Terbaru

Musik Sebagai Latar; Kemistri di Balik Panggung dan Layar

Tidak sekedar bumbu penegas suasana, musik juga memiliki keistimewaan yang bisa menambah kemistri dalam sebuah karya film atau teater. Foto: Belakang panggung pertunjukan "Perguruan" produksi Studi Teater Dipokersen, Bogor, Mei 2017.
Artikel & foto: mubabrok

HujanMusik!, Bogor - Dalam salah satu scene di film “Sang Pencerah” (2010), ada sebuah momen ketika Kyai Penghulu Kamaludiningrat (Slamet Rahardjo) disadarkan tentang prasangka buruknya terhadap Ahmad Dahlan (Lukman Sardi). Adegan yang penuh makna itu memperlihatkan sosok Kyai Penghulu menunduk dan menggelengkan kepala sebagai tanda dia sadar akan khilafnya, dengan dilatari bunyi feedback bervolume kecil dan berangsur fade out.

Entah kenapa scene itu sangat berkesan bagi saya. Momen penting yang menjadi penyelesaian konflik dan menjadi titik bagi penonton menuju katarsis, digambarkan secara sederhana baik secara visual maupun suara. Tidak dramatis dan tidak berkesan memojokkan salah satu pihak yang sedang berseteru. Pemilihan bunyi feedback yang dilakukan Tya Subiakto selaku penata musik itu, bagi saya, sangat cerdas dan akurat.

Di film dalam negri lainnya, “Sang Pemimpi” (2009), yang dibuka dengan adegan Seman Said Harun (Mathias Muchus), sang ayah dari tokoh utama, tengah mengayuh sepeda di jalan kecil di pelosok desa yang masih dipenuhi beragam rumput dan pohon, juga memberi kesan istimewa. Suara khas deret sepeda tua mengiringi adegan itu. Disusul tabuhan perkusi tradisional seiring Seman out frame. Sebuah pembuka yang ajaib. Paduan gambar dan musik yang seolah berbisik di telinga, “Bersiaplah menyaksikan cerita yang luar biasa”.

Di ranah teater dan drama, saya masih terkesan dengan lantunan vokal Putri, penata musik dalam pertunjukan “RT Nol RW Nol” dari Studi Teater Dipokersen yang ditampilkan di Kemuning Gading, Bogor, 2014 silam. Melodi vokal yang mengalun sendu di antara suara kendaraan yang lalu lalang, seolah mewakili perih dan diacuhkannya kehidupan orang-orang yang tinggal di kolong jembatan, yang sedang diceritakan dalam pertunjukan itu.

Ada juga lagu pembuka dari Teater Hideung UKM Seni & Budaya Unpak saat mereka mementaskan “Sayang Ada Orang Lain” di helaran “Parade Teater Kampus Bogor”, Mei 2017. Sebuah lagu keroncong melayu dengan nada miring merambat ke telinga dengan asiknya. Menjadi jembatan imajiner yang dengan lembut mengiring benak penonton ke dunia lain, dunia dalam cerita.

Musik, seperti cabang seni lainnya, memang tidak melulu harus berdiri sendiri, bisa juga ditarik sebagai unsur pendukung. Dalam penggarapan baik di film ataupun seni pertunjukan (tari, drama, teater), musik termasuk unsur artistik yang punya peran besar dalam membantu menyampaikan sebuah cerita. Tak jarang, beberapa hasil tata musik itu memiliki dan memberikan nilai lebih tersendiri, seperti yang saya sampaikan di atas.

Dilihat dari fungsi, musik dalam film dan teater tidak sekedar sebagai bumbu penegas suasana. Secara struktur, musik adalah jembatan bagi penonton untuk memasuki dunia dalam cerita dan untuk kembali ke dunia nyata selepas cerita atau pertunjukan itu usai. Sebagai pembuka, musik harus bisa membantu mengalihkan pikiran penonton dari kesibukan dan urusan pribadinya, hingga dia siap menerima karya yang disajikan. Pernah tiba-tiba teralih dari hal-hal di sekeliling dan tercuri perhatian untuk menonton sesuatu karena musiknya bagus? Nah, kurang lebih demikianlah maksud saya.

