Terbaru

Patepangsono#2 : Musik, Vespa dan Jabat Erat Bersaudara


HujanMusik! menjadi salah satu pendukung acara Patepangsono#2 yang digelar pada 24-26 November 2017 di Lapangan Desa Warung Nangka, Kecamatan Rancabungur, Kabupaten Bogor. Foto : Satria Achiel
Artikel : Anggitane

HujanMusik!, Bogor
- Pada sebuah pekan awal November 2017, saya dikejutkan dengan kiriman pesan bergambar melalui aplikasi Whatsapp. Pengirimnya biasa disapa Tolle, salah satu riders vespa aktif di Bogor Barat yang profil sosial media-nya dipenuhi aktifitas turing Jawa-Bali. Tolle adalah dinamisator kolektif Scooterist Bogor Barat Bersatu. Singkatnya, notifikasi yang dimaksud adalah pemberitahuan dukungan HujanMusik! untuk acara Patepangsono#2 yang digelar pada 24-26 November 2017 di Lapangan Desa Warung Nangka, Kecamatan Rancabungur, Kabupaten Bogor.

Mendapat kabar semacam itu rasanya tak perlu lama untuk memastikan bilang iya, saat itu juga kalender bertanggal 25 dan 26 November saya beri noktah penanda. Siapa tahu saya menemukan karakter Jimmy Cooper “Quadrophenia” sembari membayangkan lapangan Rancabungur akan sesak bak daratan Britania era 1979. Apalagi Tolle juga memaparkan rundown acara musik yang cukup padat sejak Sabtu siang hingga Minggu sore. Nama-nama semacam Cocktails, Vespunk, Peron Satoe, Superiots, Kaulamuda Randangfara, The Madagaskar dan deretan kelompok jamaican sound lainnya, menggoda nalar untuk bergerak mendekat kesana.

Perlu waktu 2 jam untuk bisa menembus kemacetan kota Bogor akhir pekan, sampai akhirnya tiba di Rancabungur dengan lancar. Seperti dugaan saya sebelumnya, lokasi acara sudah ramai oleh pengendara dan vespa yang bercengkrama. Bahkan suara MC Laura tak mampu mengusik senda gurau dan akrab kekeluargaan diantara mereka. Saya pun jadi ikut sibuk membalas sapaan kerabat Bogor Barat yang mengenali saya. Ajakan singgah ke beberapa stand komunitas tak henti mengemuka, meski saat itu saya tengah mengendarai Honda.

Sayang, saya tak bisa berlama-lama di venue acara. Saat itu Didi ‘Omphonk’, Gitaris Cocktails dan kolega saya di The Gadungan mengajak bertemu lebih awal di sisi barat lokasi acara. Pasalnya pada Sabtu sore itu ada jadwal tampil The Gadungan yang sayangnya harus tanpa pemain gitar Husni Mubabrok. Tak ada pilihan lain, saya harus berani ambil alih sebagai gitaris.

Suasana acara Patepangsono#2. Foto : Tolle

Alfa Baskoro adalah ketua pelaksana Patepangsono#2. Dalam pengertian bahasa Indonesia bisa dipahami sebagai temu kangen dan silaturahim pelaku dunia vespa. Itulah kenapa tema ‘Jabat Erat Bersaudara’ dipilih tanpa dalih. Diantara diskusi kord gitar antara saya dan Didi, Alfa muncul dan menyampaikan update internal soal kegiatan sunatan massal yang diikuti 25 anak. Tolle yang sudah ada dilokasi kami sebelumnya menunjukan video acara sunatan tersebut. Bahkan pada keesokan harinya juga telah disampaikan santunan anak yatim dan panti jompo sebanyak 110 orang. Dalam diam saya merasa takjub, ternyata anak vespa tak semata urusan mesin samping, oli dan spare part saja.

