Meski bukan yang pertama, Payung Teduh tetap dianggap sebagai titik awal riuhnya kembali musik folk, jazz yang dipadu dengan keroncong atau pop. Foto : Kanaltigapuluh

Artikel : Rizza Hujan

HujanMusik!, Bogor – Sore itu menuju senja, saya bersama beberapa rekan sedang memainkan lagu “Benci Untuk Mencinta” milik Naif. Tepat di luar gerbang terlihat tiga orang remaja duduk di pos seberang sekolah ditemani gitar dan kopi dalam gelas plastik. Dari kejauhan saya menatap dengan penuh penasaran pada lagu yang mereka mainkan. Begitu “Benci Untuk Mencinta” usai baru sayup terdengar kata-kata dari mulut remaja tadi. Dan ternyata mereka sedang meniru Is menyanyikan “Akad”.

Di malam hari, tepatnya menuju pagi, saya membaca sebuah berita bahwa Mohammad Istiqomah Djamad atau lebih dikenal dengan Is, mundur dari Payung Teduh. Entah kenapa saya tidak terkejut atau menyayangkan keputusan tersebut. Padahal saya belum tahu alasan sebenarnya Is mengambil langkah yang menggemparkan dunia musik folk Indonesia itu. Yang ada di kepala saat itu adalah “Bagaimana jadinya Payung Teduh tanpa Is,?” Bisa bertahankah mereka tanpa sang pendiri?,”.

Resah itu belum terjawab hingga detik ini karena Is dan Payung Teduh masih terikat kontrak untuk merampungkan album ketiga, setidaknya sampai 2018 nanti. Tidak sabar untuk segera terlena dengan karya terbaru mereka. Sementara itu, kepedihan akan perginya Is mulai menggerayangi relung hati.

Meski bukan yang pertama, Payung Teduh tetap dianggap sebagai titik awal riuhnya kembali musik folk, jazz yang dipadu dengan keroncong atau pop. Dan Is bersama Comi adalah orang yang paling bertanggung jawab atas kelahiran Payung Teduh tahun 2007 silam.

Bagi kami, kaum penikmat musik sendu nan sunyi yang berserak di Bogor dan wilayah penyangga Jakarta lainnya, kehadiran Payung Teduh terasa pas dan menyegarkan. Masih membayang penampilan penting mereka di Hotel Royal, jalan Juanda Bogor, Oktober 2012 silam. Masa ketika mereka sedang energik-energiknya menyuarakan karyanya.

Saya perlu meng-amini tulisan Anggitane tentang ‘MerendaFolk di Kota Hujan’. Kalau mau menuduh, Payung Teduh adalah salah satu kelompok yang turut andil membongkar kemunculan musisi folk kekinian. Nuansa folk yang ditawarkan kelompok dari Depok itu banyak memikat penyelenggara acara mendatangkan mereka. Demikian halnya dengan Bogor. Pensi sekolah, acara kampus hingga seremoni mulai menandai mereka sebagai penampil utama.

Perempuan-perempuan yang berada dalam pelukan musik Payung Teduh pasti  merindukan sosok pria berambut keriting itu diantara Azis, Ivan, dan Cito. Mengapa perempuan? Karena lirik-lirik Payung Teduh yang mayoritas ditulis oleh Is berhasil secara nyata meluluhkan banyak kaum hawa. Yaah tidak menutup kemungkinan akan ada banyak juga lelaki yang patah hati akibat perceraian Is dan Payung Teduh.

Payung Teduh dan Is layaknya cerita tentang gunung dan laut. Sangat dekat dengan keindahan, tentu saja dilihat dari karya mereka. Jika Is diibaratkan gunung yang berdiri tegak memayungi pantai, maka Payung Teduh adalah lautan tempat berlayarnya imajinasi Is dalam berkarya. Sekali lagi, gunung dan laut indah sekaligus mematikan untuk yang tidak berhati-hati saat berada ditengahnya. Dugaan saya, ini yang terjadi pada Cito dan kawan-kawan hingga bermuara pada mundurnya sang vokalis.

Biarlah cerita sebenarnya menjadi rahasia berdua antara Is dan Payung Teduh. Saya dan penikmat musik ciamik mereka akan belajar melepaskan sisa-sisa keikhlasan ditinggal Is dan terus menunggu mahar terakhir yang segera diserahkan pada khalayak.

Tidurlah Is, guna merenung dan berkontemplasi. Dan semoga akad akan terucap untuk kedua kali dalam rangka menghalalkan hubunganmu dengan Payung yang kini sedang diterpa derasnya hujan.

(Visited 1 times, 1 visits today)