ada pengunjung yang duduk diam, semua menikmati. CD dan kaos Tokyolite di booth merch pun banyak yang diborong, ah..publik music Jepang memang tidak omong kosong.

Senyum langsung mengembang diantara personil dan pendukung High Lite Japan Tour 2016.

Awal yang bagus.

9/17 Art House Kobe, Kobe (Kansai Music Conference)

Pagi itu tim High Lite Japan Tour 2016 sudah dalam perjalanan menuju Art House di kota Kobe. Di venue inilah Tokyolite akan mengikuti perhelatan Kansai Music Conference, titik awal dimana mereka merancang tur Jepang ini.

Kansai Music Conference / KMC adalah alasan utama Tokyolite bisa berada di Jepang, jadi bisa dimaklumi jika mereka benar-benar mempersiapkan tampilan dengan serius. Venue memakai Art House Kobe yang tak terlalu jauh dari venue tempat mereka bermain kemarin. Tokyolite dijadwalkan tampil bersama Pleasures dan Chased By Ghost Of Hyde Park, band rock jepang yang kental nuansa emo. Selain itu ada Stellar Addiction, sesama band tamu dari Australia yang beraliran pop/punk dengan bumbu alternative rock. Kemudian Ghostfly, band sludge/doom metal dan Solid Saga, band rock jepang yang senada dengan nuansa emo/alternative rock.

Nuansa khas live house Jepang sangat terasa di Art House, ruang tunggu penuh stiker, backstage yang diisi dengan vending machine dan system backstage pass mereka yang menggunakan reusable sticker, mungkin bisa dibilang seperti inilah suansana yang sering terlihat di komik komik jepang yang mengangkat tema musik.

KMC memang menyajikan petualangan dengan venue yang berbeda dari sebelumnya. Performer lainnya mengusung musik yang cukup keras dengan level performance yang tidak main main. Di venue inilah Steven, Alex dan Bintang harus berdebar-debar ketika dipertontonkan aksi Tom, gitaris dari Stellar Addiction memanjat langit langit venue sebelum memainkan solo gitar. Beringas!.
Ya..tampil diantara deretan musik keras memang memungkinkan untuk mundur teratur. Tapi itu tidak akan terjadi pada Tokyolite, mereka paham betul untuk memaksimalkan panggung. Ada nama Indonesia dan Bogor yang melekat pada tampilan mereka. Suguhan maksimal sudah wajib dipertontonkan.

Bahkan booth merchandise mereka tetap ramai dikunjungi dan diapresiasi, salah satunya oleh duo organizer KMC, Duane Levi dan Alexander Michaelson. Sayangnya mereka tidak sempat menonton performance Tokyolite hingga pungkas karena mereka harus menghandle 7 venue lainnya, tapi mereka berterima kasih atas upaya Tokyolite yang sudah jauh jauh datang kemari demi menyuguhkan performance yang memuaskan.

Semoga kolaborasi ini bisa terus berlanjut kedepannya.

9/18 Chika Ikkai, Osaka

Memasuki hari keempat High Lite Japan Tour 2016 kelelahan mulai tampak terasa. Pada sepertiga tur ini meraka tak memungkiri kelelahan di masing masing personil. Meski demikian mereka tetap semangat menatap venue berikutnya di kota Osaka, bernama Chika Ikkai. Nama tersebut merujuk pada sebuah venue underground yang memiliki banyak sejarah, banyak band-band independen Jepang besar yang menambatkan prosesnya dengan mampir ke venue ini.

Event hari itu digagas oleh manajer Jepang Tokyolite, Kenta Umezawa. Hari itu Kenta bersama bandnya, Banana Collection akan tampil bersama. Organizer event ini sepertinya menyiapkan venue ini senyaman-nyamannya untuk band yang tampil. Backstage yang dipenuhi cemilan dan minuman terasa seperti kamar sendiri, termasuk tersedianya konsol game seperti famicom dan gamecube yang boleh dimainkan oleh siapapun. Uniknya juga karena performer hari ini rata rata adalah penggemar video game, jadilah mereka menghabiskan waktu bersama bertanding street fighter sebelum manggung, momen langka yang mungkin sulit kami dapatkan di panggungan lainnya.

Performer hari ini bisa dibilang lebih kalem dibanding kemarin, ada Polptom, duo eksperimental dan shoegaze asal Osaka, Easycome, band indie pop dengan frontman perempuan yang sangat apik. Banana Collection, band indie-rock yang sangat terasa pengaruh Weezer dan Asian Kung-fu Generation serta Suedollar Yankee, band indie rock/psychedelic yang sekilas mengingatkan kami kepada Stone Roses.

Di venue ini Tokyolite mendapatkan sambutan yang luar biasa, energi penonton seakan membayar tuntas segala lelah dan jerih payah mereka setelah perform beberapa hari di Jepang. Beruntung letak venue yang tidak jauh dari hotel, mereka bisa menghabiskan waktu lebih lama dengan membangun jejaring orang orang setempat.

Momen seru lainnya adalah ketika Steven dan Alex bertemu manager dari Ikkubaru, kompatriot mereka, band asal Bandung yang juga sudah lebih dulu besar di skena indie pop/ city pop Jepang. Semoga terjadi sebuah pergerakan bersama.

Sebagaimana ditulis kembali dari ‘Tokyolite High Lite Tour Diary 2016’



Tidak ada komentar