Ah…anak vespa selalu begitu, kepeduliannya memang kadang keterlaluan. Menganggap semua adalah saudara, tak cuma di jalan raya bahkan dimana saja selama ada kesempatan jumpa saudara semacam ini. Tenggang rasa yang mereka miliki seolah melebihi sejarah munculnya komunitas vespa di awal 60├ín di Inggris. Masa-masa bertemunya subkultur Mod yang menolak kesenjangan antara bangsawan dan kelas pekerja, dengan popularitas scooter sebagai kendaraan yang merakyat. Masa anak vespa Inggris mulai menikmati pengaruh musikalitas imigran kulit hitam India Barat (Jamaika) macam ska, reggae dan rocksteady.

Itulah kenapa vespa dan jamaican sound seperti tak terpisahkan, saling melengkapi satu sama lain. Skinhead Reggae, Rude Boys hingga legenda Trojan Records riwayatnya memang kerap bersanding dengan vespa.

Merambah ke wilayah nusantara, vespa berkembang tak hanya sebagai salah satu simbol  anti kemapanan saja, melainkan simbol yang bermakna solideritas. Fakta tak terbantahkan soal keberadaan mereka di jalan raya. Solideritas yang menjadi representasi ‘One Love’ yang secara kebetulan memiliki benang merah yang sama dengan tema reggae. Diantara vespa ada andil reggae didalamnya, pun demikian pada setiap hajatan reggae. Tak ada vespa, reggae seperti kurang mengena.

Kembali ke venue acara Patepangsono#2, selepas ashar Tolle mengajak saya merepat ke depan panggung. Ada band reggae setempat yang tengah melakukan aksinya dan berusaha mengalihkan perhatian peserta acara. Sedikit mundur dari jadwal acara, rupanya banyak penampil yang masih berjuang menaklukan kemacetan akhir pekan untuk tiba di rancabungur dengan tepat. The Gadungan selaku band serabutan yang tersedia dan sudah lebih lengkap memilih maju terlebih dahulu. Setelahnya ada Haji Jaja Roots, Sakawska dan lainnya, sayang saya tak hafal dan tak begitu jelas mendengarkan artikulasi Laura menyebut nama band-nya. Bukan soal kualitas sound, lebih kepada keasyikan saya menikmati musik sembari diskusi dengan komunitas Orijingan Bogor.

Jam 5 sore saya memutuskan kembali ke pusat kota sejenak. Selain Patepangsono#2, HujanMusik! Sabtu itu harus mengunjungi acara BAGUS Vol.2 dengan Cassette Store Day-nya di Jalan Salak. Selain itu ada resital piano di Royal Hotel jalan Juanda. Baru setelahnya saya kembali bergabung di Patepangsono#2 lepas 8 malam.

Sayang, saya terlewat beberapa band yang tampil malam. Selebihnya masih bisa menikmati Marsbrand, Ricefield, D’lions, Tomskate, Superiots dan The Madagaskar. Sementara Cocktails, Kaulamuda Randangfara, Selow Woles, Kopi Kentrunk dan Vespunk gagal manggung demi menjaga stabilitas acara. Kepolisian meminta panitia untuk menyudahi acara musik dengan alasan keamanan.

Terlepas insiden dihentikan atau tidak, saya menikmati jamuan acara malam itu. Aura pergelaran musik terasa intim dengan panggung tanpa rig. Tak ada jarak dan acara terkendali meski crowd begitu mendominasi hingga tepian panggung. Suasana ini juga didukung lighting temaram yang menambah kehangatan.

Sabtu berlalu, sayang keesokan harinya saya tak berhasil hadir dilokasi. Meski demikian Tolle mengabarkan bahwa acara Minggu (26/11) berlangsung lancar. Bakti sosial berlangsung dengan baik dan mendapat respon luas dari warga dan peserta acara.

Darah vespa sepertinya sudah kental bergulat diantara panitia, mereka tetap sabar membuat acara berlangsung dan membawa cerita dan sejarah sendiri. Salah kurang hal yang wajar, ungkapan maaf bukanlah bahasa canggung, karena persaudaraan harus tetap dijunjung.

Sampai bertemu di Patepangsono#3.

Tidak ada komentar