Terbaru

Siap-Siap, Superiots Punya Senjata Baru

Superiots. Foto oleh Husni Mubabrok


HujanMusik!, Bogor - Dengan sangat berhasil, Mahatma Gandhi telah membuktikan bahwa ada banyak cara untuk melawan penindasan selain dengan kekerasan. Dan sungguh mengejutkan melihat bagaimana keteguhannya itu mampu membuat gemas Kerajaan Inggris hingga mereka tepok jidat dan angkat kaki dari India.

Di Indonesia, kita punya seorang pemuda bernama Wiji Tukul, penyair yang tak gentar melawan rezim pra-reformasi dengan puisi-puisinya. Hampir 20 tahun sejak dia menghilang pada 1998 lalu, tapi karyanya masih mengilhami banyak orang untuk tetap berani melawan ketidakadilan.

Ide dan pemikiran memang terbukti memiliki kekuatan untuk mengubah. Dan penyampaiannya bisa melalui media apa saja, sesuai selera dan kemampuan kita. Di wilayah musik misalnya, menyampaikan gagasan atau wacana dalam karya adalah tradisi yang tetap ada dan memang harus dipertahankan.

Punk rock adalah salah satu di antara beragam skena yang tetap gencar mengingatkan kita akan isu sosial-budaya-politik. Semangat yang tidak muncul berdasar amarah masa muda semata, dan bukan sekedar asal bunyi asal copas seperti yang banyak dilakukan clicking monkeys belakangan ini.

Ini adalah sisi lain dari kultur yang berkembang di skena underground. Slogan-slogan seperti “Diam ditindas atau bangkit melawan”, “Stand strong stand proud”, “D.I.Y (Do it yourself)”, “Support your local bands”, lazim ditemukan baik di zine, emblem, juga di lirik lagu.

Dalam beberapa hal, semangat itu memang berubah seiring perkembangan peradaban. Punk rock kini tidak lagi ‘sekeras’ dulu, misalnya dalam hal anti kemapanan, baik di sisi musikalitas ataupun ekonomi. Tapi bukan berarti mereka menjadi lunak. Peradaban yang berbeda menghasilkan konflik yang berbeda, dan solusinya pun berbeda. Dan memahami sumber konflik itu sangat penting untuk bisa mendapatkan solusi, begitu yang dikatakan Bonet, vokalis sekaligus gitaris dan songwriter Superiots.

Hmm… niatnya saya mau membuat tulisan pembuka untuk mewartakan album keenam Superiots bertajuk “Senjata Baru”, tapi malah keenakan nulis. Maaf bila terlalu panjang dan melebar. Mungkin karena saya terlalu antusias atau baper mendengar kisah masing-masing personelnya saat saya mampir ke Fakehero Recording Studio Senin malam (21/08/17).

Kebetulan Superiots baru selesai menggarap scene untuk video klip “Senjata Baru”. Wajah-wajah lelah pun menyambut saya yang datang hampir tengah malam. Mulai dari Bonet (vocal, gitar) yang senderan-selonjoran setengah lemas sambil gigitaran, Kidoy / Doyo (drum) yang matanya naik turun seperti listrik sedang spaneng, sedangkan Bime dan Epang sibuk keluar masuk studio sambil nyicil mengedit footage yang tadi mereka rekam.

Tapi terima kasih. Meskipun lelah, mereka tetap menyambut saya dengan hangat dan antusias, sehangat kopi hitam yang menyusul di tengah-tengah percakapan kami.

Selain empat punggawa Superiots itu, ada juga Krisna, seorang KawanRiots (panggilan untuk para penggemar Superiots) asal Malang yang kebetulan sedang mampir. Sedangkan saya datang ditemani keponakan yang awalnya tidak percaya malam itu akan menemui Superiots.

Di album keenam ini, Superiots mengemas 14 lagu dalam Boxet Package (CD album, kaos, poster, emblem dan stiker) yang sudah bisa dipesan melalui akun resmi Superiots baik di facebook dan instagram. Dua nomor lagu dalam album ini, yaitu “Harapan Tak Kan Mati Di Sini” dan “Lepas Kendali”, sudah bisa KawanHujan simak video klipnya di kanal YouTube Superiots.

Ketika ditanya tentang materi, Bonet menjawab “Materi sih sama aja, masih tetap dengan warna Superiots. Mungkin, yang rada beda adalah di album ini kita punya dua lagu akustik, tapi tetep punk.”

Lalu kenapa albumnya diberi judul “Senjata Baru”?

Bonet memberi dua alasan. Pertama, ini adalah kali pertama Superiots menggarap album dengan personil penuh. Di lima album sebelumnya, Superiots sering melibatkan musisi lain untuk mengisi kekosongan itu. Baru kali ini lah mereka punya formasi utuh.

Untuk alasan kedua, mari kita simak penggalan lirik lagu “Senjata baru”:

ketika lagu dianggap senjata baru // kami kirimkan ribuan lagu untukmu //  tentang semangat keringat dalam diriku // melangkah maju melesat bagai peluru

Lirik yang sangat kuat dan mampu membakar semangat memberontak dalam diri pendengarnya. Mendengarkan lagu itu membuat saya teringat lagu-lagu seperti “Lawan”-nya Jeruji atau “Beat The Bastads”-nya The Exploited. Bedanya, dalam “Senjata Baru”, Superiots ingin memasyarakatkan cara melawan yang lebih positif, karena musuh yang kita miliki sekarang pun memang berbeda dengan era sebelumnya.

Tawaran senjata baru dari Superiots ini memang bukan gagasan baru, tapi harus terus disampaikan dengan semangat baru yang sesuai dengan peradaban yang berkembang di masyarakatnya.

Dalam menjalani kehidupan bermasyarakat misalnya. Tak perlu mudah tersulut isu yang tidak jelas. Tak perlu juga membakar amarah dan menyiapkan bogem ketika ada konflik dalam kehidupan sehari-hari, atau mencoba memperkeruh suasana dengan menulis status-status yang kekanak-kanakan.

Wacana ini juga mengingatkan saya pada pergerakan dan perjuangan beberapa komunitas dan/atau band punk sebagai respon atas kondisi dan peristiwa di lingkungannya. Misalnya Marjinal yang setia membuka ruang-ruang kreatif, atau Superman Is Dead yang gencar dalam menolak reklamasi Teluk Benoa, Bali. Musik adalah media utama mereka dalam menyampaikan gagasannya dan mengajak orang lain untuk ikut serta perduli.

Saya rasa yang demikian itu memang lebih indah. Bahwa dalam kemajemukan masyarakat kita, baik secara agama, ideologi, status sosial, apapun, kita harus sama-sama menjaga keselarasan. Jika pun ada isu atau konflik yang muncul, kita bisa melawannya dengan beragam cara, tak harus dengan senjata. "Bisa dengan lagu, gambar, kata-kata, apa saja," begitu kata Bonet.


Tidak ada komentar