Terbaru

Tentang Musik, Politik, dan Pemikiran Ari Ernesto


Musik seharusnya menjadi alternatif perlawanan ketidaksewenangan dan ketidakadilan. Iwan Fals, Doel Sumbang, Harry Roesli, hingga The Jakasembung pernah dianggap sebagai penyambung lidah masyarakat.
Artikel & Foto : Rizza Hujan

HujanMusik!, Bogor - Ari Ernesto dari Harks! It's a Crawling Tar-Tar pernah berkata "Senjata paling ampuh yang digunakan para penindas adalah pola pikir orang yang ditindasnya". Quote yang sangat cerdas dan tepat untuk menggambarkan situasi Indonesia beberapa waktu ke belakang.

Sejak sebelum digelarnya pemilihan presiden tahun 2014 lalu, situasi di Indonesia terasa sangat tegang. Alih-alih mereda, tiga tahun setelah pesta demokrasi terbesar itu selesai, kondisi masyarakat malah bertambah panas. Hal ini terjadi karena politik menjadi raja.

Pernah dalam satu kesempatan, saya mendengar percakapan anak-anak SD membahas calon presiden yang akan maju saat itu. Saya tidak habis pikir kenapa jadi seperti ini. Jaman saya SD, politik tidak pernah mendapat tempat dalam diri saya dan teman-teman. Waktu kami dihabiskan untuk bermain, belajar, bercanda.

Saya tidak anti politik, malah saya pernah terseret-seret ke dalam jurang politik hanya karena sebagai salah satu anak desa yang berhasrat berbuat sesuatu untuk kampung halaman. Buat saya, itu pengalaman memuakkan.

Politik, hingga saat ini, masih menguasai pola pikir kebanyakan orang. Sampai beberapa musisi menunjukkan keberpihakkannya pada salah satu kubu yang sedang bersaing. Lagi-lagi saya muak.

Saya tidak mempunyai hak mendikte seseorang untuk melakukan atau tidak melakukan apa yang mereka mau. Hanya saja, saya berharap masing-masing bidang seperti politik berdiri sendiri dan tidak menarik yang bukan bagian dari mereka. Biarlah musik menjalankan fungsinya sebagai media controling sosial politik. Bebaskan komunitas-komunitas menjalankan kesenangan mereka masing-masing. Tidak menenggelamkan atau ditenggelamkan ke dunia politik praktis.

Musik seharusnya menjadi alternatif perlawanan ketidaksewenangan dan ketidakadilan. Iwan Fals, Doel Sumbang, Harry Roesli, hingga The Jakasembung pernah dianggap sebagai penyambung lidah masyarakat. Mewakili orang-orang tertindas untuk menyuarakan sakit mereka. Kata dijadikan senjata, menghantam mereka para penguasa. Manifesto politik musisi baiknya seperti itu, tajam tetapi tetap berada di luar lingkaran.

Buat saya, lagu The Jakasembung "Sutiyoso" atau "Sudah Tidak Yoi di Sokin" adalah sebuah sindiran pada rezim yang terlalu lama berkuasa. "War", karya band lawas Defence Mind adalah bentuk ketidaksetujuan mereka pada konflik atau perang. Pun dengan "Palkon" dari Jeans Roek, merupakan karya sarat kritik untuk pejabat yang terlalu banyak bicara tapi tidak ada aksinya.

Sejatinya, itulah peran musik selain menghibur dan sebagai media menuangkan idealisme. Memang, sesuai dengan pendapat Schafer bahwa musik adalah bahasa universal. Makanya sebuah karya bisa dan sah-sah saja digunakan sebagai media kampanye atau promosi. Malah ada band yang lahir dari sebuah pergerakan NGO, Navicula contohnya.

Khusus untuk skena musik Bogor, ada Akar Bambu yang giat menyuarakan isu lingkungan dan pergerakan para aktivis. Tidak aneh, karena kabarnya mereka pun lahir dari lingkaran tersebut. Ada juga Recycle, band bentukan sebuah perkumpulan Bank Sampah. Lagu-lagu Akar Bambu dan Recycle  kebanyakan mengangkat tema tentang sawah, sungai, sampah, petani, atau hubungan manusia dengan alam.

Dari kacamata awam saya, tidak masalah jika sebuah band mengikatkan diri pada sebuah pergerakan, dengan catatan non politis. Bukan apa-apa, biasanya seorang musisi atau sebuah unit musik terjun ke dunia politik praktis, maka idealisme yang selama karirnya selalu digembar-gemborkan luruh seketika dan hal ini mempunyai efek domino di kalangan penggemarnya.

Benar kata Ari Ernesto, mantan vokalis band asal Bandung yang sekarang menetap di Belanda, saat ini banyak orang yang secara tidak sadar tertindas dari sisi kebebasan dan pola berpikir. Dan Ari menambahkan "Ada yang lebih bahaya dari tsunami, yaitu neo liberalisme". 

Tidak ada komentar