Terbaru

Karinding Abuy dan Idealisme Kolaboratif Kundika Sani

Musik instrumentalis dalam berdurasi 6 menit lebih ini seolah mengajak saya mendengarkan cerita getirnya mempertahankan budaya tradisi di era milenial. Sentuhan etnik, rock, fusion dan techno yang dikolaborasikan cukup mudah diterima. Foto : Kundika Sani

Artikel : Anggitane

HujanMusik, Bogor - Menelusuri musik etnik dan techno tak semudah menemukan riak air di danau yang tenang. Perlu pengetahuan dan olah rasa dengan takaran tertentu untuk memahaminya. Saya bisa saja mengaku menggemari Avicii, David Gueta, Calvin Harris, martin Garrix atau Skrillex disela-sela perjalanan ke kampung Adat Ciptagelar atau ke Baduy di Ciboleger. Bisa juga romantisme karena terdaftar sebagai peserta eskul atau UKM Karawitan. Dan menurut saya itu saja tak cukup.

Saya memang tidak mendalami karinding dan memiliki pengetahuan yang cukup untuk membedakan Beats Per Minute (BPM) dan variasi dari synthesizer juga melodinya. Tapi mendengarkan single ‘Karinding Abuy’ rilisan Kundika Sani sedikit meredakan kekakuan pendengaran, begitu menangkap bebunyian yang ditimbulkan.

Musik instrumentalis dalam berdurasi 6 menit lebih ini seolah mengajak saya mendengarkan cerita getirnya mempertahankan budaya tradisi di era milenial. Sentuhan etnik, rock, fusion dan techno yang dikolaborasikan cukup mudah diterima. Tidak terlalu rumit karena beat yang ditawarkan cukup mudah ditebak arahnya. Mungkin kedekatan aktivitas saya dengan masyarakat adat nusantara pada beberapa kesempatan memudahkan menemu kenali ada karinding, sape dan terbang dan cymbal Bali didalamnya.

Sepintas repertoar ‘Karinding Abuy’ menipu sangkaan awal bahwa ini tak ubahnya Karinding Attack yang sudah marak kolaborasi kemana-mana. Nyatanya ‘Karinding Abuy’ menjadi temuan lain soal musisi lokal Bogor yang berani untuk diri dan berpihak pada garis tradisi, sekaligus mudah ditemukan di souncloud dan amazon music.

Siapa sangka jika ‘Karinding Abuy’ adalah satu dari karya seorang musisi Normandia Sirait yang pada masa-masa penciptaannya mengalami kebuntuan syair dan lirik. Maka ditemukanlah sebuah proyek seni bernama Kundika Sani.

“Keinginan saya adalah mengubah konsep elektronik menjadi analog atau tradisional dan tradisional menjadi digital,” terangnya saat sesi wawancara di RRI Pro 2 FM Bogor.

Karinding Abuy diniatkan sebagai musik instrumentalis yang mentransformasikan syair kedalam bentuk gerakan tarian. Nyaris 90 % semua instrumen yang ada di single ini di buat secara langsung, atau mengambil suara dari apa yang ada di lingkungan. Bukan sekedar EDM yang copy paste.

Misalnya untuk pengganti suara snare, Kundika Sani menggunakan papan poster lusuh sebagai snare elektronik. Sampling yang dibuat dan direkam manual, sekaligus loop dengan menggunakan alat - alat yang tak lazim.

Saya tak heran dengan cara Niko ( sapaan Normandia) berlaku demikian. Mengingat inspirasinya adalah musisi - musisi cerdas seperti krakatau, Blue Man dan Beats Antique. Keberaniannya bersama Kundika Sani menjadikan musik instrumentalis yang diusungnya mampu menerobos berbagai genre.

Single ini direkam di sebuah kamar dari sang penulis yaitu Normandia. Karena butuh masukan dan warna baru, Normandia membawa hasil rekaman untuk di mixing oleh Bonar “Life Cicla “ di Amplop Records. Bonar merupakan musisi yang memasukan unsur traditional dalam karya - karya nya di Life Cicla, di anggap orang yang tepat untuk membuat karya ini lebih baik.

Terus terang, mendengar tambatan nada yang diciptakan Kundika Sani saya nyaris gagal menemukan pembeda antara Kezia dan Normandia. Kuatnya unsur etnik yang disertakan menjadi bukti konsistensi musisi dangan jalur yang diusungnya.

Barangkali yang mencengangkan adalah pertemuan Normandia dengan Rissa Rentua, sang penari yang melengkapi tampilan Kundika Sani. Dikenal juga sebagai penggiat dunia creative digital, kemampuannya menerjemahkan ‘syair’ Normandia menjadikan konsep audio-visual Kundika Sani menjadi mudah dipahami.

Tidak ada komentar