Memang sulit mengukur seperti apa musik latar yang bagus. Membuatnya pun lumayan tricky. Jika si ilham di kepala sedang ngorok-ngoroknya, maka dibutuhkan usaha yang lebih besar, yang tidak bisa sekedar mengandalkan kemampuan teknis atau kemampuan berimprovisasi semata. Kecerdasan intuitif dan imajinatif tentu dibutuhkan, mengingat sang komposer harus bisa memahami konteks adegan atau cerita yang sedang disampaikan, sebelum kemudian menerjemahkan peristiwa tersebut dalam bentuk susunan bunyi.

Mungkin benar, bahwa tak semua orang bisa menjadi penata musik. Acoy, yang sempat menjadi penata musik di beberapa film seperti “Putih Abu dan Sepatu Skets”, “Akibat Pergaulan Bebas”, “Tarung”, dan dalam pertunjukan drama “Enggak Sopan”, juga menyatakan hal yang sama.

“Kalo bisa scoring (membuat backsound film, -red) udah pasti bisa bikin lagu. Kalo bisa bikin lagu, belum tentu bisa scoring.” Begitu kata gitaris multi talen asal Bogor yang beberapa waktu kemarin baru dikaruniai anak kedua.

Pun di wilayah seni pertunjukan. Dalam beberapa garapan pertunjukan Teater Karoeng FISIB Unpak semasa kuliah dulu, saya sering mengajak beberapa rekan pemusik dari lingkungan kampus. Dan benar saja, sering kali kami kesulitan dalam menerjemahkan si adegan ke dalam alunan nada, meski hanya sebagai latar.

Membuat musik latar sebenarnya tidak jauh berbeda dengan membuat musik instrumental pada umumnya. Dalam musik instrumental, suasana menjadi dasar dalam membuat konsep komposisi. Salah satu yang berbeda adalah, musik latar terikat pada adegan yang dimainkan. Keterikatan itu membuat penata musik harus mengenyampingkan ketukan, jumlah bar, dan patokan lain. Dalam film, hal ini bisa dikatakan lebih mudah karena adegannya sudah terekam dan punya durasi yang pasti. Lain halnya dengan seni pertunjukan yang notabene dimainkan langsung. Patokan-patokan yang disusun selama latihan bisa saja berubah seketika, karena adegan yang terjadi pun tidak selalu mutlak sama, kecuali dalam pertunjukan tari.

Tapi bagi siapa pun yang tertarik dengan aktivitas menerjemahkan rasa ke dalam nada, membuat musik latar akan menjadi hal yang sangat menantang sekaligus menyenangkan. Dan tidak mesti juga orang tersebut punya kemampuan bermusik yang wah, karena rasa lebih penting dalam urusan ini.

Di ranah pertunjukan teater di Bogor, saya melihat ada geliat yang menarik belakangan ini. Jika tahun-tahun sebelumnya para kelompok teater lebih sering menggunakan lagu karya orang lain, kali ini ramai kelompok yang sengaja membuat lagu sendiri sebagai sountrack pertunjukannya. Misalnya dalam 6 pertunjukan di acara “Parade Teater Kampus Bogor”, Mei 2017 kemarin, banyak tercipta lagu yang layak untuk didengar dan dinikmati.

Mungkin akan sangat seru jika para penata musik di kelompok teater Bogor merekam dan memublikasikan  lagu-lagu yang pernah menjadi soundtrack pertunjukannya. Siapa tahu, dari situ akan muncul skena musik tersendiri di ranah teater yang bisa ikut memeriahkan gemericik musik di Bogor.

Aih... saya jadi tidak sabar untuk menyaksikan bagaimana pertunjukan yang akan berlangsung dalam “Festival Drama Juang”, sebuah festival tahunan tingkat SMA/sederajat di Bogor, yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini. Bisa jadi, akan ada kejutan lainnya.

Tidak ada komentar