Terbaru

Catatan Nyasar tentang Bali Reggae Star Festival 2017

Aksi panggung seorang Ncunk pada Bali Reggae Star Festival 2017 bersama Kalua. Sebelumnya dia dikenal sebagai gitaris unit ska-reggae Bogor, Cocktails. Foto : Suryana Ramadhan

Artikel : Suryana ‘Ncunk’ Ramadhan

HujanMusik, Bali - Senin (11/9) pagi itu suasana hati saya sesungguhnya sedang kacau, padahal tidak ada balon lima biji. Namun kabar dari ‘abang’ soal acara di Bali benar-benar mengganggu ketentraman saya yang tengah menikmati bulan September dari sudut studio musik di kawasan Gunung Batu, Bogor. Sialnya ini kabar dan ajakan yang susah saya tolak. Bayangkan, sekian tahun berkutat bersama komunitas Jamaican Sound di Bogor, tak terbesit sekalipun bisa pergi ke tanah Bali karena musik yang kami jalani. Yah…ajakan berjumpa dan membantu Kalua mau tak mau saya sanggupi, meski harus berangkat malam itu juga.

Bali Reggae Star Festival adalah semacam acara charity (amal -red) yang dibuat oleh sekelompok musisi dan relawan yang selama ini bergiat untuk lingkungan. Tahun ini festival ini sudah memasuki tahun ketiga dan diadakan di Pantai Mertasari, Sanur, Bali, 16 & 17 September 2017. Festival ini digelar untuk menunjukkan kepedulian penggemar reggae terhadap kebersihan lingkungan dan sosial. Konkritnya hasil dari acara ini didedikasikan untuk pembuatan tempat sampah di sekitar wilayah Sanur.

Selama bersama Cocktails, saya memang sudah mencicipi panggung di sekitaran Bogor, Jakarta, Bandung, Jepara, Solo dan Jogja. Kehadiran di Bali tetap saja membawa kesan mendalam. Saya merasa sangat bangga dan senang mendapat kesempatan berada di panggung besar dengan tema acara yang saya suka. Sekali lagi terimakasih Kalua yang telah menimpakan kesempatan ini.

Satu panggung dengan musisi seperti Tony Q, Steven Jam, Shaggydog, Jhoni Agung dan Denny Frust sempat membuat saya canggung. Apalagi Afro Moses dari Australia juga turut ambil bagian…ahh segan lah pokoknya.

Apalagi apalah saya ini, hanya pemain gitar awam dari kelompok ska-reggae Bogor yang tidak jelas kami ini band apa bukan…ahahahaha. Namun kepercayaan bang Lukas dan teman-teman Kalua sudah barang tentu tidak akan saya sia-siakan. Usaha mereka meyakinkan saya untuk berangkat ketika saya ragu, antara iya dan tidak. Hingga akhirnya momen ini harus saya ambil, memilih pergi menuju Bali dan sekalian jalan.

Di Bali saya mendapat pelajaran penting dan terkesan dengan interaksi musisi yang terlibat. Mereka saling bertukar informasi dan berbagi cerita tentang perkembangan musik di tiap daerahnya masing-masing. Saya beruntung selama ini berada di lingkungan yang membuat saya dewasa soal skena ska-reggae di BJMC. Setidaknya di Bali ada cerita yang bisa saya bagi bahwa Bogor juga memiliki sekelumit cerita soal Jamaican Sound.

Saya semakin yakin bahwa Jamaican ini menjadi barometer dan ajang aktivitas positif dalam setiap pergerakannya. Kemudian saya membayangkan acara ini akan reguler dilaksanakan, tidak hanya di Bali. Semoga isu lingkungan bisa dekat dengan genre apapun di tiap daerah dan event dengan dedikasi gerakan seperti di Sanur. Tak hanya gelaran event untuk menangguk keuntungan semata.

Sesungguhnya agak sedikit malu melihat gerakan nyata musisi di Bali. Kami di Bogor baru sebatas ajakan persuasif dari panggung ke panggung. Sementara di sini sudah aksi positif. Hmmm jadi teringat dua sekondan saya di Cocktails yang aktif di Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) Bogor. Baiklah, sepulang dari sini saya akan ikut nyemplung dan mulung sampah bersama kalian.

Tidak ada komentar