Terbaru

Secangkir Kopi Liong dan Setangkup Idealisme Musik Jeans Roek


Kelompok Punk n Roll asal Bogor, Jeans Roek, pada salah satu tampilan panggung mereka Oktober 2017 lalu. Kini mereka tengah menggarap dua album sekaligus yang prosesnya sudah berjalan satu tahun lebih. Foto : Jeans Roek
Artikel : Rizza Hujan

HujanMusik!, Bogor - Hari minggu itu saya bangun jam 7 pagi, kemudian tertidur kembali. Baru jam 9 ketika benar-benar membuka mata. Pergi ke belakang rumah, menikmati kopi buatan istri sambil menghirup racun dari asap rokok. Mandi pun belum, sudah sibuk dengan gawai di tangan. Biasalah, cek watsapp dan instagram, siapa tahu ada yang penting. Dan faktanya? Nihil.

Kopi hitam sisa setengah gelas baru ada kabar menggetarkan masuk ke gawai buatan tiongkok saya. Si Koran mengundang untuk sowan ke rumahnya. Tapi hari itu saya ingin dibilang sombong lalu menjawab tidak bisa. Eh si Koran malah memaksa ingin datang ke rumah, mau ngajak Helvi si anak hilang pula. Yah, okelah saya bilang.

Sebelum Koran datang, ada beberapa orang hilir mudik ke rumah saya. Ada yang minta pamflet Lomba Lintas Alam, ada yang mengantarkan gitar, ada juga yang berniat untuk ngopi bareng saya. Disebut niat karena datang membawa kopi liong. Seolah mengajak saya merayakan kabar tutupnya rumah produksi kopi asli Bogor itu. Padahal satu agen saja, bukan pabriknya yang tutup.

Belum lama saya dan Fredi menikmati kopi liong, gawai saya berbunyi. Koran telpon, katanya sudah dekat. Seolah memang sengaja menyuruh saya menjemputnya ke jalan. Lalu tibalah vokalis band Punk and Roll bernama Jeans Roek itu di rumah saya di kaki gunung Salak yang sedang mendung.

Hari itu, Koran bercerita banyak hal tentang Jeans Roek, band seperjuangan, hingga kegiatannya sekarang sebagai pengajar setelah resmi menyandang gelar S.Sos. Huh sombong!. Untung Helvi belum lulus kuliah jadi harus mengerjakan tugas di hari minggu yang mengakibatkan tidak bisa ikut bersama Koran.

Dari penilaian amatir dan jumawa saya, Koran ini termasuk orang kinestetis. Dia berpikir dan bergerak secara bersamaan, bahkan kadang dia bergerak lebih dulu sebelum berpikir.

"Bener. Malah lebih sering bergerak duluan sebelum berpikir. Makanya sering salah langkah,".  Ucapnya seraya tertawa.

"Contohnya album pertama Jeans Roek. Banyak banget kurangnya. Karena itu tadi, gue kalo melakukan sesuatu sering tanpa konsep, kurang dipikirkan secara matang". Lanjutnya.

Tapi Koran menambahkan bahwa akibat pergerakan tanpa konsep itu dia dan rekan-rekannya di Jeans Roek jadi tahu kesalahan yang sudah dilakukan dan tahu harus melakukan apa untuk memperbaikinya. Makanya, dalam album ke tiga dan ke empat yang sedang digarap, Koran lebih bawel dan detil.

Ya. Jeans Roek sedang menggarap dua album sekaligus. Katanya, album yang akan rilis ini sudah hampir setahun dikerjakan dan masih belum terlihat tanda-tanda akan selesai. Saya beruntung sempat diperdengarkan bocoran materi album mereka.

"Memang tidak ditarget. Ngalir aja. Mungkin ini salah satu cara gue dan temen-temen melakukan perbaikan dalam pembuatan karya,". Papar Koran.

Studio 143 menjadi pilihan Jeans Roek sebagai tempat rekaman. Selain karena kedekatan emosional dengan Idoy sang pemilik, studio yang berada di Gunung Batu itu juga dianggap Koran mempunyai kualitas cukup mumpuni.

Dari materi yang diperdengarkan Koran, semakin jelas bahwa band yang berdiri sejak 2009 itu menganut paham kebebasan berekspresi. Dari tiga lagu, dua diantaranya dibuka oleh bunyi karinding dan penggalan lagu Sabilulungan. Aura musiknya pun lebih kaya, malah ada nuansa gothic yang menghiasi salah satu lagu.

Inti musik Jeans Roek memang punk dan rock and roll. Tapi hal ini tidak membuat mereka berhenti mengeksplorasi jenis musik diluar itu. Dari satu album ke album lain, dari satu materi ke materi lain selalu saja ada kejutan. Membuat saya penasaran seperti apa jadinya nanti dua album baru mereka itu.

Saya kagum dengan pergerakan Koran sebagai motor Jeans Roek. Dia tidak pernah kehabisan ide untuk melakukan sesuatu terkait bandnya. Selain sedang menggarap album, mereka juga rajin membuat video klip.

"Video klip "Funky Donkey" baru rampung. Hari ini (minggu, 19 Desember, -red) mau bikin klip untuk lagu "Don't Burn Me",". Jelas lelaki bernama asli Indra ini.

Rasanya apa yang dilakukan Koran dan Jeans Roek memang perlu demi menjaga momentum dan mood dalam bermusik.

Selain aktif dalam pergerakan musik secara langsung, Koran juga termasuk rajin membangun komunikasi dengan berbagai pihak sehingga dia memiliki jaringan luas dan kedekatan emosional yang terbangun dengan baik. Ini memberikan kemudahan baginya dan Jeans Roek.

"Bersyukur sih punya temen yang mau support kita dalam banyak hal. Seperti Fikar Rasvala, Idoy Studio 143 dan Ragil dari Jeans Studio yang membantu menggarap video klip,". Lanjutnya.

Selain mereka, ada juga Koswara Santoso yang terlibat sejak album pertama. Kontribusi Koswara ini berbentuk materi intro dan outro. Pada album pertama dia memadukan suara ayam dengan musik,  sementara pada album ke tiga Koswara membuat intro Sabilulungan dan outro yang dia beri nama Gajah dan Hyena.

"Saat pertama kali denger outro, gue bingung ini suara apa. Tapi lama-lama kedengeran tuh suara gajah sama hyena, dipadukan dengan musik EDM. Gue sih suka, jadi aneh dan menabrak kebiasaan. Dan Gajah dan Hyena ini mirip dengan musik Gorillaz,". Tutup Koran sambil kembali tertawa.

Kopi Liong habis, Koran pun bergegas menuju pemberhentian selanjutnya guna menyelesaikan video klip "Don't Burn Me".

Sementara saya kembali menyeduh kopi sambil menunggu album Jeans Roek selanjutnya. Aneh? Biar saja, hari ini saya memang sedang ingin dibilang sombong dan aneh. Huh!.

Tidak ada komentar