Terbaru

Payung Teduh Diantara Kemajuan Teknologi dan Nyanyian Dari Desa

Single terbaru Payung Teduh yang berjudul "Akad" tercatat memiliki 18 juta penonton di video klip resminya. Foto : @sujoko.sjk/Ig @saksakame
Artikel: Rizza Hujan

HujanMusik!, Bogor - Hampir dua minggu ini rutinitas mengisi konten HujanMusik! terkalahkan oleh kegiatan di sekolah yang menjadi tempat pelarian ego saya selama sebulan terakhir. Mendidik saya jadikan sebagai salah satu penyeimbang rasa dan logika agar saya tidak melupakan jati diri sebagai manusia.

Awalnya saya pikir anak-anak sekolah di desa tidak akan begitu peduli dengan hingar bingar dunia musik. Tapi ternyata salah besar, murid-murid saya lebih up to date soal trending topik atau musik kekinian dibanding gurunya. Obrolan tentang Dilan yang sebenarnya Pidi Baiq nyaris setiap saat terdengar dari gazebo tempat mereka berkumpul. Pun lantunan lirik lagu "Budak Baheula" The Panasdalam atau koor nyanyian "Akad" milik Payung Teduh sering menghiasi ruang kelas mungil tempat mereka menimba ilmu.

Bicara Payung Teduh yang saya kenal karyanya sejak enam tahun lalu, maka tidak akan jauh dari suasana syahdu dan romantis. Lirik-lirik mereka selalu identik dengan penggunaan diksi dan bahasa puitis yang bisa menghanyutkan pikiran serta perasaan pendengarnya.

"Band yang membunuh," komentar Ari Lasso tentang band yang digawangi oleh Is, Azis, Ivan, dan Cito.

Single terbaru Payung Teduh yang berjudul "Akad" itu emang fenomenal. 18 juta penonton video klip resminya merupakan bukti nyata yang tidak bisa dibantah. Belum lagi inisiatif dari penggemar Payung Teduh untuk membawakan ulang "Akad" dengan cara mereka sendiri menambah bumbu kegegeran.

Namun, dibalik semua keriuhan yang menggiurkan itu. Ada ketidaknyamanan yang dirasakan para personil Payung Teduh. Hal ini disebabkan oleh para peng-cover lagu mereka banyak yang tidak kulonowon atau meminta izin terlebih dahulu.

Menyikapi hal ini, Muhammad Istiqamah Djamad atau Is sang vokalis pun akhirnya buka suara. Melalui akun Instagram pribadinya, Is mengunggah sebuah video yang berisi pernyataan bahwa dia dan timnya akan mengambil tindakan pada orang-orang yang meraup keuntungan dari hasil meng-cover secara ilegal lagu "Akad".

Saya penasaran lalu membuka youtube kemudian memasukkan keyword 'akad payung teduh'. Dan ternyata memang banyak sekali coveran lagu ini. Mulai dari yang biasa hingga versi dangdut koplo pun ada. Luar biasa! Yang paling mengejutkan adalah sebuah video yang diunggah oleh akun Hanin Dhiya. Cover lagu "Akad" yang dibawakan sendiri oleh sang pemilik akunnya itu memiliki jumlah viewers sebanyak 28 juta. Jauh lebih banyak dari si pemilik lagu aslinya. Dan biasanya, semakin banyak yang mengulas maka jumlah puluhan juta itu akan terus menanjak.

Youtube sendiri memang mengeluarkan kebijakan jika sebuah video yang diunggah ke youtube mencapai 100 ribu kali pemutaran, maka si pemilik akun tersebut akan mendapatkan 100 US$. Bayangkan berapa rupiah yang didapatkan Hanin dengan jumlah viewers yang 28 juta itu. Dan inilah yang membuat Is dan kawan-kawannya di Payung Teduh mengambil langkah tegas.

"Terima kasih buat semua apresiasi teman-teman terhadap lagu Akad. Namun tolong lebih bijak lagi ya. Yang setuju monggo. Bantu regrann," tulis Is Payung Teduh dalam akun @pusakata.

Keadaan ini diperkeruh dengan adanya orang yang membawakan lagu "Akad" dalam acara resmi bahkan sampai ada yang memproduksi dan menjualnya melalui platform digital tanpa seizin Payung Teduh dan manajemen.

"Assalamualaikum semua teman-temanku, saudaraku. Mau menyampaikan, ya sebenarnya saya berusaha menahan diri bersama teman-teman dari Payung Teduh dan manajemen untuk tidak membuat video sejenis ini," ucap Is membuka videonya.

"Tapi melihat betapa brutalnya aktivitas digital terhadap lagu Akad, -terima kasih buat penyambutan lagu Akad, buat apresiasi kalian-, tapi ada yang sudah produksi, sudah rekaman, sudah jualan di Spotify, di iTunes- tanpa seizin kami, lalu perform di TV tanpa seizin kami, enggak apa-apa, cuma ya izin saja. Namun ketika sudah lebih jauh, ya mohon maaf kami harus bersikap,"  tegas Is.

Memang, hal seperti ini menjadi sebuah tantangan tersendiri untuk para musisi. Efek kemajuan teknologi sangat masif dan menghantam semua sisi. Lebih jauh lagi, di sinilah rasa peduli dan menghargai seorang manusia diuji, apakah akan mengikuti tren lalu meraup keuntungan secara ilegal atau menjadi seseorang yang patuh pada adab ketimuran dan etika kehidupan. Klise, tapi nyatanya sulit dilakukan.

"Jadi saya himbaukan ke teman-teman yang belum bertindak, kayak di Youtube sudah banyak banget yang sudah meraup keuntungan, mungkin biar kami tertibkan saja sih. Mohon dibantu apresiasi kami biar lebih bijak lagi. Bagi yang sudah kadung berproduksi, tunggu kami, kami hampiri. Oke?" tutupnya.

Semoga polemik ini segera reda seiring langkah yang diambil pihak Payung Teduh. Tentu, kesadaran dari penikmat pun akan sangat berarti. Bukankah mengagumi itu bisa dilakukan tanpa mendobrak aturan atau norma? Dan cara paling sederhana adalah dengan mendendangkan karya musisi-musisi itu seperti yang dilakukan para siswa satu SMK yang berada diantara sawah dan kebun sebuah desa. Walau masih jauh dari kata merdu, namun mereka sangat menikmatinya tanpa perlu melanggar etika.

Tidak ada komentar