Terbaru

Iwan Fals, Tentang Dedikasi Konser Situs Budaya Papua

Iwan Fals & Band berhasil mengkomunikasikan identitas tema konser dengan baik. Memadukan tampilan setting panggung dengan kostum, seperti bercerita tentang dedikasi konser untuk Papua, tanpa memaksakan diri menjadi orang Papua.

Artikel dan Foto : Anggitane

HujanMusik!, Leuwinanggung - Sabtu, 16 November 2017, saya akan mencatatnya baik-baik dan menyimpan apapun yang berkaitan dengan memori hari itu. Barangkali saya termasuk orang yang beruntung dikasihi sang pemberi takdir, apa yang saya impikan seperti menemukan kenyataan. Hari itu saya berkesempatan meyaksikan panggung sang legenda Iwan Fals, langsung dari markas besarnya di Leuwinanggung, Depok, Jawa Barat. Rasanya semua kemungkinan nyaris pupus tanpa campur tangan Sandrayati Fay dan keluarganya. Bagaimana bisa? Ya bisa saja, pasalnya kemewahan menyaksikan aksi sang legenda, saya dapatkan dari tiket undangan yang mereka miliki, kegagalan mereka hadir di tenda VIP ‘Panggung Kita’ karena berada di luar Indonesia, seperti berkah buat saya.

Hasrat berjumpa sang legenda seperti melebihi keinginan apapun hari itu, termasuk melewatkan makan siang di kondangan dan berjumpa artis kekinian di acara ‘Smandafest’. Memilih membelah kerumitan dan kemacetan Bogor-Leuwinanggung via Cibinong-Tapos.

Leuwinanggung memang bukan nama asing di telinga saya, meski lokasi persisnya tak mudah dibayangkan. Beruntung, sepanjang perjalanan saya tidak perlu banyak tanya, cukup mengikuti pergerakan orang-orang ber-atribut ‘OI’  (Orang Indonesia) maupun gambar diri wajah sang legenda. Maka sampailah saya di lokasi ‘Panggung Kita’.

Saya mengawalinya dengan singgah di Kafe Rambu, bukan apa-apa, ini semata karena saya menunggu tiket yang akan dihantarkan seseorang bernama Arda. Tak tahu persis apa dan bagaimana Sandrayati mengkomunikasikan kehadiran saya kepada orang Tiga Rambu ini, singkatnya saya mendapat kemewahan menyaksikan konser Situs Budaya Papua-Asmat dari tenda VIP.

Sejenak mengernyitkan dahi saat membaca judul konser Iwan Fals kali ini. Bukan judulnya yang salah, tetapi saya-nya yang ternyata kurang update. "Konser Situs Budaya" yang dihelat di Panggung Kita rupanya sudah memasuki edisi ke-6 sejak digelar pertama, April 2016. Tema budaya Papua - Asmat terpilih sebagai sarana pembelajaran. Belajar bagaimana Papua yang diwakili suku Asmat, merasa dirinya bagian dari alam raya. Mereka sedemikian menghormati dan menjaga alam sekitar dengan tulus, bahkan pohon di sekitar tempat hidup mereka dianggap sebagai gambaran diri. Batang pohon menggambarkan tangan, buah menggambarkan kepala, dan akar menggambarkan kaki mereka. 


Iwan Fals & Band saya anggap cukup berhasil mengkomunikasikan identitas tema konser dengan baik. Memadukan tampilan setting panggung dengan kostum apa adanya tanpa paksaan. Seperti bercerita tentang dedikasi konser untuk Papua, tanpa memaksakan diri menjadi orang Papua. Memberi makna hiburan dan pendidikan yang mewujud menjadi kumpulan energi yang direspon positif penonontonnya.

Saya cukup terkejut manakala Iwan Fals membuka konsernya dengan membawakan "Pramuria". Bagi yang awam seperti saya, sudah barang tentu akan menerka bahwa ini tidak ada korelasinya. Padahal Iwan Fals tengah berusaha membawa kita memasuki Papua. Pramuria adalah lagu yang dibawakan kali pertama kali oleh Black Brother, band Irian Jaya [nama Papua kala itu] saat hijrah ke Jakarta tahun 1970-an.

Lagi-lagi saya merasa beruntung bisa merasakan getaran gelombang suara crowd sepanjang pertunjukan. Beberapa lagu yang saya ingat dibawakan Iwan Fals & Band adalah "Aku Menyayangimu", "Cendrawasih", "Sumbang", "Aku Ada", "Lancar", "Kereta Tua" dan beberapa lagu yang saya tak yakin ingat judulnya. Ah…penulis musik macam apa saya ini, lagu sang legenda saja tak hafal…maaf, barangkali ini dampak kekaguman aksi panggung Iwan Fals yang selalu direspon penonton menjadi nyanyian bersama.

Khusus "Cendrawasih", saya tak bisa menyembunyikan keharuan batin. Repertoar yang diambil dari album "Cikal" ini memang indah dan sarat pesan tajam. Benak saya langsung terbayang saat mengunjungi tanah Papua beberapa tahun silam. Tentang alam dan manusianya yang tertekan karena urusan penguasaan sumber daya alam. Bisa jadi Iwan Fals tengah menempatkan satu pesan penting bahwa Papua adalah kita.

Sayap sayap cinta bagaikan cendrawasih
Kabarkan berita duka alam raya
Hati bumi luka anak durhaka
Terjungkal merintih menghiba

Di bibir tebing kelam tinggi
Lirih terdengar angin berdoa

Gairah harum lembut kebebasannya
Laksana aroma bunga hutan

Tercium dari puncak gunung
Gemetar sadar terancam


Kejutan lain yang tak saya ketahui adalah ketika sayup-sayup mendengar suara biduanita yang tak asing di kancah musik nasional, ia bernyanyi mengimbangi Iwan Fals melantunkan "Yamko Rambe Yamko", lagu yang saya kenali berasal dari tanah Papua. Tak hanya saya, penonton pun juga dibuat celingak-celinguk penasaran, hingga akhirnya Tantri, Chua dan Cella muncul dari belakang panggung. Selanjutnya trio yang dikenal sebagai Kotak itu pun berkolaborasi dengan sang legenda dan membawakan "Balada Orang Pedalaman", "Awang-Awang" dan "Beraksi".

Kolaborasi tak hanya sampai di situ, Iwan Fals & Band semakin menghentak memacu semangat dengan kolaborasi bersama seniman tradisi Papua. Mereka membawakan "Mama Papua", "Sajojo", "Mereka Ada Di Jalan" dan "Tikus Kantor". 

Menjelang maghrib Iwan Fals & Band harus segera menyudahi penampilannya. "Katanya", "Di Bawah Tiang Bendera" dan "Hari Kiamat" dibawakan sebagai penghantar pungkasan konser hari itu.

Saya tak henti-hentinya mendebat keberuntungan hari ini, sebab esok belum tahu apakah bisa bersua sang legenda di konsernya, mengingat "Konser Situs Budaya" akan berlanjut di luar Leuwinanggung.

“Sampai Ketemu bulan depan di Situs Budaya selanjutnya, Jawa Timur,” Tutupnya.

Kini saya percaya, Konser Situs Budaya di Panggung Kita memang bukan sebuah citra yang dipaksakan demi menarik minat penonton untuk hadir. Ini konser kejujuran dan berbagi pemahamam budaya nusantara melalui karya-karya seorang Iwan Fals.

Tidak ada komentar